Uncategorized

Makalah Model-Model Pendidikan

 Makalah Model-Model Pendidikan. Pada postingan kali ini saya akan memberikan contoh  Makalah Model-Model Pendidikan , Semoga saja contoh makalah ini bermanfaat bagi para pembaca semuanya .


Di blog ini ada juga contoh makalahcontoh proposalcontoh surat, yang bisa menjadi bahan bacaan dan referensi dalam mengerjakan tugas sekolah atau tugas kuliah.

Makalah Model-Model Pendidikan


Makalah model-model pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Seorang guru selain dituntut untuk memiliki ilmu yang cukup untuk mengajar dan juga komunikatif, juga ternya harus memiliki rancangan-rancangan perencanaan pembelajaran agar materi yang disampaikan menjadi terarah dan mudah dimengerti oleh murid-muridnya.

Perencanaan pembelajaran terdapat terbagi menjadi model-model yang salah satunya harus dikuasai oleh guru untuk memudahkan dalm penyampaian materi. Disini kami akan menjabarkan bagaimana model-model perencanaan pembelajaran yang telah dirumuskan oleh para ahli yang sudah berpengalaman di bidangnya.

B. PERMASALAHAN

Yang menjadi permasalahan yang akan kami bahas adalah sebagai berikut:

1. Apakah pengertian perencanaan pembelajaran?

2. Apa-apa sajakah model-model pembelajaran?

C. TUJUAN

Adapun tujuan kami membuat makalah ini yaitu:

sebagai pelengkap tugasmata kuliah perencanaan pengajaran pai
untuk menambah wawasan bagi pembaca dan penulistentang pentingnya model-model perencanaan pembelajaran.
sebagai sarana pelatihan bagi tim penyusun untuk menulis karya ilmiah

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN.

Perencanaan pembelajaran adalah proses menspesifikasi kondisi-kondisiuntuk belajar sehingga tercipta strategi untuk produk pembelajaran baik pada level mikro maupun makro.

Jadi perencanaan pembelajaran adalah suatu pemikiran atau persiapan untuk melaksanakan tugas mengajar/aktivitas pembelajaran dengan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran serta melalui langkah-langkah pembelajaran, perencanaan itu sendiri,pelaksanaan dan penilaian, dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditentukan

B. MODEL-MODEL PERENCANAAN PEMBELAJARAN

Dalam menyusun perencanaan pembelajaran,banyak model yang telah dikemukakan oleh para ahli.masing-masing model mempunyai eklebihan dan kekurangan. Dari beberapa model yang telah dicantumkan di bawah ini diharap para mahasisa yang akan menjadi guru dapat menetukan dan menguasai satu model secara tuntas, sehingga dapat digunakan dalam merencanakan proses belajar mengajar yang lebih sistematis, dan disamping itu akan lebih terarah dalam menilai suatu pelajaran yang telah dilaksanakan.

1. Model Perencanaaan Pembelajaran Menurut Para Ahli

a) Model Glaser

Model ini merupakan model pokok tentang proses mengajar. Model lainnya pada dasarnya adalah perluasan dari model pokok ini. Model pokok tersebut dalam bentuk skema adalah sebagai berikut:

Pada model ini terdapat empat komponen penting. Untuk masing masing komponen itu, guru sebagai pengelola proses belajar harus mengambil keputusan. Jadi dalam merencanakan suatu pelajaran guru harus menetukan tujuan apa yang harus dicapai oleh siswa pada akhir suatu pembelajaran (komponen A). Sehubungan dengan situasi permulaan (komponen B) guru harus memutuskan bagaimana situasi permulaan siswa,guru dan sekolah. Berkenaan dengan prosedur instruksional (komponen C) guru harus menentukan strategi apa yang akaan dipakaiagar tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai. Sehubungan dengan penilaian performance (komponen D) guru harus memutuskan cara dan alat yang tepat untuk menetukan tercapainya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

b) Model J.E. Kemp

Menurut J.E. Kemp (1994 : 14)ada sepuluh unsur yang harus diperhatikan di dalam membuat suatu perencanaan pengajaran.Kesepeluh unsur tersebut digambarkan oleh Kemp dengan mempergunakan bentuk bulat telur sehingga lebih fleksibel, karena antara satu dengan yang lainnya saling berhubungan. Hal ini dapat dilihat dari gambar berikut :

Kalau dibandingkan dengan model pokok dari Glaser, model Kemp ini merupakan model yang lebih luas. Perluasan terutama pada ”prosedur instruktural”. Menurut model ini guru harus mengambil keputusan dalam hal berikut:

a. Tujuan umum yang akan dicapai dari topik yang dipilih.

b. Tujuan khusus apa yang ingin dicapai

c. Prosedur pembelajaran yang bagaimana yang paling sesuai untuk mencapai tujuan:

· Materi mana yang sesuai untuk mencapai tujuan.

· Alat apa yang akn digunakan untuk mengetahui, sejauh mana siswa telah mengetahui tentang materi yang akan di sajikan.

