Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Widget Atas Posting

38+ Puisi Cinta Religi Romantis dan Menyentuh Hati


Puisi cinta - Puisi cinta adalah salah satu dari sekian puisi yang selalu mencari pencarian teratas dari puisi-puisi yang lain, mungkin karena memang puisi cinta bisa membuat hati kita bergetar merasakan apa yang dirasakan oleh si pembuat puisi tersebut.

Puisi cinta juga dapat kita bacakan kepada kekasih kita, sahabat kita, atau orang tua kita bahkan orang terdekat kita yang kita sayangi agar lebih dekat dan tak terpisahkan.

Puisi Cinta

Puisi cinta yang dapat menjadi moodbooster kita disaat sedang jatuh cinta, puisi cinta yang romantis dan menggugah hati siapapun yang membacanya, berikut dibawah ini puisi cinta romantis :


Puisi Cinta - Cinta

Cinta itu imajinasi…
Sekedar hayalan tingkat tinggi
Cinta itu privasi…
Sebatas rahasia hati
Cinta itu inspirasi…
Wahyu yang tak terilhami
Cinta itu tendensi…
Inklinasi kecondongan naluri
Cinta itu motivasi…
Dorongan diri untuk ereksi
Cinta itu ilusi…
Sebatas kemayaan tak terjamahi
Cinta itu reinkarnasi…
Akan lahir dan menjelma kembali
Cinta itu seleksi…
Pilihan yang sulit dimiliki
Cinta itu destruksi…
Ketika rakus kerusakan merasuki

Cinta itu indah
Indah diucapkan
Indah dituliskan
Indah dilagukan
Indah dirasakan
Indah dibayangkan
Indah dikenang
Namun sulit diungkapkan
Mulut seakan terkunci
Mata tertunduk malu
Tangan tak mampu melambai
Bagaikan bayi balajar bicara dan
melangkah
Terbata dan tertatih
Tak seorangpun yang tau
Bagaimana jurus hingga ia mampu

Semua terlupakan
Semua tak lagi disadari
Keindahannya sulit terungkap
Selalu tersimpan
Kadang terpendam
Kadang menghasilkan dendam
Kadang pula membenci diri sendiri
Yang pintar dalam kebodohan
Dan terlalu cacat dalam kebisuan
Sadar dimaki oleh diri sendiri

Cinta itu rasa
Yang slalu ingin dirasa
Hadir di dalam dada
Tak tau kapan dan mengapa
Tiada kompromi oleh panca indra
Yang sakit di dalam dada
Denganya hati berbunga
Olehnya bisa terluka
Indrapun tak bertanggungjawab Karena
itulah rasa

Hadir tanpa diundang
Disadari ketika terjatuh
Semakin dirasakan ketika jauh
Dan kecewa ketika kehilangan
Dengan cinta kita mencintai
Tanpa cinta tetap dicinta
Bagaikan ilham yang tak tersabdakan
Dan Gharizah yang terabaikan
Sebagai cinta yang hakiki

Cinta itu bibit
Selalu tumbuh dan berkembang
Berbagi dalam kebutuhan
Tetap statis dalam kestabilan
Tak kan pernah mengalami inflasi
Tak ‘kan mudah luntur
Bertahan dan terus bertahan
Meski hati dirundung duka
Meski wajah terbelut mendung
Namun cinta tetaplah cinta
Darinya melahirkan berjuta cinta
Dengannya belajar mencinta
Berbagi cinta penuh cinta
Dari orang yang dicinta
Yang telah mengajarkan cinta
Mengorbankan rasa dan raga
Meneteskan air mata

Demi cinta yang lebih dicinta
Sebagai abdi anak bangsa
Mau ataupun terpaksa
Meski cita itu tak tercipta
Rasa itu ‘kan terus terbina
Abadi di alam nyata dan maya
Hingga ajalpun tiba
Raib bersama masa
Karna cinta hanyalah masa
Masa dimana ada suka

Masa dimana ada bahagia
Masa dimana ada luka dan duka
Masa dimana rasa itu terbina
Masa dimana masalah itu tercipta
Masa dan masa-masa yang lain
Hingga keyakinan itu ada
Masa itu ‘kan tiba
Dalam saat yang berbeda
Dimana ‘kan kembali bersua


Puisi Cinta - Sepucuk Surat Untukmu

Bersamamu segalanya menjadi indah
Menerawang tinggi di atas ubun-ubun
Memetik bintang pandangi indah
rembulan
Menanti datangnya mentari
Kokok ayam umumkan pagi
Merah bibir langit tersungging manis
Mulaikan mimpi dalam mencari
Keindahan abadi adalah cita
Kudapatkan dalam cintamu yang suci
Bersamamu bergandengan tangan
Naiki tangga nada kehidupan
Sebelum lagu terdengar sumbang
Rekaman takdir bukanlah kunci
Yang menciutkan minat di kala sunyi
Niat di hati adalah pintu
Yang dapat dibuka jika ada kemauan
Semua telah terpampang rapih di depan
mata
Mengapa menghindar sebelum
mencoba
Jika cobaan masih dapat dihindari
Mengapa harus lari dari kenyataan
Jika kenyataan sendiri tak pernah
bergerak dan berlari
Pintu belakang selalu terbuka
Jendela pun belum pasti terkunci
Karena Lamabang restu dan sayang
selalu ada
Berkalungkan emas di dalam dada
Bermatakan satu kata kepastian
Yakinkan arah dalam meraih
Kuyakin cintamu tak akan pernah basi
Kecanduan akan cintamu adalah obat
penawar sedih

Yang selalu datang mengintip
Berkunjung tanpa undangan tawakan
kesendirianku
Kebijakan sadarkan besar arti
kesendirian
Kutemukan padanya rasa kehilangan
Sadar siapa aku untukmu
Penting artimu bagiku
Sedetikpun tak pernah terlintas
Jauhmu akan lebih mendekatkan hati
Tersiksa oleh bayang-bayang kelabu
Goncangkan hari hingga tak menentu
Tanpamu hidup hanyalah kematian
tanpa pemakaman
Tanpamu aku hanyalah bayi atau banci
Aku butuh dirimu dan cintamu
Di sisiku selalu bersama
Coz I do Love U Hon…..


Puisi Cinta - Perjalanan tak sia-sia

Aku ada karena cinta dibesarkan
dengan penuh cinta
Tuk menyingkap kelambu hati
Merabanya dan coba memeluknya
Cinta datang tanpa mengetuk
Pergi meningglakan berjuta kutukan
Berlabuh menumpahkan rasa
Berlayar serasa tak pernah merasa
Biarkan angin tunjukan arah
Terdampar temukan rasa

Cinta membuatku bangun dalam
kebingungan
Sadar dalam kealpaan diri sesaat
Bergetar tanpa sebab meninggalkan
bekas

Lupa akan tapak dimana kaki berpijak
Seakan melayang tak pernah mendarat
Cinta membuatku basah bermandikan
keringat
Peluh hanyalah keluhan berirama
Hampir bersandalkan darah dalam
pengejaran
Tak peduli duri dan beling mensayat
Dapatkan sayap terbangkan angan
Tubuh-tubuh tergolek di sisi

Kemulusan hanyalah pameran
lokomotif
Nampakkan noda dan panu yang
menghias
Butakan mata dalam kedipan tak
berkedip
Semua hanyalah topeng kesenangan
Lambang ketidak puasan
Semakin jauh ku menggapai cinta
Semakin dekat tembok pemisah
Parau suara lolongkan cinta
Rapuhkan hati tanpa permisi
Kesal datang menggoda
Keruhkan hati yang sedang gelisah

Tanah adalah sasaran emosi
Yang tak berdosa menanggung siksa
Lengking teriakku senyapkan suasana
Perlahan mengusap dada
Kusadar….dan mulai menyadari terlalu
dalam keterperangkapanku
Jatuh ke dalam lembah tak berujung
Larut bersama hayalan-hayalan indah
Yang terpoles dongeng dan legenda
Dalam kegelapan mencoba meraba
Sayup terdengar bisikan hati penuh
bimbang

Keyakinan kuatkan niat menguping
Apa salahnya mencoba dan mencoba
Cinta hanyalah nyanyian hati
Dan permainan perasaan sementara
Mudah terombang ambing oleh
gelombang

Mengarah dan diarah sesuka hati
Bagaikan nakoda memalingkan haluan
Kekecewaan bukanlah tamparan
Melainkan musuh yang baik melebihi
kawan

Dari dialah pelajaran berharga kusimak
Hingga akhirnya… Ku tak pernah
kecewa memainkan rasa
Perasaan laksana tanah berkolam
Becek dan berair di musim hujan
Retak berhamburan saat panas
menyengat
Namun para petani mampu
menggarapnya
Tumbuhlah di atasnya beraneka
tanaman

Terang… Mentari pagi silaukan mata
Tawarkan senyum mulaikan hari
Mengisi celah hati dengan berbagai
rasa

Koleksi cinta dapatkan yang terbaik
Hilang gairah tertelan masa
Di balik lembaran hari
Mutiara hatimu tersimpan rapih
Memanggil tanpa ada jawaban
Menanti penuh kesabaran dan kecewa
Buktikan dalamnya asal mutiaramu
Yang terkubur lama di dasar samudera
Cinta adalah benci
Karena kebencian melahirkan cinta
Dan cinta dapat berakibat benci
Namun cinta yang tumbuh dari benih
kebencian
Lebih subur dibanding dari benih cinta
Yang mudah gugur dan layu tergantung
masa

Habis manis hambar terasa
Warna baru yang engkau tawarkan
Menarik perhatian sesaat
Ku sadar ku telah jatuh cinta
Jujur ku kata… Aku memang cinta
padamu

Hatiku bukanlah hatiku
Kutemukan diriku di matamu
Di dada tergetar rasamu
Di ingatanku tertonton videomu
Sesak nafasku tanpamu
Karena engkau adalah nadiku
Bersamamulah mendayung hari
Hingga saat ku berjanji
Engkaulah awal tanpa akhir
Terang tanpa kegelapan
Sinari hari hingga gelap datang
memanggil

Menutup mata dengan senyum bahagia
Perjalananku…. memang panjang dan
masih belum berakhir
Terukir dalam seribu kesan
Yang terpesan dalam tulisan
Agenda dari legenda kehidupan
Tiada berpangkal dan berhujung
Terus dan masih terus berlanjut
Namun semua bukan kesia-siaan

Semoga…..


Puisi Cinta - Monkey’s Love

Ada monyet melempar pisang
Bersampul amplop berisi kutu
Kepada kera yang akut berkuku
Menyeringai cergas ajak bersekutu
Karena katanya aku kutu buku

Lugu mengangguk mencari kutu
Tersimpuh lunglai di atas bangku
Senewen mengeliru dalam berpangku
Kebungkaman terus membelenggu
Lugas pilon kera tiada menentu
Menghela minat mencari tahu
Tiada jawaban menjajak laku

Karena ini afeksi usia tertentu
Alamiah sebagai ketentuan baku
Kemasygulan usil mengganggu
Trial dan error menjadi perunggu
Merenggut pisang ketusuk paku
Memanjat kelapa ketimpuk sagu
Monyet kera semakin bersatu
Menyisir jurang tanpa arah menentu

Semua itu tak mungkin terbantu
Licinnya pinus berlendir paku
Yang kebetulan cengang terpaku
Lagu pembuka yang amat merdu


Puisi Cinta - Cinta Pertama

Cinta itu kesan
Kesan pertama saat berkuala
Berpapasan antar intermuka
Membisu bagai kamus seribu bahasa
Pesona denyutkan nadi memukau
Spekulasi akal tak menentu
Bilabial mencibir anak kata
Membisu dalam bahasa hati
Gemuruh rasa lupakan motif
Utarakan iktikad di kitab utara

Terkatup tiada kata terucap
Seniah rasa getir terpendam
Berharap pandang mata terselami
Mencuri pandang utarakan hasrat
Reparasi sikap tunjukkan genial
Kiranya keinginan dimaklumi
Namun semua sia-sia

Cinta pertama adalah citra
Impresi meninggalkan tilas
Berparut bopeng yang membilur
Tiada dosis param antidota
Sebagai pengidap terminasi hidup
Terbaring di ranjang memoar
Bernostalgia dalam sensasi mimpi
Semua tingga reminisensi
Tiada perulangan itu kembali


