Makalah Perlindungan kekerasan anak dan percobaan penculikan


PERLINDUNGAN TERHADAP KEKERASAN ANAK
DAN PERCOBAAN PENCULIKAN

Dosen: Dr. Rina Arum Prastyanti, SH, MH

 


Nama          : Dedi Nugroho
NIM            : 15010xxxx
Kelas           : SI A3



SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
STMIK DUTA BANGSA
SURAKARTA
2016


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ”Perlindungan terhadap kekerasan anak dalam lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar”.Walaupun masih jauh dari kesempurnaan, namun kami bersyukur dapat selesai tepat waktu. 

Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen yang mengampu mata kuliah bahasa indonesia yaitu ibu Rina Arum Prastyanti yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini. 

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memahami tentang perlindungan terhadap kekerasan anak dalam lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar. 

Makalah ini disusun oleh penyusun dengan berbagai referensi yang berpengetahuan tentang perlindungan terhadap kekerasan anak dalam lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar.

Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga saran dan kritik dari pembaca sangat kami harapkan. Dengan segala kerendahan hati, kami berharap makalah ini berguna dan bermanfaat bagi yang memerlukannya.

Surakarta, 18 Oktober 2016


Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan Penulisan
BAB II TEORI
BAB III PEMBAHASAN
1.1 Penyebab Kekerasan Pada Anak
1.2 Kekerasan Pada Anak Yang Sulit di Kendalikan
1.3 Cara Mengatasi Kekerasan Pada Anak
BAB IV PENUTUP
1.1 Kesimpulan
1.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG 

Tidak bisa kita pungkiri bahwa ekonomi merupakan tonggak kehidupan manusia. Masalah ekonomi tidak hanya menjadi urusan negara tetapi juga masalah keluarga. Masalah dalam keluarga yang dilatar belakangi karena persoalan ekonomi dapat menjadi positif maupun negatif. Biasanya masalah ekonomi ini terbentur akibat kurangnya penghasilan keluarga untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Hal positifnya, setiap keluarga akan mau untuk bekerja keras mendapatkan penghasilan tambahan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. 

Sedangkan efek negatifnya, keluarga dengan masalah ekonomi adalah setiap anggota keluarga kemungkinan tidak dapat hidup dengan layak, baik dari segi pakaian, tempat tinggal yang tidak higienis, dan kekurangan gizi. Bahkan dapat mengakibatkan pertengkaran orang tua yang dapat memicu kekerasan terhadap anak. Banyak orang yang tidak tahan berada dalam himpitan ekonomi dan memutuskan untuk mencari jalan pintas. 

Tingkat kejahatan yang semakin tinggi salah satunya disebabkan oleh adanya tuntutan ekonomi dalam sebuah rumah tangga. Hal ini adalah sebuah kenyataan masalah hidup yang jika terjadi dalam sebuah keluarga bisa menuntun pada masalah yang jauh lebih besar dan merugikan orang lain. 

“Anak yang masih di bawah umur, masih rentan terhadap pengaruh-pengaruh yang datang dari luar yang dapat berdampak negatif bagi dirinya bahkan mungkin bagi orang lain, tetapi karena jiwanya yang masih labil sehingga belum bisa menelaah apakah hal yang ia lakukan adalah baik atau buruk. Oleh karena itu seorang anak seharusnya mendapatkan bimbingan agar tidak melakukan sesuatu yang memberikan dampak negatif bagi dirinya dan orang lain, serta perlindungan terhadap hak-haknya agar tidak tertindas dari orang-orang yang mengambil keuntungan dan melepas tanggung jawabnya” .

“Indonesia berada dalam status darurat kekerasan terhadap anak. Demikian kesimpulan dari Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), berdasar pada statistik kasus kekerasan anak selama tujuh tahun terakhir.Merujuk rilis akhir tahun Komnas PA, ada 21.689.987 aduan pelanggaran hak anak yang tersebar di 33 provinsi dan 202 kabupaten/kota, selama lima tahun terakhir. Dari angka itu, 58 persen di antaranya adalah kejahatan seksual."Angka pengaduan pelanggaran hak anak yang terus meningkat adalah salah satu parameter di mana 'Indonesia Darurat Kekerasan Terhadap Anak. Secara khusus kejahatan seksual terus meningkat" kata Sekretaris Jenderal Komnas PA” .

Di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) saja, pada tahun 2015, Komnas PA mencatat ada 2.898 kasus kekerasan terhadap anak, sebanyak 59 persen di antaranya merupakan kekerasan seksual.Angka itu meningkat bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2013 tercatat 2.676 kasus, 54 persen didominasi kejahatan seksual. Pada 2014 sebanyak 2.737 kasus, dengan 52 persen kekerasan seksual. 

Catatan lain, dari 2.898 kasus di Jabodetabek itu, 62 persen tindak kekerasan terhadap anak berasal dari orang dan lingkungan terdekat.Samsul menyebut orang terdekat itu misalnya: guru, bapak kandung atau tiri, paman, keluarga, juga tetangga. Selain itu, kekerasan terhadap anak kerap terjadi di lingkungan sekolah, pondok pesantren, gereja, dan panti asuhan.Komnas PA juga mencatat peningkatan pelaku kekerasan, yang dilakukan anak di bawah 14 tahun.

Kasus Penganiayaan terhadap gadis cilik Engeline di Bali, penelantaran 3 anak oleh orangtua nya di cibubur, dan pemerkosaan beberapa siswa di jakarta barat oleh guru mereka masih segar dalam ingatan. Data yang berhasil dihimpun, baik oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan peningkatan jumlah kasus kekerasan yang melibatkan anak.

Keterkejutan kita tidak berhenti di situ, pelaku kekerasan terutama adalah orang tua atau kerabat anak, pengasuh, orang di sekitar tempat tinggal anak dan guru. Tindak kekerasan umumnya terjadi di lingkungan rumah dan sekolah (luar), padahal dua area itu merupakan pusat kegiatan dan hidup anak sebelum ia mampu melangkahkan kaki ke dunia luas.

Berdasarkan data (grafik) di atas, kekerasan seksual merupakan bentuk kekerasan yang banyak menimpa anak. Anak belum paham konsep seks, pemerkosaan dan pelecehan seksual. Ia belum mampu merumuskan pengalaman tidak menyenangkan tersebut sebagai bentuk kekerasan, apalagi menyebutnya sebagai pemerkosaan, ketidakpahaman anak dan mungkin juga perasaan kotor, jijik bakal menghilangkan alat bukti, karena korban akan mandi sebagaimana biasanya.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa penyebab terjadinya kekerasan pada anak? 
2. Mengapa kekerasan anak sulit dikendalikan?
3. Bagaimana cara mengatasi kekerasan terhadap anak?  

1.3 TUJUAN PENULISAN

A. Tujuan Umum
Mampu memahami secara menyeluruh tentang perlindungan terhadap kekerasan anak dalam lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar.

B. Tujuan Khusus
1. Dapat mengetahui penyebab kekerasan terhadap anak.
2. Dapat menjelaskan alasan kenapa kekerasan terhadap anak sulit di kendalikan.
3. Dapat menjelaskan cara mengatasi kekerasan terhadap anak.
BAB II
TEORI

Seorang anak adalah mahluk yang harus dilindungi, dikembangkan dan dijamin kelangsungan hidupnya, Bukan sebaliknya memandang anak sebagai sasaran empuk tindak kekerasan maupun kriminal. Perlindungan yang dapat dilakukan untuk anak adalah kebutuhan jasmani, rohani dan sosial agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara wajar.

Anak adalah sebuah kain sutera yang berharga. Harus dibilas dengan sabar bila ternoda. Harus dihaluskan dengan penuh perasaan bila kusut, karena anak adalah jiwa yang sedang berkembang. Anak adalah investasi masa depan yang harus kita jaga dengan kasih sayang. Jangan kasari jiwanya yang sedang berkembang, jauhkan kekerasan dari nyawanya yang sedang mekar. 

“Istilah kekerasan secara umum digunakan untuk menggambarkan  perilaku, baik yang terbuka atau tertutup, dan baik yang bersifat menyerang atau  bertahan, yang disertai penggunaan kekuatan kepada orang  lain” . Selanjutnya kekerasan khusus dilakukan terhadap anak, didefinisikan oleh  Pusat Pengendalian  dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika, adalah setiap tindakan atau  serangkaian tindakan wali atau kelalaian oleh orang tua atau pengasuh lainnya yang dihasilkan  dapat  membahayakan, atau berpotensi bahaya, atau memberikan ancaman yang berbahaya kepada anak. Sebagian besar terjadi kekerasan  terhadap  anak di rumah anak itu sendiri dengan jumlah yang lebih kecil terjadi di sekolah,  di lingkungan atau organisasi tempat anak berinteraksi. Ada empat kategori utama tindak kekerasan terhadap anak, yaitu pengabaian, kekerasan fisik, pelecehan emosional/psikologis, dan pelecehan seksual anak” .

Kekerasan adalah suatu bentuk hubungan sosial. Kekerasan  menunjukan kemampuan sosial, cara hidup, meniru model-model tingkah laku yang ada dalam lingkungan sosialnya dan diaplikasikan dalam situasi khusus di suatu masa kehidupan seseorang tersebut, Selain kekerasan menunjukan suatu kelas sosial, namun juga menunjukan kualitas hubungan interpersonal. Hubungan interpersonal ini seperti hubungan suami dan istri, orang dewasa dan anak, bahkan kategori lain seperti seseorang dengan suatu benda, kekerasan merupakan ancaman yang permanen karena mengakibatkan penindasan, pembatalan bahkankematian.

“Lebih jelas Adorno menjelaskan bahwa kekerasan terhadap anak adalah:
1. Kekerasan interpersonal;
2. Penyalahgunaan kekuasan orang tua dalam mengadakan hukuman dan tanggung jawab untuk menjaga anaknya;
3. Proses menjatuhkan korban yang berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun;
4. Proses di mana korban ditundukan dan dijadikan suatu objek;
5. Bentuk pelanggaran hak-hak asasi anak dan remaja; dan
6. Setiap keluarga memiliki hak-hak privasi, sehingga banyak keluarga yang menutupi kekerasan tersebut di depan orang lain” .

Undang Undang yang mengatur tentang kekerasan terhadap anak adalah Pasal 28B ayat (2) UUD 1945, ”Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”; 
Undang Undang No. 4 tahun 1979 diatur tentang kesejahteraan anak
Undang Undang No. 23 tahun 2002 diatur tentang perlindungan anak
Undang Undang No. 3 tahun 1997 tentang pengadilan anak
Keputusan Presiden No. 36 tahun 1990 diatur tentang ratifikasi konversi hak anak.

Anak adalah asset masa depan. Anak seharusnya dibimbing, diarahkan, dijaga, dirawat dan dididik secara baik. Tindakan kekerasan terhadap anak akan membuat anak menjadi tertekan dan terhambat masa depannya.Masa perkembangan anak semestinya dipenuhi kegembiraan sehingga berpengaruh positif bagi jiwanya. Akan tetapi, kecemasan dan ketakutan anak sekarang hadir di mana-mana: di sekolah, di jalanan, bahkan di rumah yang dihuni orangtuanya sekalipun. Kekerasan terhadap anak merupakan bagian dari bentuk kejahatan kemanusiaan yang bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia. Anak sering menjadi korban berbagai bentuk kekerasan baik secara fisik, seksual, psikis maupun penelantaran.

Secara yuridis melindungi anak-anak dari kekerasan yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Dan Pasal 28 B ayat 2 UUD 1945, yang menjamin perlindungan anak dari kekerasan, eksploitasi, dan diskriminasi. Serta setiap tanggal 23 Juli memperingati Hari Anak Nasional (HAN).Anak sebagai korban kekerasan cenderung merasa takut, diam dan tidak berani mengungkapkan masalahnya kepada orang lain, karena pelakunya kebanyakan adalah orang-orang terdekat. Misalnya, keluarga, kerabat maupun teman dekat.