· Kegiatan belajar mengajar yang bagaimanakah yang harus diusahakan sehinnga siswa belajar sesuatu.

· Alat belajar mengajar apa yang harus digunakan untuk membantu terjadinya proses belajar secara efektif.

d. Bagaimana mengetahui bahwa tujuan tercapai, bagaimana caranya dan apa alatnya.

c) Model V. Gelder

Enam langkah model pembelajaran Van Gelder

1) Tujuan Instruksional

Tujuan instruksional merupakan langkah pertama yang harus dirumuskan dari suatu pembelajaran. Tujuan instruksional merupakan harapan yang ingin dicapai warga belajar seletah warga beljar mempelajari bahan ajar. Tujuan pembelajaran mencakup tujuan pembelajaran secara umum, dan tujuan pembelajaran secara khusus/ spesifik.

2) Analisis situasi kelas

Situasi kelas adalah situasi warga belajar yang akan mengikuti suatu kegiatan pembelajaran. Mengapa harus dianalisis? Hal ini perlu, karena agar tidak terjadi kerugian. Kerugian sering terjadi manakala guru/perencana pembelajaran salah menaksir situasi kelas. Kesalahan terjadi pada kasus pemilihan bahan, pemilihan alat pembelajaran, dan penentuan tujuan.

Kasus pemilihan bahan yang terlalu sulit atau terlalu mudah kedua-duanya tetap merupakan kerugian. Terlalu sulit, akibatnya warga belajar tidak memahami isi pembelajaran dan warga belajar tidak dapat mencapai tujuan pembelajaran. Terlalu mudah, akibatnya warga belajar tidak serius beljara. Warga belajar menganggap enteng, menganggap kurang perting, karena bahan yang diajarkan telah dimilikinya.

Pemilihan alat pembelajaran untuk membantu warga belajar mencapai tujuan pembelajaran. Suatu kelas ada yang harus, ada yang stengah harus, dan ada pula yang tidak perlu menggunkan alat pembelajaran. Hal ini tergantung pada bahan yang akan diajarkan, dan cara pengajaran yang digunakan.

Penentuan tujuan harus disesuaikan dengan keadaan warga belajar. Tujuan yang dirumuskan tidak terlalu rendah dan tidak terlalu muluk. Terlalu rendah mengakibatkan warga belajar tidak dipacu untuk belajar keras. Terlalu tinggi juga menimbulkan masalah, warga belajar sulit mencapi tujuan pembelajar, dengan kata lain warga belajar berhasil.

3) Kegiatan pengajar dan warga belajar

Setelah penentuan tujuan instruksional dan penentuan karakteristik kelas berdasarkan hasil analisis, maka harus ditentukan kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan oleh pengajar dan kegiatan yang harus dilaksanakan warga belajar. Baik kegiatan pengajar, maupun kegiatan warga belajar harus merupakan suatu sistem. Kegiatan ini termasuk kegiatan interaksi, di satu pihak guru mempengaruhi warga belajar agar belajar, dan di pihak laim kegiatan warga belajar yang mempengaruhi kegiatan/taktik guru. Jadi ada kegiatan timbal baik. Kegiatan timbal balik ini dirumuskan dalam suatu kegiatan pembelajaran (kegiatan guru dan murid).

4) Materi Pembelajaran

Materi pembelajaran dirumuskan setelah jelas kegiatan yang akan ditempuh baik oleh pengajar, maupun oleh warga belajar. Materi pembelajaran diarahkan untuk memenuhi tuntutan yang diinginkan oleh rumusan tujuan instruksional.

5) Alat Pembelajaran

Alat pembelajaran ditentukan dan dipilih setelah materi pembelajaran disusun. Memang, alat pembelajaran dipilih untuk tujuan memperjelas bahan yang disajikan. Apabila bahan yang disajikan mudah dipahami warga belajar, maka warga belajar untuk mencapai tujuan peluangnya lebih besar. Alat pembelajaran membantu warga belajar yang memrlukan penjelsan selain penjelasan secara verbal.

6) Evaluasi dan Revisi

Langkah terakhir ialah mengadakan evaluasi terhadap warga belajar. Evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui tingkat penguasaan warga belajar terhadap materi yang telah disampaikan. Dari evaluasi akan diperoleh suatu hasil. Hasil inilah yang menjadi bahan penentu apakah perlu diadakan revisi, apakah tidak usah diadakan revisi. Hal ini ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, apabila hasil bembelajaran yang dicapai warga belajar kurang baik, maka revisi wajib dilaksanakan. Sedangkan, apabila hasil evaluasi menunjukkan angka yang baik, maka tidak usah diadakan revisi.

Namun kalau dibandingkan dengan model J.E. Kemp. Terdapat beberapa perbedaan. Model tersebut adalah sebagai berikut :

· Pada model ini ”Karakteristik Siswa” disebut ”Analisis Situasi” sehubungan dengan komponen ini guru tidak hanya mengaambil keputusan tentang siswa yang akan diajar, tetapi juga tentang kondisi yang ada di sekolah yang dapat menunjang terjadinya proses belajar dan tentang guru.