Puisi Cinta - Ya…Yuk

Polosnya aku
Tabu oleh rasa sendiri
Ragu oleh kepolosanmu
Namun yakin oleh perasaan ini
Cinta yang tak mungkin kuucap
Rasa yang sulit diungkap
Membisu dalam kebodohan sendiri
Menyapapun sulit
Tangan ini serasa kesemutan
Mulut ini terkunci
Hanya untuk satu kata
Tuk mengantongi satu kata darimu
Aku terperangkap keayuanmu

Matamu sayu
Tak mampu kurayu
Tuturmu kemayu
Membuat mulut ini layu
Bodohnya aku hingga tak mampu
merayu

Padahal kutau Engkau pemalu
Yang juga menyimpan mau
Karena Engkau juga ragu
Engkau yang pertama
Hadir dalam mimpiku
Engkau yang pertama
Menghias dinding jiwa
Engkau yang pertama
Mengontrak kamar hati
Engkau yang pertama
Nyalakan lampu kehidupan
Hanya kamu…
Karena kamu…
Untukmu aku ada
Kepadamu semua harapan itu
Kini Engkau tiada

Entah kemana dan dimana
Tiada kabar…tiada berita
Kemana harusku mencari
Hingga kecewa menghampiri
Kutau Engkau telah dimiliki
Keinginan terpalang deadlock
Biarlah rasa itu tetap kusimpan
Biarlah rasa itu tetap kupendam
Dan ‘kan slalu kukenang

Hingga akhir…


Puisi Cinta - Nyanyian Jiwa

Kesendirian bertabur bintang
Menatap bulan penuh bimbang
Di balik awan tertutup ladang
Di atas bumi terus begadang
Kalut asa dalam bimbang
Kemelut hati tiada berimbang
Meski kata telah terdendang

Namun fakta terus menentang
Ketika tangan mulai terentang
Kaki ini ikut menendang
Rasa itu tiggallah gendang
Bertabu ria sekedar lambang
Jari jemari terasa kejang
Jeruji hati semakin terpajang
Meski diri telah telanjang
Hasrat itu tataplah lajang

Mata ini mampu memandang
Mulut ini sulit berbincang
Kaku gerak serasa pincang
Rasa di dada kian mengguncang
Senyum ini terasa sumbang
Pendamkan rasa dalam gelombang
Badai datang terus menghadang
Semua itu kan slalu dikenang

Cinta itu tlah merajut benang
Rindu itu berbunga senang
Meski rasa selalu terkekang
Mungkin kita bukanlah sepasang
Saat suka Engkau melayang
Saat duka Engkau terbayang
Meski aku bukanlah abang
Namun Engkaulah yang tersayang
Hati ini bukan keranjang
Kala tangis mulai berkumandang

Rintih nasib saat sembahyang
Menanti takdir datang menjelang
Sebelum nafas mengerang
Persiapkan diri untuk berdendang


Puisi Cinta - Suraman Rohani

Culun penuh keluguan
Polos dalam kedunguan
Tiada tau tiada curiga
Tiada sadar ketimpuk mangga
Ajakan itu kusangka ikhlas
Ajaran itu semakin tak jelas
Terperangkap dalam dekapan
Tante-tante yang kesepian
Yang kutau hanyalah diam
Yang kurasa badan meriang
Badan ini seakan kejang
Mata ini bengong terpejam
Barang ini mulai terpancing
Rasa itu bagaikan mau kencing
Digerayangi di atas sofa
Dihadiahi uang sejuta
Tak tau apa yang terjadi
Tak sadar datangnya pagi
Kembali itu terjadi
Terjadi akhirnya kembali
Tante itu menjemput lagi
Rasa itu kurasa lagi
Lagi-lagi aku mau
Ketagihan siapa tak mau
Jadilah aku hewan peliharaan
Siap sedia tuk memuaskan
Sadar diri nurani tlah suram
Hidup ini smakin tak keruan
Semua impian kini tlah bocor
Diri ini terasa semakin kotor
Hidup ini kian membrutal
Cita cinta haruslah batal
Siraman rohaniku selama ini
Sekejap itu suramkan rohani
Aku najis yang ternajisi
Aku jijik tak termajasi
Tak pantas memiliki tuan
Tak layak menghadap Tuhan
Dengan kecompangan diri
Semraut termorat-marit


Puisi Cinta - Racun Vs Madu

Andai kesendirian adalah racun
Hanya Engkaulah obatnya
Andai kebersamaan adalah madu
Akulah yang tolol mengabaikanmu
Kuracuni kesendirianku
Hanya dengan obat sementara
Kumadui kebersamaanmu
Dengan ketololan menduakanmu
Andai ketiadaanmu adalah racun
Hanya Engkaulah keyakinanku
Andai kehadiranmu madu

Akulah yang alpa dalam pertemuan itu
Kuracuni ketiadaanmu di saat adamu
Murtadkan jaminan keyakinan
Memadu kasih dalam ketiadaan
Lupa akan posisi dan status
Andai kematian adalah racun
Hanya Engkaulah yang meracuniku
Andai kehidupan adalah madu
Hanya akulah yang hidup selamanya
Memadu kasih bersama

Dalam dunia pengandaian semu
Racunilah aku dengan cintamu
Madukanlah aku di dalam lebahmu
Agar tiada lagi mengandai-andai
Hadapi kenyataan yang pahit
Sebagai obat kekekalan kasih
Dalam keabadian yang nyata
Andai tulisan ini adalah racun
Hanya aku yang gak mau menjadi
Romeo

Andai tulisan ini adalah madu
Hanya Engkaulah induknya madu
Yang siap menyengat jari ini
Untuk hentikan semua pengandaian
Sebelum lahir pengandaian baru


Puisi Cinta - Rindu Itu

Aku terseret dalam kerinduan
Di bawah ketekmu kutergilas
Roda kehidupan berkembangkempis
Menindih membuatku demam tulang
Tak berdaya dalam kemanyunan

Aku tersesat dalam kesendirian
Di bawah bayangmu kutersiksa
Terik matahari kian membakar
keinginan

Mualkan isi kepala seakan rontok
Kusadar kutelah botak karenamu
Aku terjepit oleh keinginan
Di bawah perut berkata lain
Bisikan hati mencoba tegap
Pusingkan kepala atas – bawah
Yang sama botak berpeluh keringat
Menahan sesuatu yang lama tak
tertahankan

Menyentuh sesuatu yang ingin disentuh
Di balik kekeramatan itu…
Aku terperangkap oleh nafsu
Di dalam penjara yang tak terkunci
Leluasa berlalu lalang sesuka hati
Tanpa penjagaan ketat
Di balik benda yang kadang ketat
Namun selalu tertekan
Oleh licinnya rayuan
Aku terendam oleh air sabun
Bagaikan cucian yang bisa menertawai
Seakan mencibir dan berkata

Cucian deh loee….!!!

Memang….

Namun itu hanyalah iblis
Yang mencoba memberikan kunci
Aku terkunci dalam kegelapan
Mencoba meraba pintu
Yang kudapati hanyalah kursi
Tanpa harus melalui pemilihan umum
Kumampu bersandar sesaat
Beristigfar atas kesalahan
Yang tak mungkin Engkau fahami


Puisi Cinta - Peculiar

Lost in a light
Seeking for a sin
Live in a liar
Truth will free my soul
Living in agony
Find my way home
It’s truly the fear
The fear of the dark

It’s growing inside me
They won, they will come to life
And I was a looser
I am losing the struggle within
My fate was horror and doom
My strength was fading
Just let me pass by
Don’t feed my fear
If you don’t want it out
Have to save
Save me please dear
Even there was no escaping
Never stop hoping
Need more for your help
Coz one thing’s for sure
You are always in my heart


Puisi Cinta - Cyber

Realitas virtual alam cyber
Menyatakan maya dalam realitas
Dungu mengejawantah ujud
Gejala optis menerpa fatamorgana
Lugas jelas tak berdaya

Terjebak macetnya arus melankolia
Eksotis menjanggi bak abnormal
Genderang ditabuh oleh trubadur
Nyanyian rasa indah mengaung
Hati amblas termabuk suasana
Anonym nonix terkonsep nona
Dalam imajinasi bergaris lintang
Ngakunya empu pencabut hati
Dungunya empu tertular tantular
Terasah kerekan ambruk di lantai
Nyeri belaian meruncing iba
Tak kuasa mengelak pinta

Asoy menjamah batas kemayaan
Menyeluk rimba berongga artificial
Dalam blangko kosong tak bernilai
Tolol kebodohan membuat telmi
Karena angan berenang dalam imaji
Tiada daya menanggalkan isolasi
Tiada daya memencilkan perasaan
Kedewasaan cermat menyahut
Respon waras dianggap sinting
Akal kancil tak masuk di akal
Karena semua hanyalah maya


Tanteku

Keping bundar pipih bermain
Mendekar jetos dalam canda
Asmara bercatur di atas chessboard
Terbina dalam asrama keluarga
Karena engkaulah tanteku
Bergeriatrik renta dalam sebaya
Menjelma menjadi pacarku
Berkohabitasi seatap penuh intrik
Helat trik pesona alam misterius
Mendekap kesuaman memuai ereksi
Taktil gelitik beringas menjamah
Euphoria cita spontan berpelaminan
Aspirasi selera ambisi terblok

Mustahil berimpit dalam manunggal
Karena sanggahan itu tiada lawan
Rute itu pasti terjelajahi takdir
Trayek memutar tak dapat dituruti
Meski memforsir tenaga mendobrak
Atrisi kewaskitaan pasti melentur
Karena kau tetaplah tanteku


Ada-ada saja

Ada niat terencana…
Ada rasa yang terbina…
Ada asa yang terlena…
Ada kata yang tercipta…
Ada karya menjadi realita…
Ada tangis yang tersisa…
Ada cita bersuka cita…
Ada ambisi bereforia…
Ada kronologi peristiwa…
Ada gosip terberita…
Ada rahasia yang terjaga…
Ada ruang dan waktu sebagai fakta…
Antara aku, kamu dan dia
Hanya akulah yang rasa
Karena kamu tak pernah percaya
Biarlah rasa teraniyaya
Bersayat luka tersiksa
Agar tiada hati yang luka
Harmoni tetap terjaga
Meski ini hanyalah dusta
Pembokongan kriptik berrahasia
Tanpa uraian panjang logika
Agar slalu bisa diterima
Meski semua hanyalah nista
Yang slalu datang membawa derita
Namun sulit untuknya sirna
Walau hati berlimang dosa
Mengusung beban api neraka
Bagi mucikari durjana
Penebus dosa dari malapetaka
Transaksi kans penuh berbahaya
Semua ada tanpa terencana
Semua ada bukanlah bencana
Semua harus diterima
Semua ada…
Karena kita mengada-ada
Karena kita ingin berada


Akhir Persimpangan

Akustika nada hidup beranting
Luas kosmologi bagai dasalomba
Seribu cagak membelah samudera
Bergelombang sendeng dalam pesong
kursif banyaknya persimpangan
Berhenti sejenak lalu mengakhiri
Bermuram dalam bergontai
Pemucatan distorsi masa silam

Dalam keruh kelamnya lata
Luncah menistakan diri yang rampus
Terjaga dari koma berkepanjangan
Menuangkan konsep baru renungan
Kesendirian bergumul di Sahara
Experimentasi menyandarkan peluh
Menyudahi pengembaraan semu
Dalam perpaduan belahan koin
Melebur kemanunggalan diaktrik
Kurs dalam tangga nada graf
Persentil apresiasi merevaluasi
Amandemen deklinasi kehidupan
Penguapan harapan baru mengalir
Pembaharuan radikal meraih cita
Di persimpangan ini meneguh tekad
Di sinilah titik kulminasi katam
Di nokta inilah saat berkreasi

Keakuan diskersi kebijaksanaan
Menganyam relasi kolega tali salasilah
Dalam bahtera bungalo patriarki
Ekspektasi bujang tak ingin lapuk
Sebelum berubah menjadi kapuk
Dengan kelenggangan tanpa kompas
Pedoman jarum jam kebahagiaan
Peluang mustahil yang lengkara
Mumpungisme meraih perubahan
Berperibudi hidup yang lebih bernilai
Penyempurnaan sebahagian ritual
Tambatkan tali kekerabatan
Simpul liga perserikatan hidup
Akte traktat resepsi persepsi
Terkebat pasak sutas cincin di jari
Dalam keberkahan penuh mawaddah

Sakinah warahmah…

Langgen penuh lestari

Abadi slamanya….

Amien…!!!