Ada empat macam bentuk kekerasan terhadap anak.

Pertama, kekerasan seksual (sexual abuse), yang termasuk penjualan anak. 

Kedua, kekerasan fisik (physical abuseyang meliputi pemukulan dengan benda keras, menampar, menjewer, menendang yang mengarah pada perusakan kulit, jaringan dan organ tubuh tertentu.

Ketiga, kekerasan emosional atau psikologis (psychological abuse) atau disebut juga kekerasan verbal. Kekerasan ini dilakukan dengan cara membentak, memarahi dan memaki anak dengan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, sumpah serapah dan penghinaan.

Keempat, adalah kekerasan penelantaran atau ekonomi (economical abuse). Kekerasan ini dilakukan dengan cara membiarkan anak dalam kondisi kurang gizi, tidak mendapat perawatan kesehatan yang memadai, putus sekolah, dan memaksa anak menjadi pengemis. Menjadi buruh pabrik, dan jenis-jenis pekerjaan lainnya yang dapat membahayakan tumbuh-kembangnya anak.

BAB III
PEMBAHASAN

1. Apa yang menjadi penyebab terjadinya kekerasan terhadap anak ? 

Kebanyakan kekerasan timbul karena tekanan ekonomi. Tertekannya kondisi keluarga yang disebabkan himpitan ekonomi adalah faktor yang banyak terjadi yang menyebabkan kekerasan pada anak. Tapi tidak serta merta orang yang ekonominya rendah tega melakukan kekerasan fisik kepada anaknya, hal lain yang memicu kekerasan kepada anak antara lain adalah pewarisan kekerasan antar generasi ke generasi, kemudian stress sosial, seperti pengangguran, penyakit, perumahan dan lingkungan yang buruk, selain itu sebagian besar kekerasan pada anak berasal dari keluarga miskin.Adanya Permasalahan antara kedua orangtua yang mengakibatkan anak yang hidup di dalam rumah tangga tersebut mengalami perlakuan kejam, baik secara fisik, emosional maupun seksual.Kebanyakan orang tua beranggapan bahwa mendidik anak dengan keras merupakan bagian dari pembelajaran agar anak tumbuh menjadi sosok yang disiplin.

Faktor gangguan kejiwaan dari orang tua dapat melatarbelakangi orangtua melakukan kekerasan fisik terhadap anak. Bisa saja mental orang tua yang melakukan kekerasan pada anak karena jiwanya terganggu, kekerasan yang dilakukan orang tua kepada anak kandungnya dilakukan tanpa disadari.

Tidak ada kontrol sosial pada tindakan kekerasan terhadap anak. Bapak yang mencambuk anaknya tidak dipersoalkan tetangganya, selama anak itu tidak meninggal atau tidak dilaporkan ke polisi. Sebagai bapak, ia melihat anaknya sebagai hak milik dia yang dapat diperlakukan sekehendak hatinya. Tidak ada aturan hukum yang melindungi anak dari perlakuan buruk orang tua atau wali atau orang dewasa lainnya. Sebagai contohnya anak yang kebetulan anak dari seorang dosen, kegiatan di rumah diatur sesuai jadwal yang ditetapkan orang tuanya. Ia harus belajar sampai menjelang tengah malam. Subuh harus bangun untuk bekerja membersihkan rumah. Bila anak tersebut melanggar, ia pasti dipukuli. Sang bapak yang berprofesi sebagai dosen sama sekali tidak merasa bersalah. Ia beranggapan melakukan semuanya demi kebaikan sanganak, mengatur anak tanpa mempertimbangkan kehendak anak sudah dianggap sebagai kewajiban orang tua, padahal perlakuan bapak itu sudah di luar batas wajar, seharusnya ada toleransi atas pelanggaran yang dilakukan anak ketika ada salah satu jadwal yang ia langgar karena terlalu berat untuk dilakukan setiap harinya, misal dengan di beri nasihat atau jadwal yang lebih ringan agar anak tidak merasa tertekan dengan aturan yang di berikan orangtua nya. Begitulah salah satu dari kebanyakan kasus yang tanpa di sadari telah membuat anak mengalami perlakuan yang kejam atau anak mengalami gangguan mental karena tekanan dari orang tua nya.

