Makalah Penjaskes Permainan Engkle


Makalah Penjaskes Permainan Engkle ini adalah contoh dari makalah penjaskes permainan tradisional yang sangat baik untuk diterapkan dalam kehidupan, Makalah Penjaskes Permainan Engkle ini dapat dijadikan contoh atau referensi dalam mengerjakan tugas yang dapat diedit secara gratis.

MAKALAH PENJASKES

PERMAINAN TRADISIONAL “ENGKLE”

Makalah Penjaskes Permainan Engkle
gambar dari gebyarmanusialangka.blogspot.com

Oleh :Dedi Nugroho


DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
1. Pengertian dan Sejarah
2. Alat-Alat Yang Diperlukan
3. Cara Bermain
4. Manfaat 
LAMPIRAN


PENDAHULUAN
Segala puji kami panjatkan kepada Tuhan Semesta Alam atas selesainya makalah yang berjudul “Permainan Tradisonal: Engkle“ ini. Semoga dengan selesainya makalah ini bisa memberikan kami pengalaman baru tentang bagaimana sejarah permainan tradisonal serta hal lainnya yang berkaitan dengan permainan tradisional “Engkle”.
Adapun dari tujuan kami yaitu selain untuk memenuhi tugas pendidikan jasmani dan olahraga, kami juga dapat memperoleh banyak manfaat mengenai nilai moral dan peran dari permainan tradisional dalam kehidupan.
Kami menyadari bahwa makalah ini belum sepenuhnya sempurna, kami masih harus banyak belajar mengenai materi Permainan Tradisional “Engkle” ini. Oleh karena itu, saran dan kritik dari para pembaca sangat Kami butuhkan.

PEMBAHASAN

1. Pengertian dan Sejarah
Sunda manda atau juga disebut éngklék, téklék, ingkling, sundamanda / sundah-mandah, jlong jling, lempeng, pacih, Jangkar Bumi, atau dampu adalah permainan anak tradisional yang populer di Indonesia, khususnya di masyarakat pedesaan.
Permainan ini dapat ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia, di Sumatra, Jawa, Bali, Kalimantan dan Sulawesi dengan nama yang berbeda-beda tentunya. Nama-nama untuk permainan Engklek  atau dalam bahasa Inggris ”Hopscotch”, antara lain Engklek (Jawa ), Asinan, Gala Asin (Kalimantan),  Intingan (Sampit),   Tengge-tengge (Gorontalo),  Cak Lingking (Bangka), Dengkleng, Teprok   (Bali),  Gili-gili (Merauke),  Deprok (Betawi),   Gedrik (Banyuwangi),  Bak-baan, engkle (Lamongan),  Bendang (Lumajang), Engkleng (Pacitan), Sonda (Mojokerto), Tepok Gunung (Jawa Barat), dan masih banyak lagi nama yang lain.
Permainan Sunda manda biasanya dimainkan oleh anak-anak, dengan dua sampai lima orang peserta. Di Jawa, permainan ini disebut engklek dan biasanya dimainkan oleh anak-anak perempuan. Permainan yang serupa dengan peraturan berbeda di Britania Raya disebut dengan hopscotch. Permainan hopscotch tersebut diduga sangat tua dan dimulai dari zaman Kekaisaran Romawi.
Permainan ini mengejawantahkan usaha anak untuk membangun “rumah”-nya. Atau bisa pula bermakna sebagai perjuangan manusia dalam meraih wilayah kekuasaannya. Namun bukan dengan saling sruduk. Ada aturan tertentu yang harus disepakati untuk mendapatkan tempat berpinjak.
Menurut Dr. Smpuck Hur Gronje, permainan ini berasal dari Hindustan. Lalu engklek ini diperkenalkan ke Indonesia. Oleh karena itu, hampir engklek dikenal di setiap Provinsi di Indonesia walaupun dengan nama yang berbeda.
Pendapat lain mengatakan bahwa Permainan Engklek ini menyebar pada zaman kolonial Belanda dengan latar belakang cerita perebutan petak sawah. Yang diduga bahwa nama permainan ini berasal dari "zondag-maandag" yang berasal dari Belanda yang berarti Sunday manday dan menyebar ke nusantara pada zaman kolonial, walaupun dugaan tersebut adalah pendapat sementara.

2. Alat-Alat Yang Diperlukan
Peralatan yang diperlukan dalam bermain Engkle adalah sebuah gacuk, yaitu berupa benda pipih berdiameter sekitar 4-5cm. Gacuk biasanya dibuat dari pecahan genteng atau tegel, penggunaan gacuk dengan spesifikasi pipih, karena benda pipih akan mudah dikontrol ketika dilemparkan ke dalam kotak engkle.

3. Cara Bermain 
Cara bermain engklek cukup sederhana:
1. Para pemain harus melompat dengan menggunakan satu kaki di setiap kotak-kotak / petak-petak yang telah digambarkan sebelumnya di tanah.
2. Untuk dapat bermain, setiap anak harus mempunyaigacuk yang biasanya berupa pecahan genting / kreweng, keramik lantai, ataupun batu yang datar.
3. Gacuk dilempar ke salah satu petak yang tergambar di tanah, petak dengan gacuk yang sudah berada diatasnya tidak boleh diinjak/ditempati oleh setiap pemain, jadi para pemain harus melompat ke petak berikutnya dengan satu kaki mengelilingi petak-petak yang ada.
4. Pemain tidak diperbolehkan untuk melemparkan gacuk  hingga melebihi kotak  atau petak yang telah disediakan. Jika ada pemain yang melakukan kesalahan tersebut maka pemain tersebut akan dinyatakan gugur dan diganti dengan pemain selanjutnya.

4. Manfaat
Manfaat yang diperoleh dari permainan engklek ini antara lain adalah: 
1. Kemampuan fisik menjadi kuat karena dalam permainan engklek di haruskan untuk melompat – lompat. 
2. Mengasah kemampuan bersosialisasi dengan orang lain dan mengajarkan kebersamaan.
3. Dapat menaati aturan – aturan permainan yang telah disepakati bersama.
4. Mengembangkan kecerdasan logika. Permainan engklek melatih untuk berhitung dan menentukan langkah-langkah yang harus dilewatinya
5. Dapat menjadi lebih kreatif. Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh para pemainnya. Mereka menggunakan barang-barang, benda-benda, atau tumbuhan yang ada di sekitar para pemain. Hal itu mendorong mereka untuk lebih kreatif menciptakan alat-alat permainan.

LAMPIRAN