Sang Istri

Dialah mutiara
Bersinar tiada tara
Terangi aku dalam penjara
Untuk hidup lebih sejahtera
Dialah sang isteri
Penggugah hati berseri
Pembuka tabir misteri
Pelipur hati yang nyeri
Dialah bidadari
Turun bersama mentari
Hadir tanpa disadari
Lahirnya cinta tak mampu dikomentari
Dialah impian
Membawa berjuta harapan
Merajut semua kenangan
Mimpi itu adalah kenyataan
Dialah permaisuri
Harum semerbak kasturi
Mekar di taman puri
Mata hati tak lagi mencuri
Dialah motivasi
Penggerak hati berimprovisasi
Penopang asa penuh sensasi
Harapan itu kan terealisasi
Dialah bintang
Terpampang diantara gemintang
Kedipkan cita-cita gemilang
Hari esok kan lebih cemerlang
Dialah rembulan
Cahaya wanita unggulan
Dibanding wajah sanggulan
Menikahinya adalah akhir kesimpulan
Dialah malaikat
Membuat hatiku terpikat
Dalam anugerah yang terikat
Cinta pun semakin mengkilat
Dialah ibu anak-anak
Pandai beternak dan menanak
Hati semakin terkesimak
Wajar aku menjadi jinak
Dialah mustika
Langka bagai pusaka
Harga tak terhitung angka
Memiliki tak pernah kusangka
Dialah puspa

Pewarna bentuk rupa
Yang tak mungkin terlupa
Saat hadir maupun alpa
Dialah peri
Menjelma mimpi berseri
Hilangkan luka yang nyeri
Hadapi hidup tanpa ngeri
Dialah rab’ah
Isteri yang salehah
Ibu yang mujtahidah
Kekasih penuh mahabbah
Dialah surga
Nikmat yang patut dibangga
Idaman dalam keluarga
Semoga dan semoga
Dialah karsa
Penyulam segala rasa
Asa yang tak putus asa
Hingga akhir masa


Catatan Kerinduan

Hari-harimu adalah hari-hariku
Yang slalu terperangkap kemacetan
sang waktu
Antrean kendaraan yang
menghantarkan perasaanku
Terasa begitu lambat
Hingga kerinduan itu berteriak
Membakar suasana hati
Walau peluh berkristal ria
Jariku nakal memencet keypad
Lantumkan debaran kerinduan
Yang slalu haus
Tatkala melirik pajangan minuman
dingin di pinggir jalan
Entah mengapa…?
Tak satupun rambu lalulintas yang
mampu hentikan ingatanku akan
bayangmu
Yang kerap gentayangan menakuti
hari-hariku
Hingga kusadari ketikanku terhenti
oleh suara halus
Membisikan kedamaian dalam
kehancuran
Tak sedetikpun jariku terbesit bisikan

Dan memaksaku terus alirkan
kerinduan
Dalam tulisan yg tak menentu
Karna kerinduan itu begitu cepat
Menggerogoti setiap pembuluh darah
Dan telah bersemayam bagaikan tumor
yang siap merenggut nafasku
Kaulah kerinduanku yang slalu
kurindukan….

GG (Gadysa & Gelbina)


Alpamu

Alpamu hanyutkan kepercayaan
Kebimbangan yang terseret arus zaman
Melilit ranting hari kerapuhan tanpa
harapan
Meski hadiranmu terparafkan dalam
absen keyakinan
Yang terciplak rapih dalam daftar putih
tanpa tipe-x dan noda
Namun lembaran hati terbuka oleh
sepoian lembut angin
Membisikan kenangan yang
terkungkung penantian pasti tanpa
kepastian

Hanyalah risau….

Yakinkan keraguan yang lama
terpresentasikan
Di dalam ruang fikir tanpa kesimpulan
Kupanggil hati dan menanyakan alasan
Maupun surat keterangan izin sebagai
penguat keyakinan
Adalah kepasrahan terhembus lirih
dalam potret malaikat
Sebagai balasan kejujuran yang
mengada dan menenangkan keadaan
Saat pembahasan materi seminar segera
disimpulkan

Sumpalan kue berkotak dan aqua kan
mengakhiri penat dahaga kejenuhan
Bercampur peluh yang terlukis dgn
keringat lusuh kian bugar tanpa kerutan
Mungkinkah kehadiran itu mutlak
diabsenkan
Sebagai wujud kedisiplinan hati temani
raga yg tak pernah berolah raga

Apakah itu yg dinamakan formalitas
dan dinamika
Rasa terkontaminasi formalin pengawet
relasi dalam ikatan ikrar?
Ataukah bunga yang kadang mekar
semerbak
dan kadang layu tersengat matahari
sore

Mudah-mudahan semua mudah dan
dimudahkan
Karna kunci jawaban ujian akhir telah
tebocorkan
Sukseslah dengan kemampuan
menjawab soal dari orang lain
Semoga itu adalah awal pembelajaran


Renungan Pagi

Pagi bangunkan tidurku
Kaget terperanjat bagaikan kebakaran
Bergelut bersama nightmare
Membuatku letih berkeringat

Anehnya….
Si Anu ikut terbangun

Meski hasil dari mimpi buruk
Dia tetap ikut nimbrung
Dalam kekalutan otak
Antara sadar dan tidak
Hati melaui menginterogasi
Pantaskah di usia ini masih begitu
Semangat itu semakin kuat menguasai
diri

Membuatku sering lupa diri
Bagaikan kuda liar kehilangan tali
kekangnya
Bebas berkenalan hilang kendali
Hingga kadang kuberdoa
Agar si Anu tidak lagi ber-anu-anu
Agar si Anu tidak lagi mencari si Anu
Damai dalam singgasananya
Meski tanpa kursi mahkota

Kusadar….

Akulah manusia terbaik
Selalu berbuat baik dan ingin kebaikan
Semua sudah membaik
Semua sisi dalam diriku telah membaik
Kecuali si Anu
Yang selalu membuatku berdosa
Terpeleset dalam lubang sempit
Yang licin dan berair
Itulah kejelekanku yang tersisa
Hanya itulah lubang dosa diri
Menjajah dan selalu ingin menjajal
Membuat hati ini gelap tanpa hidayah

Aku butuh saranmu
Yang mampu membuat Anu-ku
bersarang
Terkurung dalam sangkarnya
Hingga Ia tunduk dan tawadhu

Saranmu….

Saran ustadz untuk berpuasa
Justru puasa semakin membuatku
bergairah
Saran dokter untuk ber-onani
Justru onani membuatku ingin yang
sesungguhnya
Harusnya kujepit si Anu di sela pintu
Agar Ia kapok tak bisa berdiri
Ataukah harus dikebiri
Agar Ia tetap sendiri
Kayaknya aku tak boleh sendiri
Selalu dekat bersama istriku

Kemanapun harus membawanya
Menyertai setiap langkahku
Bagaimana jika tidak
Ohhh…emang sih pasi wanita
Sibuk….
Anakku harus menemaniku
Kemanapun mereka ada di sisiku
Agar aku tak lagi ber-anu-anu
Karena ada malaikat-malaikat kecilku
Yang selalu mengingatkanku
Mengontrol tindakanku
Meremote setiap keinginan
Dan mempause gerakan si Anu
Semoga ini akan berhasil
Untuk meraih kebaikan abadi
Tanpa cacat dan dosa lagi

Amien..
22. Setia
Dulu aku setia
Karena si dia selalu setia
Dulu aku bersedia
Karena si dia masih belia
Dulu aku aku ceria
Karena si dia sangat mulia
Kini aku bahagia
Karena si dia tetap setia
Kini aku bersuka-ria
Karena kami selalu se-iya

Tak sedetikpun ada niat menduakanmu
Tak sehelai kainpun menghalangi
ingatanku padamu
Tak seorangpun yang dapat
menggantikanmu
Karena cintamu adalah nafasku
Karena dirimu adalah diriku
Kami satu yang sengaja disa


Gelap Terang Cairo

Inilah tempat para Nabi
Inilah tempat kaum pembangkan
Inilah tajuk kemuliaan
Inilah kota penuh kedamaian
Disinilah pyramid berdiri
Disnilah nil mengalir
Disinilah firaun mengtuhankan diri
Disinilah Asia gigih mengabdikan diri
Inilah aku

Disinilah aku terapung
Antara dua kubu di hati
Kadang lurus dan mulus
Sering melenceng dan sesat
Arahku jauh dari tujuan
Meraih api membakar niat
Yang dihadapi bukanlah mimpi
Namun kenyataan yang sangat asin
Penoreh aroma kehidupan
Pelita hidup redup

Gelap segelap kehidupan malam
Susuri tempat ke tempat
Habiskan waktu terbang ke langit
Pudar bersama datangnya pagi
Inilah vampire kehidupan
Hidup diantara dua alam
Menghirup kebaikan sesaat

Menghisap dosa yang tak mampu
dipertanggungjawabkan
Roxy, aguza, begitu jauh Ataba,
muhandisin terasa dekat
Jabal muqattam mudah didaki
Terusan suez terbentang banyak cabo

Di atas tower aku bangga
Di dalam pyramid ku terjepit
Di atas bukuit Sinai kuterpaku
Di sungai nil kutenggelamkan nista
Di mesjid Husein kudapai diri
Di Al-Azhar kulahir kembali

Engkaulah ummu dunia
Darimu segala tarbiyah
Engkaulah ummul balad
Padamu kumerindu
Engkaulah negeri kinanah
Bersamamu tentukan arah
Engkaulah pahlawan tanpa gaji
Untukmu segala bintang satya


Andai tak Malu

Andai tak malu
Kan deras derai air mata
Kan kukunjungi persemayamanmu
Duhai kau yang telah pergi
Ku tatap sejenak terakhir kali
Tubuh sayu terbaring lesu di samping
tanah galian yang terbuka luas dan
dalam

Kau tinggalkan diriku
Kau ciptakan bingung dan sedih di hati
Saat rambutku telah memutih dan
tulang yang lemah tersisa
Ditemanin anak-anak kecil masih
berselendang azimat
Tak lagi ada semangat habis waktu
malamku mengawasi bintang-bintang
yang terang lalu pudar bersama dirimu
Kau bagai permata di jiwaku rebutan
setiap orang tempo itu dan kini terlihat
di sana

Hanya tumpukan tanah dan batu
(Cairo, 1997)


Sahabat

Sahabat
Kau begitu dekat
Karena kita sederajat
Saat hidupku meningkat
Senyummu kian berat
Kukira kau turut bahagia dan melompat
Gak taunya kau bangsat
Pandai lidahmu bersilat
Karena kau penjilat
Fitnah kau rekat

Actingmu merangkul erat
Percayaku berkarat
Milikku pun kau sikat
Pacarku minggat
Karena kau berkhianat
Alasanmu singkat
Seakan tak berserat
Ku tau perasaanmu dipantat
Hingga kau begitu bejat
Jalanmu terlalu sesat
Bagimu tak ada sesuatupun yang
keramat

Kini kau terjerat
Mulai kembali merapat
Istrimu berangkat
Kaupun melarat
Orang tuamu wafat
Menunggumu di hari kiamat


Siapa Aku

Inilah aku dalam diriku
Yang menanam jati tanpa diri
Inilah diriku yang selalu mengaku
Bahwa jati diriku adalah aku
Siapakah aku?
Siapakah diriku?
Ternyata aku hanyalah diriku
Yang bias iri dan berdiri
Marah abaikan akibat
Ngotot menuntut keinginan
Sedangkan aku hanya dapat
menyaksikan
Tanpa mampu tuk berbuat

Aku hanyalah aku
Yang suka berlebihan ber-aku-aku
Sok tau dalam mengaku
Karena aku belum mengenal siapa
diriku
Semua cermin membohongi aku
Menutup kedok jati diriku
Yang kupandang hanyalah bayangan
diriku
Sedangkan aku hanya tersenyum puas
Cengar cengir sendiri dalam diri
Bahwa itulah aku
Itu semua hanyalah jawabanmu
Yang tiada beda dengan pujian cermin
Itulah diriku yang ada dimatamu
Bukanlah aku yang ada pada diriku
Karena diriku belum mengenal siap aku
Karena aku belum mencintai diriku


Bosan

Bosan…..
Sungguh ini sangat membosankan
Ini lagi…itu lagi….
Sungguh sangat memuakkan
Mengapa aku masih di sini
Mengapa aku masih berbuat ini
Dan mengapa aku masih saja begini
Begini kek…begitu kek…
Semua tetap saja salah
Semua terus saja menjijikkan

Itu lagi…dan itu lagi…
Tiada perubahan
Tiada perkembangan
Bahkan tiada lagi harapan

Pupus…..

Masa tidak lagi bersahabat
Mereka itu tidak lagi tersenyum
Tempat ini hanya cemooh
Ruang ini…..
Ruang ini lagi..ruang ini lagi
Pergi….pergi..pergi..!!!
Mengapa masih tetap di sini
Bodoh…
Goblok kok dipelihara
Maju dunk!!
Masa selamanya kek gini

Buktikan dunk!!
Masa gak pernah ada bukti
Bicaramu sudah melebihi takdir
Tuhanpun harus kukalahkan
Tapi gimana…?
Hijrah sudah
Usaha dan ikhtiar sudah
Berdoa juga sudah
Pasrah pasti gak diragukan lagi

Lalu..????

Apakah aku stress
Tenang dunk!!
Semua belum berakhir
Semua ini hanyalah rutinitas
Berputar dan terus berputar
Bagaikan roda
Kadang di atas kadang di bawah
Sungguh kasian
Ibakan rgo dalam kesendirian
Menerawang tilas kehidupan
Seakan tergilas di bawah perut bumi
Ketika roda itu di bawah tertusuk paku
Dah kaya arisan dan togel aja nih hidup
Tinggal mengundi
Dan mengadu nasib
Menanti keberuntungan tak pasti
Apakah selamanya begini


Mungkin ya..mungkin tidak


Pure

Engkau yang benar pure
Kini berubah syur
Oleh ungkapan sure
Yang belum pasti swear
Rela to be wear
Meski tubuhmu wearier
Engkau tetap super
Harusku admire
Bahwa engkau less wary
Dan memang kurang care
Mudah fulfill my desire
Hingga lupa akan purity
Langkahi suatu boundry
Yang tak mungkin kembali
Semua telah occure
Semua telah terecorded

Dan tak mungkin direcure
Ataupun di recuver
Terima kasih atas segala proof
Semoga cinta itu tak lagi blind
Walau berlalu dalam kegelapan
Hingga terang itu datang
Meraih tanganmu dalam gandengan
Berdendang menyusuri jalan setapak
Dalam keramaian penuh bahagia
Sesuai keinginan dan harapan
At the end


Antara Usil dan Unyil

Resah tersungging di bibir kalbU
Rangkaian kata pun menjadi kakU
Berbaur bisikan yang penuh rayU
Terkurung dalam hayalan semU
Putihnya niat seputih kertaS
Mudah menuai tatkala panaS
Terbakar sengatan api ibliS
Rentangkan kaki di luar gariS
Mendulang rasa di atas nilaI

Tiada keburukan yang belum pastI
Tersimpan rapat di dalam hatI
Merenggut nyawa tiada bersenI
Kerasnya keinginan tidaklah labiL
Mudah hanyut terterpa badai kesaL
Imunisasi bukanlah kebaL
Mudah terinfeksi di saat gataL
Usil mencoba tiupkan debU
Bara terpendam kembali menggebU
Tuangkan air di atas tungkU
Nada resak kini terdengar syahdU
Gambramu terlukis tak beralaskan
kanvaS

Serasa dekat sedekat deruan nafaS
Menderu-deru memanggil jelaS
Kembangkan bakat puas dengan buaS
Yang dijamah bukanlah mimpI
Malu berbuat kecilkan nyalI
Yang dipegang hanyalah janjI
Ragu melangkah kecebur kalI
Ramuan kopi yang terhidang begitu
kentaL
Dekapan tubuh terasa kenyaL
Laksana terbuai di atas bantaL

Lupakan diri rusaki mentaL
Antara kau dan aku saling mengantar
Antara kau dan aku hanya kita yang
rasa
Antara kau dan aku hanya mereka yang
tau
Antara kau dan aku tidak akan
ketahuan

Selingkuhi aku dalam selangkanganmU
Bujukmu pasti terdengar merdU
Ratapi takdir cepat berlalU
Serasa lemah remotkan waktU
You ‘re my maN

Fasih ucapmu membuatku dingiN
Terbaring laksana seorang pasieN
Bertarung hadapi Tanya di batiN
Open up n lick mine pls honeY
Over kau dan aku begitu crazY
Bergulat hari tak hiraukan bodY
Mengulang kembali sejarahmu babY
Datangnya sesal saat mengakhirI
Sadarkan diri telah dimilikI
Perasaan dosa telah terkebirI
Pintu maaf hanyalah sekalI
Usil berbuat karena unyiL
Usai tontonan ingin menjajaL
Usai bertobat kembali normaL
Usia mentok kan disambut ajaL


Doaku

Tuhanku yang Esa
Dulu hidupku sentosa
Mengapa kini jadi pendosa
Hanya karena ulah si nisa
Harus menanggung semua siksa
Tanpa menunggu hari periksa
Hancur lebur dalam binasa
Oleh AzabMu yang sangat luar biasa
Ya Rahmanu Ya Rahimu
Tenggelamkanlah aku dalam
hidayahMu
Azablah aku dengan RahmatMu
Jatuhkan aku dalam lembah cintaMu
Rapuhkan aku dengan keagungan
asmaMu
Jauhkanlah aku dari setiap murkaMu

Kembalikan aku dalam anugerah
fitrahMu
Agar langkah selalu pada jalanMu
Tuhanku yang maha perkasa
Bukanlah aku mahluk berbisa
Mencuri hati agar leluasa
Mengumbar janji dalam sebuah sketsa
Yang slalu berakhir setiap
mendapatkan mangsa
Namun inilah yang kubisa
Agar di hari esok atau lusa
Semua kan kembali seperti biasa


Aku dan Satu

Aku satu yang menyatu
Aku ragu dan mendua
Aku satu ingin bersatu
Aku hantu berhias nol sejuta
Aku satu harapkan sesuatu
Aku debu terbalut riya
Aku satu lupakan yang Satu
Aku malu berlimang dosa
Aku satu dengan Yang Satu
Aku rindu pada yang Esa
Satukan aku dalam kesatuanMu
Duakan aku dengan cintaMu
Hantui aku dengan azabMu
Lupakan aku untuk tidak melupakanMu
Dan esakan aku dalam keesaanMU
Amin…


Pantasnya Riya

Tuhanku…
Pantaskah aku takut kepadaMu
Sedang aku hanya takut azabMu
Pantaskah aku merayuMu
Sedang aku hanya mengincar pahalaMu
Pantaskah aku malu padaMu
Sedang aku hanya malu dicemooh
Pantaskah aku mengabdi padaMu
Sedang aku hanya terbuai janjiMu
Pantaskah aku mencintaiMU
Sedang aku naksir diriKu
Pantaskah aku menjadi kekasihMu

Sedang aku sering menduakanMu
Pantaskah aku berpaling dariMu
Sedang aku akan kembali padaMu
Pantaskah aku menjauh dariMu
Sedang aku selalu membutuhkanMu
Pantaskah aku bertanya padaMu
Sedang aku hanyalah budakMu
Pantaskah aku memohon maafMu
Sedang aku banyak meragukanMu
Astagfiruka yaa rabbiyal a’la bijami’il
hamd
Laa syariika laka wa ilaykal ma’buud
Hanya Engkau yang Maha pantas dari
dan atas segalanya


Demi Palestina

Aku lemah
Aku penakut
Apa yang dapat kusumbangkan?
Doa ?
Apa hanya dengan doa?
Puisi?
Apakah cukup dengan puisi?
Sungguh pelitnya diriku
Dzaalika min adh’afil imaan
Sementara aku sanggup
Harta?
Aku punya
Ilmu?
Saudara?
Ya Allah Ya Rabbi
Apakah aku saudara yang baik?
Apakah aku hambaMu yang beriman?
Teganya aku
Pelitnya aku
Yang hanya mampu membantu dengan
doa

Padahal banyak kemampuanku
Terbentang kepicikan secuil islami
Menganggapnya tabdziir
Maafkanlah aku hai saudaraku
Karena kusadar kini
Bukan doa yang engkau butuhkan
Engkau membutuhkan lebih
Dalam meraih damaimu
Amin…


Palestina Bangkit

Palestin
Cukup sudah engkau diplorotin
Dengan janji yang slalu diplesetin
Kata damai kian dipolesin
Tak akan sembuh luka dipelesterin
Persetan dengan damai
Jika akan membawa kehancuran
Persetan dengan kehancuran
Jika akan mendatangkan kedamaain

Maju…!!!

Mengapa harus bertahan ?
Perangilah orang-orang yang telah
memerangimu

Bangkitlah !!!

Kuburkanlah bangkai-bangkai hidup
Kami bersamamu
Dan Allah pasti bersama kita


Gila

Aku gilaa…
Gila karena hadirmu…
Gila karena alpamu…
Gila karena ketidakberdayaanku…
Gila karena sombongku pendamkan
rasa…
Gila karena kealpaanku sendiri…
Gila karena ternyata aku masih waras…

Waras untuk tidak menjadi orang gila
Aku benar-benar gila…
Gila oleh kegilaanmu…
Gila karena hadirmu…
Gila karena bodymu….
Gila karena kusadar kamu yang lebih
gila…
Gila karena ternyata aku masih
normal..

Normal untuk menjadi pria sejati
Ajaklah aku menjadi waras
Buatlah aku semakin normal
Layaknya Engkau dan aku
sebagai orang waras dan normal


Pasca Conflik

Enaknya jadi mahasiswa
Pastinya banyak kawan dan lawan
Semua harus dijalani
Karna hidup adalah tantangan
Yang harus dihadapi
Dijalani dan dimaknai
Makna di balik makna
Sense di balik sensasi

Kusadar…..

Ternyata aku masih kurang ajar
Butuh banyak diajar
Harusnya sekalian dihajar
Biar semakin sadar
Agar hidup bermodal kepintaran
Berbau kelicikan berlogika
Agar tetap survive
Sebagai pria jelek yang intelek
Aku orang kecil
Bertubuh kecil
Ingin menjadi besar
Paling tidak menjadi guru besar
Paling iya jadi duta besar
Sebagai target dalam hidup
Yang harus kuraih
Semoga…dan semoga
Amien…


Tensca

Bertemu kita di Pasca
Bersatu kita di Tensca
Berpisah kita di Lamacca
Berlinang mata bekaca-kaca
Karena hati bukanlah panca
Yang indranya hanya ada di Mecca
Teringat akan ibu Anca
Yang kutemui hanya Ibu Ribca
Ow Iraaa, mengapa miripko Ica
Padahal Ela dan Aliya tidak suka
Merica
Misma & Nisba sukanya minum Coca
Sedangkan Ani, Tati dan Tami kaya
pasukan Nica
Sukanya Anti dan Dewi nonton Barca

Biarpun tua bu Fahria tetap Mica
Masih sukaji itu Vivit berkaca
Hingga Prof Dj mengoles rica
Kalian bagaikan gadis Casablanca
Manami itu kelompok ular sanca?
Yang suka nonton filemnya Bianca
Apalagi Mido yang suka Agnes Monica
Kapan-kapan ketemuki lagi di Pasca
Jangki lupakanka nah ca
Biar adamako semua di America
I love u all Tensca


2 in 1

Hari ini menuai dosa
Hari ini diduai moza
Hari ini digodai mangsa
Hari ini perangai diperkosa
Hari ini naluri tersiksa
Hari ini hati nelangsa
Meski sesaat sentosa
Bangga seakan perkasa
Menghantar kemerdekaan bangsa
Namun selamanya jadi pendosa
Dua selimut tawarkan jasa
Hasrat hati seperti terpaksa
Menolakpun tiada kuasa
Si kecil semakin berbusa
Bagaikan musang berbulu rusa
Berubah menjadi raksasa
Mencoba untuk merasa
Pengalaman baru dalam karsa
Hati ini paksakan puasa
Rasa itu ingin tetap memangsa
Meski kutau itu racun berbisa
Yang akan membuatku binasa
Dalam percintaan semasa
Yang mungkin kan terbiasa
Ketika nafsu itu berbahasa




Sumber : Saidna Zulfiqar bin Tahir


Kata kunci : Puisi cinta, Puisi cinta, Puisi cinta, Puisi cinta, Puisi cintaPuisi cinta, Puisi cinta.

Post a comment for "38+ Puisi Cinta Religi Romantis dan Menyentuh Hati"

Berlangganan via Email