Pengalaman mengalami kekerasan. Kemungkinan ini dapat menyebabkan orang tua melakukan kekerasan fisik terhadap anaknya, karena ada rasa ingin balas dendam orang tua terhadap anaknya tega melakukan kekerasan fisik.

2. Mengapa kekerasan pada anak sulit dikendalikan?

“Indonesia saat ini dalam darurat kejahatan terhadap anak dimana dalam kurun waktu tiga tahun angka kekerasan terhadap anak mencapai 21.689.797 kasus, kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)” ."Kekerasan terhadap anak sekarang terus meningkat," katanya . Dari jumlah tersebut, 58 persen merupakan kejahatan seksual terhadap anak yang mengakibatkan korbannya mengalami troma yang berkepanjangan.
Ia menuturkan dari sekian banyaknya kasus, pelakunya merupakan orang-orang terdekat yang seharusnya mengayomi dan melindungi anak bukan malah menjadi pelaku kekerasan. "Kebanyakan para pelaku masih mempunyai hubungan kerabat dengan korbannya," tuturnya.

Jika penegakan hukum negara masih lemah terhadap pelaku kekerasan terhadap anak, maka kekerasan itu akan terus meningkat dan sulit dikendalikan, negara harus berani menghukum pelaku kekerasan terhadap anak semaksimal mungkin."Negeri ini harus berani mengubah undang-undang tentang pelaku kekerasan anak di hukum seberat-beratnya," tuturnya.

Ia menambahkan, pelaku kekerasan terhadap anak sekarang ini bisa lepas dari jeratan hukum karena undang-undangya terlalu lemah dan tidak bisa menindak pelaku dengan hukuman maksimal yaitu 15 tahun penjara, dimana sekarang ini pelaku bahkan bisa lepas dari jeratan hukum, untuk itu undang-undang perlu diubah agar pelaku tidak bisa lolos dari jeratan hukum.

"Perpu tentang pemberatan hukuman pelaku kekerasan seksual terhadap anak dengan dikebiri merupakan langkah yang tepat dengan kondisi seperti sekarang ini," tambahnya. Selain hukuman yang harus diperberat, kekerasan terhadap anak juga harus dikatakan sebagai kejahatan luar biasa dan ini sangatlah penting dan jika tidak, maka tidak akan selesai kejahatan terhadap anak.

Kampanye mengenai perlindungan terhadap anak dan kampanye hindari kekerasan terhadap anak semakin hari semakin terus bergema. Namun berbagai bentuk kekerasan masih saja ditemui dimana-mana. Kesadaran dari setiap individu, baik anggota keluarga, sekolah, maupun lingkungan masyarakat masih sangat diperlukan. Kekerasan ternyata tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga bisa dalam bentuk verbal, emosional, maupun seksual. Kekerasan verbal termasuk bentuk kekerasan yang kerap ditemui dan biasanya orangtua tidak menyadari telah melakukan hal tersebut.

3. Bagaimana cara mengatasinya kekerasan terhadap anak ?

Cara mendidik dan membesarkan anak dalam sebuah keluarga sangat penting. Membesarkan anak memang membutuhkan kesabaran dan kasih sayang, agar segala penyampaian perhatian dan pembelajaran dapat di mengerti oleh sang anak. Secara tidak disadari kekerasan dalam bentuk verbal seringkali terjadi pada anak. Hal ini sering terjadi bila orang tua sedang marah. Bila sedang emosi kadangkala kata kata kasar yag tidak pernah keluar dari mulut orangtua akan meluncur begitu saja tanpa disadari.Di samping itu kalimat atau panggilan yang tidak berkenan di hati anak sering terjadi. Panggilan seperti “si gendut”, si kurus”, atau “si pemalas”, disadari atau tidak, dapat menimbulkan efek negatif pada anak. Panggilan tersebut bisa berdasarkan karakter fisik, pribadi, maupun kebiasaannya. Padahal, maksud orang tua memberi panggilan tersebut kadang hanya sebagai “panggilan kesayangan” atau memicu anak menjadi lebih rajin dan disiplin.
Tidak semua anak dapat menerimanya dengan baik, terutama bila memiliki sensitivitas tinggi. Apabila hal ini berlangsung terus menerus dalam kurun waktu yang lama, tidak jarang membuat anak stress, depresi, minder, yang berpengaruh pada perkembangan anak selanjutnya. Hal ini pun bisa terus membekas pada benak anak hingga beranjak dewasa. Dan ibarat sebuah lingkaran, mereka akan meneruskan “kebiasaan” atau “panggilan” tersebut ke lingkungan sekitar dan keturunan berikutnya.

Kesadaran dan sikap empati orang tua terhadap perasaan dan perkembangan jiwa anak merupakan kunci utama menghindari hal tersebut. Mencoba memahami dunia anak dapat membantunya mengatasi permasalahan yang dihadapinya.Sebutan dan panggilan tersebut kadang sulit untuk dikendalikan, dan tidak menutup kemungkinan pula ada anak yang tidak terpengaruh. Untuk mengetahuinya, bisa dilihat dari perubahan mimik anak saat mendengar nama sebutannya dipanggil. Apabila raut wajahnya menunjukkan kekesalan atau kemarahan maka ini merupakan alarm bagi orang tua untuk segera menghentikan kebiasaan tersebut.Bisa juga dengan melihat ada tidaknya perubahan sikap pada anak. 

Misalnya, meski dipanggil anak malas, tidak ada perubahan pada sikapnya alias tetap malas. Bukan berarti dengan demikian anda bisa terus memanggil sebutan-sebutan lain untuknya. Hal ini menandakan bahwa tidak ada gunanya menggunakan kata sebutan yang bersifat negatif, karena toh tidak ada hasilnya. Penyebutan tersebut hanya memberi satu dampak, yaitu perasaan tidak aman. Penyebutan nama untuk anak yang bersifat merendahkan atau makian, seperti “kamu bodoh”, “anak nakal”, “anak malas” atau sering menyebutnya sebagai “sebuah kesalahan terbesar” merupakan bagian dari bentuk-bentuk kekerasan verbal. Biasanya hal ini terjadi ketika anak melakukan suatu hal yang dianggap salah. Sayangnya, bukannya diberi pandangan dan alasan yang tepat mengapa hal tersebut tidak boleh dilakukan, yang diterima anak justru hanya kemarahan dari orang tua.

Hal ini pun menimbulkan dampak jangka panjang pada anak, terutama pada segi perkembangan psikologis hingga anak dewasa. Diantaranya adalah persepsi diri yang negatif, anak enggan bersosialisasi, tidak mampu mengontrol amarahnya, dan melakukan kekerasan verbal terhadap teman sebayanya atau anaknya kelak ketika mereka sudah menjadi orang tua. Dengan kata lain, bentuk-bentuk kekerasan seperti ini pun akan terus berlangsung dari generasi ke generasi. Tak ada cara lain selain memulainya dari diri sendiri untuk memutus lingkaran tersebut.

Memerhatikan nada bicara dan menggunakan kosa kata yang tepat merupakan salah satu cara untuk menghindari terjadinya kekerasan verbal. Pada sebagian orang kebiasaan ini memang sulit untuk segera dilakukan, namun dengan sering melakukannya baik kepada pasangan maupun orang-orang disekitar maka hal tersebut sangat mungkin menjadi kenyataan terutama jika dalam keadaan emosi tinggi, di mana dalam momen seperti inilah kekerasan verbal kerap sulit dihindari. Pada akhirnya anak juga akan mencontoh prilaku tersebut sehingga tidak berkata kasar kepada orangtua, teman, maupun orang-orang di lingkungan sekitarnya.

Kekerasan terhadap anak dari kasus diatas atau kasus yang lain dapat diatasi dengan cara sebagai berikut:

a. Sosialisasi yang lebih gencar lagi dari pemerintah tentang pentingnya untuk segera melaporkan apabila terjadi  tindak kekerasan. Hal ini mungkin tidak dilakukan oleh korban sendiri yang notabene masih anak-anak tapi bisa dilakukan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya

b. Hendaknya mulai ditanamkan kesadaran di masyarakat bahwa anak bukanlah milik orang tua atau kerabat saja yang bisa diperlakukan sesukanya tapi sebagai suatu tanggung jawab yang harus dijaga dan dilindungi 

BAB IV
PENUTUP

1.1 KESIMPULAN

Fenomena kekerasan terhadap anak semakin mengkhawatirkan. Secara kuantitaf  maupun kualitatif ada kecenderungan mengalami peningkatan. Pelakunya pun  tidak saja orang dewasa, tetapi juga sesama anak-anak. Keluarga yang merupakan lingkungan utama dan pertama bagi anak untuk tumbuh kembang anak, justru menjadi lingkungan yang berpotensi melakukan kekerasan. Kemudian, sekolah sebagai tempat pengembangan ilmu dan perilaku sosial anak, juga berpotensi menjadi lingkungan yang tidak aman bagi anak.
Setelah melihat tindak kekerasan terhadap anak, penanggulangan  terhadap tindak kekerasan terhadap anak harus menjadi tindakan bersama, antara pemerintah dan segenap unsur masyarakat. Pemerintah memang telah mengeluarkan sejumlah regulasi terhadap anak tetap tinggi. Maka tawaran solusinya diperlukan pelibatan segenap unsur masyarakat mulai tingkat akar rumput. Kelembagaan sosial yang tumbuh di masyarakat secara alami, maupun tumbuh dari hasil inisiasi pemeritah, perlu difasilitasi untuk mengoptimalkan peranannya  dalam penanggungan tindak kekerasan terhadap anak.

1.2 SARAN

Undang-undang yang telah dibuat dengan baik dan memperhatikan terhadap hak-hak anak namun pemerintah kurang mensosialisasikan dan merealisasikan isi undang-undang tersebut. Pemerintah dan masyarakat kurang berperan dalam menjalankan undang-undang tersebut dikarenakan anak masih dalam pengawasan dan pengasuhan keluarga oleh sebab itu kita harus menegakkan hukum tentang perlindungan anak dan memberikan pendidikan yang layak untuk usianya yang masih kecil. Serta pengawasan dan kasih sayang dari orang tua perlu untuk menjaga dari kekerasan terhadap anak.
DAFTAR PUSTAKA 

Jurnal: 

journal.unikal.ac.id/index.php/hukum/article/download/176/112

puslit.kemsos.go.id/download/248

jurnal.fh.unila.ac.id/index.php/fiat/article/viewFile/586/525

Website: 

http://www.kpai.go.id/berita/kpai-pelaku-kekerasan-terhadap-anak-tiap tahun-meningkat/

https://psychologicalspot.wordpress.com/2012/02/22/teori-tipologi-bentuk-kekerasan-psikologis-terhadap-anak-child-psychological-violence/

http://print.kompas.com/baca/opini/duduk-perkara/2015/07/29/Memutus-Mata-Rantai-Kekerasan-terhadap-Anak

http://abiummi.com/inilah-jenis-jenis-masalah-dalam-keluarga-yang-paling-sering-terjadi/

https://beritagar.id/artikel/berita/darurat-kekerasan-anak-jumlah-kasus-terus-meningkat

http://diluarpengetahuan.blogspot.co.id/2015/05/sebab-terjadinya-kekerasan-terhadap-anak.html

http://www.antaranews.com/berita/525236/kpai-indonesia-darurat-kejahatan-kekerasan-anak

https://korandemokrasiindonesia.wordpress.com/2009/11/28/kekerasan-pada anak-kekerasan-verbal-pada-anak-masihkah-ada-dalam-keluarga kita/

https://liasetianingsih.wordpress.com/2010/03/05/pasal-28b-ayat-2/