· Komponen kegiatab guru dan siswa dipisahkan secaar nyata. Selain daripada itu komponen kegiatan guru,kegiatan siswa, materi pelajaran, alat/bahan harus dibuat dalm matrik sehunnga mudah dibaca secara horizontal.

2. Model Perencanaaan Pembelajaran sistemik

Suatu model perencanaan pengajaran sistemik, mengandung beberapa langkah yaitu :

1) Identifikasi tugas-tugas.

Kegiatan merancang suatu program harus dimulai dari identifikasi tugas-tugas yang mennjadi tuntutan suatu pekerjaan. Karena itu, perlu dibuat suatu Job description (rincian tugas) secara cermat dan lengkap.

2) Analisis tugas

Tugas-tugas yang telah ditetapkan secara dimensional dijabarkan menjadi seperangkat tugas yang lebih terperinci. Setiap dimensi tugas dijabarkann seemikian rupa yang mencerminkan segala sesuatu yang harus dikerjakan oleh lulusan

3) Penetapan kemampuan

Langkah ini sejalan dengan langkah yamg telah dilaksanakan sebelumya. Setiap kemampuan hendaklah didasarkan kepada kriteria kognitif, afektif dan psikomotorik. Kemampuan-kemampuan itu haruslah relaven denga tuntutan kerjadan keperluan masyarakat.

4) Spesifikasi pengetahuan, keterampilan dan sikap

Setiap kemampuan yang harus dimiliki siswa perlu dirinci dalam pengetahuan apa dan keterampilan apa saja yang harus dikuasai.

5) Identifikasi kebutuhan pendidikan dan latihan

Langkah ini merupakan analisis kebutuhan pendidikan dan latihan. Jenis-jenis pendidikan dan atau latihan-latihan apa yang sewajarnya disediakan dalam rangka mengembangkan kemampuan-kemampuan yang telah ditetapkan, seperti kegiatan belajar teoritik dan praktek/latihan lapangan.

6) Permusan tujuan

Tujuan-tujuan program atau tujuan pendidikan ini masih bersifat umum sebagi tujuan kulikuler dan tujuan yang dirumuskan harus koherendengan kemampuan-kemampuan yangbhendak dikembangan.

7) Kriteria keberhasilan program

Kriteria ini sebagai indikator keberhasilan suatu program. Keberhasilan ditandai oleh ketercapaian tujuan-tujuan atau kemampuan yang diharapkan. Tujuan-tujuan program dianggap tercapai jika lulusan dapat menunjukkan kemampuannya melaksanakan tugas yang ttelah ditetapkan.

8) Organisasi sumber-sumber belajar

Langakh ini menekankan pada materi pelajaran yang akan disampaikan sehubungan dengam pencapaian tujuan kemampuan yang telah ditentuan.

9) Pemilihan strategi pengajaran

Titik berat anaalis pada langkah adalah penentuan srategi an metode yang akan digunakan untuk mencapai tuuan kemampuan yang diharapkan. Perlu dirancang kegiatan-kegiatan pengajaran dan dalam benttuk barisan tatap muka.

10) Uji lapangan program

Uji coba program yang telah didesain dimaksudkan untuk melihat kemungkinan pelaksanaannya. Melalui uji coba secara sistematis dapat dinilai kemungkinan keberhasilan.

11) Pengukuran rehabilitas program

Pengukuran ini sejalan dengan pelaksanaan uji coba program di lapangan. Berdasarkan pengukuran itu dapat diperiksa sejauh mana efektivitas program,validitas dan rehabilitas alat ukur.

12) Perbaikan dan penyesuaian

Langakh ini merupakan tindak lanjut setelah dilaksanakan uji coba dan an pengukuran. Perbaikan dan adaptasi program barangkali diperlukan guna menjamin kohherensi, konsumsi, dan monitoring sistem.

13) Pelaksanaan program

Pada tingkat ini perlu dirancang dan dianalisis langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam rangka pelaksanaan program. Langkah ini didasari oleh satu asumsi bahwa rancangan program yang telah di desain secara cermat dan telah mengalami uji coba serta perbaikan dapat dipublikasikan dan dilaksanakan dalam sampel yang lebih luas.

14) Monitoring program

Sepanjang pelaksanaan program perlu diadakan monitoring secara terus dan berkala untuk menghimpun informasi tentang pelaksanaan program.

BAB III
KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang telah kami petik dalam makalah ini yaitu:

1. Perencanaan pembelajaran adalah suatu pemikiran atau persiapan untuk melaksanakan tugas mengajar/aktivitas pembelajaran dengan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran serta melalui langkah-langkah pembelajaran, perencanaan itu sendiri,pelaksanaan dan penilaian, dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditentukan.

2. Model-model perencanaan pembelajaran terbagi menjadi 2 yaitu:

· model perencanaan pembelaaran yang telah dirumuskan oleh para ahli yang terkemuka dibidangnya


·      model perencanaan pembelajaran sistemik

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *