Uncategorized

40+ Puisi Cinta Religi Terbaru



Puisi cinta adalah puisi yang dapat membuat penikmatnya atau pembaca puisinya atau pendengar orang yang membacanya menjadi lebih menjiwai dan dengan harapan dapat memberikan pencerahan mengenai apa arti cinta yang sebenarnya, mengenai apa itu cinta sesaat dan cinta yang selamanya.



Puisi Cinta Religi Terbaru

 



Puisi cinta dibawah ini saya tulis ulang dari sumbernya yang saya tulis dibagian paling bawah, puisi yang sangat menggugah hati kita untuk terus mengingat kepada tuhan yang maha esa, untuk terus bersyukur atas cintanya kepada kita atau cinta yang pernah kita rasakan.




Berikut puisi cinta terbaru :

Puisi Cinta SOBAT

Sahabat bukanlah kerabat
Sukanya hanya pejabat
Maunya menang
Kalahnya pasti perang
Tegurannya kadang specifik
Nasehatnya adalah munafik
Perangainya beda
Adatnya susah terbaca


Sobat…


Jangan suka membabat
Karena kita hanyalah classmate
Bukan untuk diskakmate
Mengapa harus berteman
Jika hatimu masih saja preman
Membuat hatiku bopeng
Sembunyi di balik topeng
Engkau egois
Gayamu terlalu borjois
Padahal aslinya kampungan
Di kampong tetap saja gelandangan
Lebih baik kita berpisah
Biar hati tak lagi resah
Selamat tinggal kawan
Semoga engkau menjadi ilmuwan


Puisi Cinta IN A YUNCHU

Suatu tanda tak terlupakan
Di antara hidung dan bibirmu
Kecil hitam mengembung
Warnai corak karaktermu
Indah namamu
Meninabobokkanku di sampingmu
Manis senyummu
Mengherankanku dalam lamunan
Terbayang wajahmu
Ketika duka itu terpajang
Sesuatu tlah menimpamu
Tatkala lama kumelupakanmu
Engkaulah adikku
Pantas Engkau menjadi adikku
Yang lama kuidamkan
Engkaulah sayangku
Yang slalu kuabaikan
Karna Engkau ingin sendiri
Berkarya penuh idealisme
Mencoba mambuktikan diri
Meraih impianmu dengan jerihmu
Menantang aral yang berombak
Di balik lembutmu ada ketegaran
Kuat mendukung sgala rencana


Lemahmu adalah kekuatan
Semua itu akan teraih
Doaku slalu untukmu
Meski jauh jarak dan batas
Dukunganku slalu untukmu
Keyakinanku pasti ada kesuksesanmu


Puisi Cinta SURAT AN-NISA

Hitam bagaikan manggis
Isimu putih dan manis
Senyummu teramat feminis
Biarpun kau sinis
Dan ucapanmu terdengar sadis
Namun kau tetap kelihatan manis
Nis….
Sapaan sayangku padamu
Memintamu menunggu
Hanya untuk melihat secuil senyummu
Obat pelipur lara
Ketika tegang oleh tugas
Membuatku tenang dan konsen
Nis…
Kaulah adikku yang imut
Pesona keibuan tak rumit
Memberikan kedamaian
Yang tak mungkin kulupakan
Semoga Engkau tetap adikku
Wanita sempurna seperti namamu

I will miss u


Puisi Cinta KARTIKA 2

Berlabuh tanpa sauh
Terhempas oleh gelombang
Tegar hadapi tantangan
Tanpa nakoda yang mengemudi
Tangguh hadapi ombak
Tibalah Engkau di pelabuhanku
Berlabuh dengan setengah sauh
Terkaram di palung hati
Yang tak mungkin kuungkapkan
Demi menjaga keegoan
Yang terlanjur terlontarkan
Keterusterangan patut dihamparkan

Karena hasrat ini telah mengintip


Puisi Cinta MELINGKUH

Selama denyut nadi berdetak
Engkau sejatinya cinta sejatiku
Lebih murni dibanding emas
Indah mengkristalkan hati dan hari
Namun aku bukanlah malaikat
Gampang terusik dalam kesendirian
Karena jarak mengasingkan hasrat
Untaian gelora mengeram rasa
Hamburkan rayu mencari mangsa
Sungguh aku tlah bersalah
Enggan menolak bisikan iblis
Lunturlah iman yang dulu terjaga
Ingin sekali malah jadinya berkali-kali
Namun apa yang kucari belum kudapati
Galau meratapi kegalauan tanpa sebab
Kuhancurankan kepercayaan yang
diberikan

Untung sisa sisa harapan itu masih ada


Hingga kutau semua itu hanyalah dosa
Sudikah aku dimaafkan?
Emang tak pantas diriku dimaafkan
Lebih baik aku pergi
Insyafkan diri dengan bertobat
Niscaya harapan itu masih ada
Gubriskan hatimu tuk menerima
Keikhlasan dalam memaafkan
Untuk memulai hidup yang baru

Hingga ajal itu tiba di tapak kakimu


Puisi Cinta TERNYATA PARNO

Kutau sense tatapanmu
Kutau makna ucapanmu
Namun tak kutahu isi hatimu
Meski katamu “itulah cintamu”
Ternyata….
Kutau berapa besar cinta dibalik BHmu
Kutau berapa dalam cinta dibalik CDmu
Namun tak kutahu luas cinta di hatimu
Meski katamu “itulah cintamu”
Ternyata…..
CINTAMU ADALAH ANUGERAH
Yang mampu membuat Anu-ku gerah
Tak kenal lelah dan jerah
Meski dipaksa menyerah

Ku tetap ANU-GERAH


Puisi Cinta SMOKER ADDICT

Setiap tarik-isapan rokok di bibir
Engkau bagaikan bara di ujungnya
Nyalamu meredup suram dan berdebu
Bersama tusukan tajammu ke paruparuku
Kepulan asap menghilang
Namun rasamu masih berbekas di
sanubari
Saat fikiran menjadi tenang
Puluhan saat kemudian galau
menghampiri
Cita cintamu tiada sense of belonging

Yang mampu membuatku kecanduan


Meski kuakui bahwa aku pecandu cinta
Namun semua itu tak kutemui darimu
Karena niatmu hanyalah kepulan asap
Pasti menghilang entah kemana
Kusadar engkau hanyalah tembakau
Yang belum mampu memarlborokan
hatiku
Engkau hanyalah rokok
Temani lamunanku dalam kesendirian
Tatkala aku kehabisan marlboroku
Selamat tinggal asapku
Kutak mau mengidap batuk olehmu
Karena aku hanya pecinta Marlboro
Tak ada lain selain Marlboroku
Maafkan aku mencampakkanmu
Maafkan aku dengan maafmu

Semoga harimu kan selalau indah


Puisi Cinta PLAYBOY CAP KODOK

Aku hanyalah playboy cap kodok
Yang suka memangsa kacang cap
kelinci
Karna kutahu….
Kelinci suka memakan wortel
Kelinci suka silver queen
Kelinci suka kacang panjang
Dan kelinci lebih suka mentimun
Keinginan kelinci adalah kegemaranku
Meski kelinci suka berdusta
Demi mendapatkan keinginannya
Namun aku lebih pandai menipunya
Kutahu kelemahan kelinci
Keberikan kelebihanku menutupi
kelemahannya
Hingga kelinci tak sadarkan diri
Dirinya telah dikeranjangi
Dirinya telah dibungkus plastik
Yang siap untuk disantap
Begitu banyak kelinci kukeranjangi
Banyak kelinci kutelanjangi
Dan banyak sudah kelinci yang kuabonin
Semua itu telah menyadarkanku
Bahwa aku hanyalah kodok
Siap menerkam dan menelan

Tanpa tahu akibat dari yang tertelan


Telah berani memainkan banyak api
Dan pasti akan terbakar sendiri
Pasti akan kena batunya nanti
Sadarlah…sadarkan aku!!!
Aku telah terperangkap oleh

perangkapku sendiri


Puisi Cinta RT–DORAEMON

Awalnya Doraemon
Akhirnya baling-baling bambu
Tengahnya dorongan
Buntutnya terjatuh
Ekornya di Ncc
Kepalanya seputar GS
Ujungnya ada di hati
Sejauh rasa menyelam
Setinggi pesawat terbang
Pendaratannya hanya ada di hati
Semua bukan teka teki
Berlalu penuh berjuta kesan
Tiada penghujung dan akhir
Hanya takdir hakim pemisah
Engkaulah RT
Karna ayahmu ketua RT
Membuatku terpaku di hatimu
Bagaikan pajangan dinding
Yang tak mungkin dipindahkan
Karena kutahu…
Hatiku rutan hatimu
Terpenjara penuh resiko
Meski rengekmu minta kebebasan
Sipir tak pernah menghiraukannya
Jalani masa tahananmu
Hingga tiba saatnya bebas
Bebas tanpa syarat
Dikenang sepanjang hayat
Seperti keinginan ketua RT

Dalam meraih kedamaiannya


Puisi Cinta LAGI GILA CINTA

Lagi-lagi cinta yang kutuliskan
Lagi-lagi cinta yang kurasakan
Lagi-lagi cinta yang kumainkan

Lagi-lagi cinta yang kukorbankan


Lagi-lagi aku jatuh cinta
Lagi-lagi aku gila karna cinta
Mengapa lagi dan lagi
Mengapa gila lagi gila lagi
Padahal aku jelas-jelas tak mau
membagi
Cinta bukanlah berbagi
Karna cinta bukanlah zakat untuk
dibagi
Cinta tak pantas di kali
Karna akan hanyut tak bertepi
Minus plus kadarnya cinta
Bila kurang ditambah lagi

Bila tambah akan menjadi gila lagi


Puisi Cinta BUAH TIEN

Buah Zaitun buah Tien
Terbuai aku karena vitamien
Bukti agung bukit Tursina
Membuatku terus mencinta
Dalam keremangan terusan Suez
Rasa hati tak akan pernah mulez
Tinggi menjulang menara St. Caterien
Kau tetap sebagai vitamien
Fresh melebihi fresh tea
Hingga fasihku membuatku frustrasi
Mustahil kau kumiliki
Karena kutahu siapa pemilikmu
Aku menyatu denganya
Tak mampu menduakannya
Namun Engkau tetap buah Tien
Yang hadir di setiap scene
Menghias dinding kamar pengantien
Dengan beribu hiasan di tangan
Berpanggul pinggul kehangatan
Hingga fajar datang menjemput
Mengendarai sinar kekristalan
Akhiri semua hayalan
Dalam bab kehidupan baru
Tanpa sampulan dan simpulan
Dan Engkaupun memahaminya
Bahwa aku hanyalah pasien
Yang masih membutuhkan vitamien
Hanya darimu…

Dan hanya dirimu…


Puisi Cinta MESIR (EGYPT)

Engkau ibu dunia tanpa abi
Lahirkan ulama tanpa asi
Ciptakan intelek tanpa imunisasi
Berkembang biakan tanpa kasih
Semua kini menjadi sangsi
Dalam kedewasaan penuh benci
Pertanyakan status sang abi
Goncangkan kedamaian tanpa hati
Oh… ibu pertiwi
Engkaulah ibu yang sejati
Tak pilih kasih dalam mengabdi
Tak kenal lelah mencari sesuap nasi
Lihatlah kini…
Kedewasaan anak-anakmu suci
Kepintaran mereka sering dipuji
Semua telah teruji
Tiba saat mereka membalas budi
Nyatanya kini…
Keangkuhan adalah kunci
Mudah terseret arus dengki
Perebutan warisan menjadi saksi
Kehancuran siap menanti
Usiamu semakin menjadi
Tiada daya untuk melerai
Namun janjimu itu pasti
Kelak mereka mampu mandiri
Selesaikan masalah mereka sendiri
Dalam ukhuwah penuh damai

Dan aman itu akan abadi


Puisi Cinta SYMPTOM

Risau hati bertanya
Gelisah hati menanti jawaban
Apakah yang tlah terjadi
Dan apa yang kelak terjadi
Apakah aku sakit
Adakah penyakit berbahaya
Hingga kadang jatuh tak sadarkan diri
Pingsan beberapa menit
Bagaikan mati sesaat
Nafasku sesak
Tatapan mataku berkunang-kunang

Sadar tubuhku berlimang susu


Sadar tubuhku berlinang kopi
Mungkin letih
Itulah jawaban menghibur
Agar harapan itu selalu ada
Mungkin penyakit
Itulah jawaban bijak
Agar kusadar peringatan itu
Mungkin tak lama lagi
Malaikat kan datang merenggut
Memaksa aku melepaskan
Dengan siksa sebelum disiksa
Atas segala kesalahanku
Cukuplah petualangan ini
Cukupkan dosa-dosa ini
Dengan kembali ke jalanMu

Melalui pintu tobatMu


Puisi Cinta KORUPSI

Korupsi itu…
Kata orang, puisi itu indah
Korupsi itu…
Kata orang, pria itu seksi
Korupsi itu…
Kata orang, perempuan itu suci
Korupsi itu…
Kata orang, posisi itu singgasana
Korupsi itu…
Kata orang, penjajah itu singa
Korupsi itu…
Kata orang, polisi itu sinis
Korupsi itu…
Kata orang, pejabat itu sinting
Korupsi itu…
Kata orang, pemimpin itu shalih
Korupsi itu…
Kata orang, pendeta itu sirik
Korupsi itu…
Kata orang, penceramah itu sufi
Korupsi itu…
Kata orang, pedagang itu sialan
Korupsi itu…
Kata orang, penjudi itu sial
Korupsi itu…
Kata orang, pezinah itu seks affair
Korupsi itu…

Kata orang, pelacur itu simpanan
Korupsi itu…
Kata orang, pencuri itu salah
Korupsi itu…
Kata orang, pendemo itu mencari
sensasi
Korupsi itu…
Kata orang, pasien itu sekarat
Korupsi itu…
Kata orang, penipuan itu sakit
Korupsi itu…
Kata orang, penyuapan itu sekali-kali
Korupsi itu…
Kata orang, penyogokan itu stimulus
Korupsi itu…
Kata orang, pemakaman itu sunyi
Korupsi itu…
Kata orang, perangai itu sikap
Korupsi itu…
Kata orang, pedang itu iman
Korupsi itu…
Kata orang, pegangan itu sunni
Korupsi itu…
Kata orang, pemaaf itu simpati
Korupsi itu…
Kotoran upah sisa
Korupsi itu korban singgasana
Korupsi itu korban posisi
Korupsi itu korban upah sedikit
Korupsi itu korban upaya stimulasi
Korupsi itu korban usaha sambilan
Korupsi itu korban urusan si bos
Korupsi itu korban uang stimulus
Korupsi itu korban penggerebekan
polisi
Korupsi itu korban pengguna sisa
anggaran
Korupsi itu korban pelihara simpanan
Korupsi itu korban pencitraan sikap
Korupsi itu korban perusak system
Ketika terjepit dipaksa korupsi
Ketika kontradik difitnah kolusi
Ketika berada dalam satu system
Ketika itu pula terinfeksi korupsi
Sekarang lantang berkoar
Besok lusa tubuh berkalori
Sekarang lantang menentang
Besok lusa Andapun ditendang

Sebagai korban korupsi tanpa korupsi


Puisi Cinta ENGAGING

Those feelings were small like an ant
Spreading as a root plant
Occupying multiplicity intentions
Might not be described the whole
Till we fell into the hole
Pinned under a hazy relationship
Biased in a partnership
Running after pseudo imagination
To fu*k off the wild world
Instead the desired locked up
Pursue uncertainty wedlock
Facing many deadlock
Up to the saturation
We were small
Like a small insect
Lived behind colonies
Seeking for some supplies
To resist in a drizzling rain
We were blind
Reach out permanent hope
Dancing on other painfulness
No way back and forth
Played game without end
Only buried inside reality
Like complicated crossword puzzle
Fulfill the feeling without answer
What we did beyond the limits
What we expected more than needed
All acts were left over
This kind love was so overlaps
Among lover, sister and daughter
Colored the sky of my heart
Sometime it turned to blue
And sometimes it turned to black
The white one was hidden
Behind the sexual drive and passion
Coz everything’s burned when we met
You loved me more than I have
Hand over what you have
Forget sentence before and death
sentence
Break the law to a lower class
It happened simply
Easy to recognize

Ticklish to request forgiveness
This love was an assassin
There must be solution
Toward both of our goodness
Albeit it was difficult
Have to face and accept it
Let it flow like a water
Thus no one hurt
Before too late
Definitely convoluted and disordered
No use to ask your forgiveness
Coz we were already voluntary
Swimming on a sin
That can’t be avoided
Stored in our brain
Recorded by an angel
Waiting for payback

In the doomsday


Puisi Cinta NON ACTIVE

Semua terjadi tanpa sengaja
Ketika rasa tak lagi bersahaja
Tubuhpun tak lagi sekuat baja
Berlalu di usia senja
Ketika hati ingin dimanja
Lemahku tiada sempat dipuja
Sadar diri bukanlah raja
Telanjang tanpa kemeja
Keinginanpun terjepit oleh meja
Tugas tak dapat dikerja
Ketika hatimu dilanda durja
Haruskah dibiarkan begitu saja
Sedangkan kata tetap mengeja
Semua terjadi tanpa diduga
Ketika HP tak lagi terjaga
Sinyalpun hilang dari raga
Lenyap tertelan oleh mega
Pitam kelam berwarna jingga
Meraung bagaikan singa
Menyembur seperti naga
Menusuk sukma di dalam rongga
Asam dan kecut bagaikan mangga
Namun kutetap saja bangga
Karena cintamu masih berbunga
Bergema merdu di telinga
Mengalir indah di sungai gangga

Kembali bertepi di dermaga


HP ini non-active
Bukannya rasa terdestructive
Karena ingatan terus berimajinative
Hati ini tidaklah passive
Karna Engkau selalu attractive

Cintamu kekal terconstructive


Puisi Cinta JENUH

Hati ini lebih berhati-hati
Mudah terbolak-balik
Mondar-mandir bagaikan setrika
Telat sedikit hangus
Gosong bercampur kesal
Tertutupi hitam bekas terbakar
Gelap dan semain menjadi angker
Seakan penunggu itu berpesta
Menari di setiap sela kamarku
Menggelitik setiap tubuhku
Mengganggu hari-hari
Tiada mampu berkonsentrasi
Hingga bosan datang memanggil
Semua harapan dan impian lenyap
seketika
Harapkan sesuatu datang mengusik
Namun kebrisikan semakin nyaring
Gendang telinga terasa bergema
Alaram tanda bencana alam
Bersiaplah untuk mengungsi
Hati itu telah mencair
Tiada bekas yang mengesankan
Cinta pamit tanpa kompromi
Karena manis menjadi pahit
Cinta itu hanyalah keinginan sesaat
Sesaat senang sesaat melayang
Beribu saat kesal, saat itupun menyesal
Mengapa semua ini dijalani
Sedangkan semua jalan terkunci
Mengapa masih dipertahankan
Sedangkan polisi-polisi di hati telah
cuti
Namun itulah harapan
Tak mungkin tercapai 100 persen
Jika tercapai maka bukanlah harapan
Berhentilah berharap
Selagi mimpi dan cita menanti
Semoga impian kan jadi nyata


Berhentilah bersungut
Karna kejenuhan hanyalah rasa
Yang timbul karena harapan
Dan hilang bersama impian
Berubah menjadi hantu
Selalu menghantuiku
Paksakan sesuatu dalam permintaan
Hingga bosan melihatmu
Engkaulah sejatinya hantu
Maafkan bila aku bosan diganggu
Maafkan bila kau kutinggalkan
Putus segera diputuskan
Semoga harapan itu masih ada
Meski kejenuhan merongrong kamarku

Semangat!!!


Puisi Cinta MA’ NIS

Setengah galau kubahagia
Seperempat sadar terperanjat gembira
Jam dinding terpaku setengah empat
Jantung terasa ingin melompat
Ketika ma’ Nis menelfon
Jemuran itu hilang di balkon
Teringat jemuran Yunchu yang hilang
Kerumunan rindu berdemo girang
Terganti orasi adikku yang manis
Hingga hati tak lagi gerimis
Keadaannya baik-baik saja
Tenangku semakin bersahaja
Meski Yunchu tak ada berita
Doaku agar Ia bahagia
Dua wanita yang kupuja
Dalam ingatan sperti kamboja
Menuai ketika lahanku gersang
Sirami hati tak lagi bimbang
Ku ‘kan tetap menjadi kakak
Meski usia t’lah mendekati kakek
Doaku untuk mereka berdua

Semoga selalu gembira dan bahagia


Puisi Cinta STOP ILLEGAL LOVING

Lelah sudah…
Langkah ini menapak ion dosa

Letih sudah…


Tangan ini menebar butiran dosa
Lemah sudah…
Kalkulator ini menghitung total dosa
Lesu sudah…
Mata ini menatap kembali sisa dosa
Lunglai sudah…
Sensor ini menebang pohon dosa
Stopppp….!!!!
Stop illegal loving
Sebelum burung tak mampu kencing
Biarkan rasa itu terkancing
Karena hati bukanlah pancing
Datang dan pergi melalui samping
Hilang seketika disantap kucing
Stopppp….!!!!
Stop illegal loving
Meski surat ter- acc bupati
Stop illegal loving
Meski rasa ter-acc simpati
Stop illegal loving
Sebelum RT ter-acc tsunami
Sadarilah… dan sadarkan diri
Ketika rasa itu ereksi
Bendungan cinta mengalami erosi
Meski hati telah direformasi
Namun dosa tak dapat dikompromi
Bosan sudah…
Mulut ini mengumbar dusta
Bosan sudah…
Tangan ini mengidap kusta
Bosan sudah…
Tubuh ini bertatokan nista
Bosan sudah…
Otak ini terbius rasta
Bosan sudah…
Ranjang ini dijadikan pesta
Meski cinta tak bermuara
Rasa itu tak boleh dipelihara
Biarkan kujadi biara
Akhiri semua sandiwara
Hindari kuil dari prahara
Sebelum tobat tak mampu bicara
Maaf tak lagi bersuara
Ketika maut datang mewawancara
Sebelum sesal menjadi kesal
STOP….!!!!

STOP ILLEGAL LOVING


Puisi Cinta KEAYUAN TERPENDAM

Dunia terus berputar
Roda takdir kian bergulir
Irama kehidupan slalu berubah
Tak ada yang statis
Karena manusia tidak otomatis
Tak ada yang istiqamah
Karena setiap perputaran ….
Pasti ada sedikit perubahan
Ketika ingin memulai…
Terbesit niat ingin mengakhiri
Ketika niat ingin mengakhiri…
Hadirmu memintaku tuk memulai
Masa lalu itu kembali bergema
Asa yang dulu hampir redup
Kini bersinar terangi hari
Rasa yang lama terpendam
Terbalut gelapnya dinding hati
Kini berpelangi di musim semi
Meski status terswitch off
Vibrasi itu keras getarkan dada
Kusadar, Engkau yang pertama dan
terakhir
Yang ‘kan hadir at the end of shows
Cinta Terpendam Mengamuk Lagi…
Lagu Lama Terrilis Lagi…
Kisah Lama didongengkan Lagi…
Cinta Lama Bersemi Kembali…
Cinta pertama hadir tuk mengulangi…
Tersiksa jika disimpan
Membusuk jika tak mengalir
Karna gumpalan itu terlalu besar
Menutup rongga nafas tuk berbicara
Hingga penyakit itu bertahun kuidap
Vonis dokter…
Aku asma karena cintamu
Harusnya rasa itu tlah lama terkubur
Agar tak ada lagi reinkarnasi
Harusnya rasa itu tetap dipendam
Agar tak ada lagi remunerasi hati
Harusnya kita tak lagi bertemu
Agar hati tak lagi berrevolusi
Harusnya tak ada lagi kenangan
Agar rasa itu tak lagi berefolusi
Biarkan ia tetap menjadi ilusi

Karena semua ini tak ‘kan ada solusi


Karena pasti…
Kebisuan itu tetap ada
Tergembok kepastian tersembunyi
Hanya rasa yang mampu berdendang
Mengukir tembok hati
Yang dapat dirasa jika Engkau merasa
Jika tidak…..???
Hmm……
Biarkan cinta itu tetap kupendam
Biarkan rasa itu tetap kurendam
Biarkan semua ini terlarut dalam
genggam
Hingga akhirnya basah, bau dan koyak
Karena semua telah berubah
Dan semua harus diubah
Asalkan Engkau statis berbahagia
Ku ‘kan tetap bahagia

Doaku slalu untukmu…Amien!!


Puisi Cinta STRUGGLE

Oh masalah…
Salahkah aku bila bermasalah
Padahal Engkaulah yang salah
Tudingkan aku dengan berjuta salah
Sedangkan aku hanya bisa mengalah
Engkau mengamuk penuh amarah
Hati ini menunduk tabah
Penuh luka begitu parah
Namun masih saja mengalah
Karena kutau Engkau pemarah
Tak kan terima saran dan syarah
Kutukanmu penuh serapah
Padahal aku bukanlah sampah
Bicaramu naikkan darah
Sikap ini tetap saja peramah
Oh masalah….
Haruskah aku marah
Ketika berani kau semprotkan nanah
Begitu panas bagaikan timah
Membakar kulit yang tak pernah basah
Membuat rasa semakin gundah
Hingga harapan itu punah
Engkau datang mencari celah
Engkau datang gelapkan arah
Engkau buat wajahku merah

Engkau rampas hidupku sudah


Semua itu tak bisa dijumlah
Oh masalah…
Tak bosannya kau datang berziarah
Mondar-mandir tak bawa hadiah
Padahal kata orang Engkau bertuah
Tak pernah menerima upah
Hanya datang menggoda dan
menjamah
Namun kadang hidupku kau jarah
Oh masalah…
Cukuplah sudah
Cukuplah aku mengalah
Dan tak mau lagi menyerah
Meski salah ku tak mau lagi mengalah
Karena kutau engkaulah masalah
Yang membuatku salah
Menyalahkan diri dalam salah

Padahal Engkaulah yang bersalah


Puisi Cinta KU HARUS PERGI

Jauh sudah…
Jauh sudah kaki melangkah
Berat…
Berat beban ini kurasa
Membawa bekal di dada
Cinta yang kupanggul
Rasa yang kugendong
Buntalan hati yang kutenteng
Harapan yang kukuda
Kini berat kurasa
Semakin dekat tujuan
Semakin sesak di dada
Asma kini sahabatku
Pernah kubayangkan
Dan sempat terfikir
Setelah berbagi beban itu
Hati ini terasa lega
Sebagian telah Engkau ambil
Paling tidak telah berbagi
Namun ternyata ‘Tidak’
Hati semakin terbebani
Rasa kian memberontak
Hampa slalu tanpamu
Resah tanpa kehadiranmu
Setelah fakta kutemui

Rasa ini semakin gila


Dada ini semakin sesak
Niat itu semakin bejat
Haruskah aku…?
Bodohnya aku…?
Dalam galau terus salahkan diri
Penuh sesal robohkan diri
Hanya bisa memaki diri
Terus saja mencaci diri
Benturkan kepala sendiri
Karena begitu berat…
Berat semua kurasa
Gelap arah yang kupandang
Haruskah aku membunuh bapak
anakmu
Gilaaa…
Fikiran ini memang gila
Tak waras hati berbicara
Tak sedap bibir berucap
Lebih baik aku menghilang
Maafkan ku harus pergi
Maafkan segala salahku
Maafkan aku mendeletemu
Serta orang-orang dekatmu
Demi kebaikan kita berdua
Biarkan aku pergi
Mencoba tenangkan diri
Hingga tenang itu tiba
Kelak aku kembali
Jagalah dirimu
Ku ‘kan slalu mencintaimu
Walau hati ini koyak

Namun Engkau tetap cintaku


Puisi Cinta MAAFKAN AKU

Alpa dalam kehilafan
Yakin penuh penyesalan
Ulah siasat kebodohan
Takdir ini pun disalahkan
Janji mulai terabaikan
Emosi jiwa tiada tertahan
Aku salah mengambil keputusan
Yahudi tertawa penuh kepuasan
Untung nomor masih tersimpan
Tuk mengetuk pintu permohonan
Jendela hati merajuk tangisan

Endapkan maaf penuh keikhlasan


Andai tiada kebersamaan
Yang ada hanya kegilaan
Usil ajukan gagasan
Tenggelamkan diri dalam lautan
Jahat mengambil tindakan
Enggan meminta pertimbangan
Ada apa gerangan
Yang kuperoleh kegelapan
Usia tlah mengalami penuaan
Tabur benih-benih permusuhan
Jelas aku telah kerasukan
Emang dasar aku kesetanan
Apa yang aku inginkan
Yayu selalu saja berikan
Untung masih ada harapan
Terus berbagi kebahagiaan
Jangankan melalui BBMan
Emailpun masih dipersilahkan
Anggaplah aku keliru
Yang siap untuk ditinju
Urusan hati selalu kutuju
Tuliskan semua rasa tentangmu
Jewerlah kupingku ini
Enyahkanlah sgala kebodohanku
Aku hanya bisa memohon
Yang berhak hanyalah kamu
Untuk memberiku kesempatan
Temani hari dalam kesendirian
Jalani hidup ini bersamamu
Ending penuh kebahagiaan
Azan isya telah memanggil
Yang kuingat hanya salahku
Upaya untuk perbaiki diri
Telfon meminta sudisediamu
Jadikan aku kekasih hatimu
Eratkan ikatan itu tuk selamanya
Sengaja kuukir namamu
Saat sesal datang memanggil
Sejenak cinta terpause kaku
Selama maaf belum bergulir
Aku salah dalam mengira
Aku bodoh tiada terkira
Aku kalah ketika bertahan
Aku bertahan ketika kalah
Inilah aku datang meminta
Indahnya maaf dari yang dicinta
Inilah aku datang memohon

Iklasnya cinta tuk dimaafkan


Demi keutuhan yang belum utuh
Dalam harap kupinta izinmu
Damaikan rasa di telapakmu
Demi memaafkan keakuanku
Nada ini hanya untukmu
Nama Yuku adalah jiwaku
Nadi ini tak berkutik tanpamu
Nazar ini kan kusimpan selalu
Akan kujaga rasa ini
Asalkan Engkau mengizinkanku
Agar aksi tak lagi salah

Akhiri cerita penuh bahagia


Puisi Cinta TAK INGIN

Tak ingin menggaggu ketika menunggu
Tak ingin merayu ketika dirimu meraju
Tak ingin berlabuh jika ombak
menderu
Tak ingin menaruh jika pinta tanpa
restu
Tak ingin berguru meski adanya di
surau
Tak ingin bergurau meski rasa itu
kacau
Tak ingin memandu pabila rasa
membeku
Tak ingin berpangku pabila tangan di
dagu
Tak ingin menggerutu walau hati
cemburu
Tak ingin menjamu walau rasa ini
bertalu
Tak ingin berburu saat bibir tak
bergincu
Tak ingin bertemu saat mata mulai sayu
Tak ingin menunggu ketika itu
mengganggu
Tak ingin meraju ketika semua hanya
rayu
Tak ingin menderu jika sauh kan
berlabu
Tak ingin restu jika pinta sekedar ditaru
Tak ingin menyurau meski sekedar
berguru
Tak ingin mengacau meski sekedar

bergurau


Tak ingin membeku pabila arah
terpandu
Tak ingin mendagu pabila rasa itu
berpangku
Tak ingin cemburu walau hati
menggerutu
Tak ingin bertalu walau hidangan
terjamu
Tak ingin bergincu saat langkahmu
terburu
Tak ingin sayu saat pandangan mata
bertemu
Tak ingin menyeru ketika resah
menghalau
Tak ingin mengadu ketika hasrat ini
galau
Tak ingin memadu jika keberadaan
terpadu
Tak ingin meramu jika takaran telah
baku
Tak ingin menyusu meski kadang
belagu
Tak ingin berkilau meski cinta menjadi
pilu
Tak ingin melagu pabila nada terdengar
merdu
Tak ingin melaju pabila kaki semakin
kaku
Tak ingin menuju walau arah pasti
tertuju
Tak ingin merindu walau rasa ini kan
jemu
Tak ingin berabu saat paras tertimpa
debu
Tak ingin berparau saat suara mulai
layu
Tak ingin menghalau ketika rasa
menyeru
Tak ingin galau ketika hasrat ini
mengadu
Tak ingin terpadu jika keberadaan itu
memadu
Tak ingin bahan baku jika pintar tuk
meramu
Tak ingin belagu meski kembali lagi

menyusu


Tak ingin pilu meski cinta tak lagi
berkilau
Tak ingin merdumu pabila suaramu
melagu
Tak ingin kaku pabila kaki lincah
melaju
Tak ingin tertuju walau arahanmu pasti
tertuju
Tak ingin jemu walau rasa ini slalu
merindu
Tak ingin berdebu saat harapan itu
berabu
Tak ingin layu saat pintamu lemas dan
parau
Tak ingin alpamu ketika hati ini
memanggilmu
Tak ingin memanggilmu ketika sadar
itu alpamu
Tak ingin hadirmu saat keinginan itu
meragu
Tak ingin meragu saat menginginkan
hadirmu
Tak ingin melayu walau seram terlihat
kemayu
Tak ingin kemayu walau senyummu

tetap ayu


Puisi Cinta SUARA SUMBANG

Sumbang tandukmu sumbangkan tanya
Senyum sapamu siapa yang terima
Lembut tuturmu lentur lemburkan asa
Labil tawamu tak labil ketika tertawa
Bahagia katamu tapat bahagiakan dada
Bahagian akhir pesanmu satu terbagi
dua
Jawaban singkatmu jawabkan kata
tanya
Jaringan sosialmu terjaring triad
keluarga
Kata manis kini tinggal sasa pelaris
rasa
Karang terjal menjajal obral karangan
baja
Sibuk akalku menerawang jauh ke

angkasa


Sabuk harimu terlucuti paksa oleh
prahara
Kental panggilmu tak lagi biasa
bersahaja
Keram langkah pasti karam di
samudera
Beku hatimu cairkan salju para dewata
Bekuk diri kepincut rasa hati terpenjara
Dunia dalam berita di tvri telah lama
tiada
Duka dalam derita selamanya tetap
tersisa
Warna pagi buta membiru di kelopak
mata
Wangi kasturi harum semerbak antara
rongga
Mawar melati melayu-layu di taman
eden dunia
Mawas hati kaku menanam ganja di
kolombia
Pintamu dulu mendahului pita
pelantikan raja
Pintu kebahagiaanmu kembali seperti
sedia kala
Canda itu pasti jelas memberikan suatu
makna
Candi prasasti sebagai tanda peradaban
purba kala
Nama indahmu tertato kekal di tembok
asmara
Namun mengapa tembok asrama auri
yang kuasa
Obrolan malam tak lagi kunjung kabar
berita
Obralan penggalan kata tak mungkin
dicerita
Tiada maumu yang tak mungkin
diterima
Tiap saat langkahmu jauh melanglang
buana
Usia manusia memanusiakan segala
raga
Usai lansia pasti tak usah lagi
berolahraga
Kapasitas diri tak mampu berkipas
neraca
Kepastian nanti tak ada yang bisa

menduga


Biarkan laminan itu berlayar tanpa
bahtera
Berikan lamunan itu tahta tanpa
mahkota
Semua kembali padamu seperti semula
Semula engkau kembalikan maunya

semua


Puisi Cinta PUPUS

Aku bukanlah lupus
Pengidap penyakit tipus
Bukan pula homo erectus
Pelestari alam imaji kaktus
Dan bukan juga kakus
Menelan apa saja bagai paus
Karna aku masih miliki focus
Yang mesti selalu serius
Aku bukanlah dewa Zeus
Bukan pula seperti Darius
Yang punya daya radius
Mendorongmu terjerumus
Hanyut terbawa arus
Yang timbul bagai kardus
Terbukukan di dalam kamus
Dan disimpan di perpus kampus
Aku bukanlah virus
Bukan pula kapur barus
Yang membuatmu diinfus
Lantaran tertelan gabus
Hingga tubuhmu begitu kurus
Hasrat bukan tubuhmu mulus
Namun semua dapat berjalan terus
Meski tak pernah diurus
Meski aku memang rakus
Doyan mengunyah asparagus
Apalagi di bulan Agustus
Sudah menjadi tradisi siklus
Karena engaku adalah venus
Slalu kompromi dengan minus
Kembalimu hanya ke firdaus
Karena itulah jalan yang lurus
Aku hanya seorang alumnus
Kadang penilaianmu padaku bagus
Karena semua itu memang harus

Bukan sekedar suatu jurus


Yang slalu dikenang terus
Karena semua itu telah pupus
Biarlah tubuh ini menjadi kurus
Biarkan focus ini slalu diinfus
Biarlah rasa itu hangus
Biarkan bara itu mampus
Biarlah semua itu pupus
Semua ‘kan pasti terputus
Bagai deretan seri terputus
Terus dan slalu saja terus

Lenyap sendirinya dan terhapus


Puisi Cinta SENDIRI DI BANK MANDIRI

Andaikan kesendirian itu bisa sendiri
Tak perlu repot antri di bank mandiri
Andaikan pendirian itu bisa berdiri
Tak perlu melamun dan duduk sendiri
Andaikan aku mampu berdiri sendiri
Tentu ‘kan kupilih untuk tetap mandiri
Andaikan waktu terbuang di bank
mandiri



Tentu ‘kan kupilih untuk tetap sendiri
Aku butuh kesendirian dalam sendiri
Menyendiri merenungi bekas tapak diri
Yang lama tlah hilang label harga diri
Usang termakan akar serabut jati diri
Hingga keinginan itu memaksa berdiri
Di sini pantasnya aku memosisikan diri
Di sini harusnya berdikari dan mandiri
Walau kesendirian ‘kan menyiksa diri
Izinkan aku sendiri
Biarkan aku menyendiri
Perkenankan aku perbaiki diri
Jauhkan aku dari penyiksaan diri
Biar tak ada lagi pembunuhan diri
Hingga saatnya aku dapat berdiri
Terbebas dari segala kesombongan diri
Sendiri penuh mandiri
Andaikan kesendirianku duri bagi diri
Biarkan aku yang mengangkatnya
sendiri
Andaikan kemandirian membuatmu
sendiri
Biarkan kemuliaan itu pelihara harga

diri


Andaikan semua hayal itu kembali
berdiri
Biarkan semua angan itu terbunuh
sendiri
Andaikan sikap ini terlalu jauh dari jati
diri
Biarkan maafku menyalahkan diri
sendiri
Biarlah kesalahan itu tanggungan

sendiri


WARNA-WARNI

Merah lambang keberanian
Merah padam wajah itu
Merah muda pesonamu
Merahmu itu kemaluemosian
Merah ini menakutkanku
Merahku semakin mengerikan
Merah ini membuatku merah
Merah itu semakin merah
Merah yang tak pernah diduga
Memerah tanpa sebab
Merah gincu memerahkan asa
Merah lambang ketakutan
Merah lambang kematian
Merah itu kan menjadi kain putih
Putih kan selalu suci
Putih dan halus seperti kapas
Putih hasrat tanpa noda
Putih slalu dalam kelembutan
Putih niatmu merasa
Putih tulangku mulai rapuh
Putih pintamu berbisik
Putih rambutku terwarnai
Putih pintaku beranjak
Putih harapmu kelam
Hitam itu harus kugenggam
Hitam pitammu meraung
Hitam tindakku tertunduk
Hitam hasil karyaku tercoreng
Hitam kesucianmu olehku
Hitam warna hatiku bagai kopi
Hitam tatapmu tak berkedip
Hitam ragaku yang engkau damba
Hitam raut wajahmu aibku

Hitam kelam harus berakhir


Hitam itu kian menghitamkan hari
Hitam legam memar membiru
Biru hatimu dengan hitamku
Biru laut asmaramu oleh tinta
Biru tatapmu memburu angan
Biru hasratmu oleh cintaku
Biru rasamu tak berkesudahan
Birukan aku dengan kebiruanmu
Biru itu biarlah menjadi merah
Merah yang slalu menakutkanku
Merah yang mematikan
Memerahpadamkan wajah ini
Merah karena mimisan
Merah karena merahnya urin
Merah sebagai hantu merah
Merah karna mungkin ulahku
Merah yang kan menghabisiku
Merah itu kan mewarnai hidup
Merah itu merah pendammu
Merah itu merah padammu
Merahmu itu merah padaku
Merahmu itu tersimpan selalu
Merah yang telah menghitamkan
Merah yang telah membirukan
Merah-putih niatmu

Merah karena hitam biru warnaku


BIARLAH BERLALU

Kutau kumenyakitimu
Kusadar kumenghianatinya
Antara aku, engaku dan dia
Harusnya tak ada kamu
Adanya aku karena adanya
Adanya kamu karena ketiadaannya
Mestinya dia di sampingku
Namun engkau ada di dekatku
Patutnya dia yang menemaniku
Bukan engkau menjagaku
Semua itu memang salahku
Yang tak mampu berbagi
Berani mengambil resiko
Bermain di anatara ples dan mines
Yang belum pasti sama dengannya
Berkali mencoba mengali
Hasilnyapun kan hanyut di kali

Keegoanku dalam bertindak


Kekecewaanmu patut diterima
Biarlah kebencianmu kusimpan
Sebagai tanda mata darimu
Meski rasa itu ada
Namun semua menahan dada
Biarlah cerita itu berlalu
Biarlah kan kusimpan selalu
Karna rasa seperti bolu
Namun kini t’lah berlalu
Di antara belahan hati bertalu
Kini kan menjadi masa lalu
Yang terus dikenang selalu
Meski belum tiba saat pemilu
Putusan takdir ada di deplu
Biarlah asa itu menjadi benalu
Meluka dan terluka oleh sulu
Pahit getir bukanlah pilu
Sebelum semua berakibat malu
Kutau murkamu padaku slalu
Tudinganmu menyisakan pilu
Wajar karena dirimu pemalu
Sesuatu darimu kan kuingat slalu
Rasa itu tetap berasa bolu
Ku kan ada untukmu slalu
Meski masa itu tlah berlalu

Kebahagianmu kudoakan slalu


BANGUNKAN MIMPI

Ketika mata ini terpejam
Sesaat hati mulai terkekang
Perasaan ini semakin tak keruan
Otak semakin tak masuk di akal
Bertanya meminta jawaban
Pikiran selalu saja menginterupsi
Berharap adanya kepastian
Nalar ini selalu saja berdalih
Perang otak dan hati berkecamuk
Tiada kesimpulan dan kedamaian
Tersampul erat dengan simpul mati
Tiada pangkal dan ujung
Tumpang tindih nomenon-fenomenon
Mengalah pasti keterpaksaan
Kepasrahan hanyalah hasil
Semua itu ‘kan menjadi harapan
Yang maybe not maybe yes

Di penghunjung akhir cerita


Ketika tubuh ini tergulai
Semangat datang menghampiri diri
Bangkit adalah suara yang terdengar
Kata Sadar semakin keras menggertak
Paksakan diri meraih tujuan
Yang tlah diniatkan ketika melangkah
Cita awal bukanlah angan
Yang terlupakan di saat alpa
Mungkin hasrat itu mulai melemah
Namun bukan alasan tuk diabaikan
Karena keabaian tak selamanya abadi
Sesaat datang menggoda
Merayu dan pergi berlalu
Ketika semua itu tak digubriskan
Diamlah dan jangan terpancing
Karna umpan itu kan menjerat
Pikun pasti kan menyerang
Berantakan hasil yang diperoleh
Ketika otak ini terbangun
Spontan mata ini terbelalak
Begitu banyak paku dan duri
Ciutkan nyali dalam beraksi
Langkah tertahan ragu tuk maju
Mundur hanyalah pembedohan diri
Bertahan adalah upaya dalam meraih
Sungguh proses ini hanyalah rel
Yang pasti akan ada akhir
Bahagia atau tidak itu cuma rasa
Siap diterima tatkala diraih
Selama arus itu tidak dilawan
Kebahagiaan kan menjadi piala

Dan kesuksesan itu harga mati


TERIMA KASIH

Kau yang membuatku berhenti
Berhenti bercanda dan bermain
Bermain api di dalam kamar
Kamar bergas mudah terbakar
Terbakar kapok sulit tuk padam
Padam keinginan untuk merasa
Merasa kehangatan di dalam dosa
Dosa besar yang tiada maaf
Maafkan aku ketiak meminta
Meminta itu lagi dan lagi
Lagi lagi derita itu terukir

Terukir indah pahit itulah rasa


Rasa terjambak ketika tercampak
Tercampak itu hanyalah perasaan
Perasaan kecewa yang mungkin ada
Ada sesuatu di balik ini semua
Semua itu demi kebaikan kamu
Kamu yang telah menyadarkan aku
Aku yang tlah lama lupa diri
Diri ini tak pantas untukmu
Untukmu segala kebaikan
Kebaikan itu adalah kebahagiaan
Kebahagiaan yang engkau harapkan
Harapkan seorang pangeran berkuda
Berkuda membawa semua impianmu
Impianmu sejak kecil di setiap mimpi
Mimpi yang kelak menjadi nyata
Nyata engkau dapatkan dalam duniamu
Duniamu yang sulit aku ciptakan
Ciptakan kehangatan dalam mendua
Mendua yang tak mungkin menyatu
Menyatu dalam ikatan yang suci
Suci seperti dirimu semula
Semula engkau begitu adanya
Adanya dirimu bukan untukku
Untukku hanyalah banyangmu
Bayangmu kan slalu menyertai
Menyertai setiap kata terucap
Terucap ketika engkau meminta
Memintaku menjauh dari hal itu
Itulah pintamu padaku slalu
Slalu kuingat di setiap waktu
Waktu yang tlah kita lalui bersama
Bersama berbagi untuk terima
Terima kasih selalu untukmu
Untumu selalu ku kasihi
Kasihi sebelum semua terlambat
Terlambat tobat masuk neraka
Neraka yang selalu engkau bicarakan
Bicarakan untuk senantiasa kujauhi
Jauhi segala keburukan dulu
Dulu yang engkau takutkan dariku
Dariku semua ulah dan cerita
Cerita yang pasti terjaga
Terjaga ketika pulas bermimpi
Bermimpi tentang diriku yang pergi
Pergi dan jauh meninggalkanmu
Meninggalkanmu untukmu tenang
Tenang jalani hidup

Hidup yang normal seperti niatmu


Niatmu yang suci menyadarkan aku
Aku sadar dengan adamu
Adamu pasti kan kukenang
Kukenang dari semua tulisanmu
Tulisanmu tentang kepedihanmu
Kepedihanmu karena ulahku
Ulahku sembrono menyakitkan
Menyakitkan rasamu ketika tenang
Tenang dekat di sisiku
Di sisiku semua engkau dapatkan
Dapatkan semua macam kasih
Kasih yang ingin engkau terima
Terima kasih tulus dariku

Dariku ku sangat berterima kasih


Puisi Cinta PENYESALAN

Kucoba menilik tabir itu, tabir yang
mengisahkan kita
Kisah yang berderai senyuman dan
tangisan kita
Senyuman yang hanya kita
menggilainya
Tangisan yang hanya kita meresapinya
Hanya kita yang merasa segala gelora
misteri itu
Di balik bilik itu, kita selalu bergelayut
indera
Merasakan segala saripati cinta kita
Hanya kita yang menyadari lenyapnya
akal itu
Hanya kita yang merasakan debaran
kalbu itu
Sungguh aku telah jatuh dalam
kemesraanmu
Hatiku bertaut pada pesonamu yang
menggoda
Tatapanku melekat pada indahnya
parasmu
Senyuman oh senyumanmu
membuatku jatuh rasa
Detak jantungku seakan berhenti ketika
kita beradu indera
Aku telah lunglai dalam pelukan

hasratmu


Kini, kita telah terpisah oleh ruang dan
waktu
Kutelah kehilangan cinta sucimu yang
telah pergi
Begitu jauh membuatku tak mampu
mengejarnya
Begitu tinggi membuatku tak mampu
menggapainya
Cinta itu telah pergi, cinta yang
merasuki jiwaku
Tinggal bayangan yang menyelinap
dalam rongga hati yang sekarat
Aku yang telah membuatmu beranjak
pergi dariku
Ini salahku, ini bukan salahmu
Aku yang meragukan ketulusan asamu
Ini salahku, ini bukan salahmu
Aku yang mengabaikan kesucian
cintamu
Ini salahku, ini bukan salahmu
Aku yang melemahkan kekuatan
kasihmu
Ini salahku, ini bukan salahmu
Asmara kelabu ini telah memisahkan
kita
Meninggalkan jejak menganga perih
Jejak itu akan selalu terukir kalut di
hatiku
Selalu kujaga dengan derai air mata
Kupagari dengan keris-keris
penyesalanku
Kuharap selalu ada terpatri di prasasti
hatiku selamanya
Seandainya Sang waktu dapat kembali
Kuingin engkau selalu berada di
sampingku
Bersandar dibahumu, melepaskan
segala beban jiwaku
Mendengarkan segala butiran mutiara
bijaksanamu yang menyejukkanku
Seandainya Sang waktu dapat terulang
Akan kuhidupi cintamu dengan
denyutan nadiku
Akan kusirami cintamu dengan tetesan
darahku
Cintamu yang sebening embun

hamparan savanah


Sejujurnya aku tak bisa bernapas tanpa
ada dirimu
Aku gila tanpa dekapan cintamu yang
hangat
Kembalilah ke singgasana cinta kita
Hanya ada kamu dan aku bergelayut
manja dalam mahkota kasmaran
Tapi semua hanyalah rajutan mimpi
dalam selendang harapan hampa
Aku menyesal atas penindasan cinta
dan hatimu
Jujurku hati ini bersemayam hanya
untukmu
Lalaiku diam membisu akan

keraguanku padamu yang bias


Puisi Cinta RISAU

Cinta itu kuramu dalam bilik hatiku
dengan sumringah
Kujaga dengan seluruh hidup agar tak
seorang pun menjamah
Kesetiaan itu kuhanturkan untuk dirimu
seorang
Tanpa perhitungan yang menggoda
ruang akalku
Tanpa berfirasat lentera membakar
kalbuku
Kubiarkan palung itu menancap
dilautan kepasrahanku
Hanya pelitamu menyinari rongga
hatiku
Kuabaikan setiap nakhkoda yang
merapat
karena hanya perahumu di hati yang
terpahat
Bintang berpencar, bulan memencar
Di hatiku, hanya dirimu melancar
Kadang ragu, kadang bimbang
Tentang neraca cintamu ketika
kumenimbang
Kuhanya menanti, menanti dan menanti
Untuk aku menjadi berarti
Rasa sepi itu menyelinap dalam
pelupuk sendiku

Ketika asaku tak lagi terjaga


Aku gila, aku sedih, aku merana
Aka tak tahu apa yang berniang
dihatimu tentangku
Lama itu mengeringkan raga
Tahukah engkau akan ketidakpastian
wahai yang disana
Malam tambah merasuk, langit kelam
mati
Busur tajam menusuk, engkau yang tak
membidik hati
Matamu menceritakan akan rasa
padaku
Tapi aku ragu akan penglihatanku
Senyummu melukiskan akan cinta
padaku
Tapi aku ragu akan firasatku
Tubuhmu menari akan hasrat kepadaku
Tapi aku ragu akan pikiranku
Hatimu melontarkan kasih padaku
Tapi aku ragu akan perasaanku
Aku ingin engkau menjadi Arjuna
untuk Srikandi
Meluncurkan panah kasih di ulu hati
Aku ingin engkau merangkai kata-kata
di pinggir bibir
Menyejukkan telinga akan cinta
indahmu
Tetapi engkau hanya diam membisu
Engkau hanya diam mematung
Seakan engkau menyimpan ketakutan
dalam peti hidupmu
Bahwa aku adalah kepingan cerita
bidadari-bidadari masa lalumu
Tubuhku diam membeku akan
dinginnya dirimu
Kelelahan itu meremukkan hatiku
Menelusiri terowongan keraguan yang
memuncak
Kesedihan itu mencekik cintaku
Menjatuhkanku dari awan penyerahan
yang menghitam
Kesunyian itu mematahkanku
Mendiamkan di dalam ruang
penghampaan yang menyepi
Sepi begitu mendesak, sunyi begitu
menekan
Kumenyelubung rasa yang tak

terungkap


Seharusnya roh beranjak dari ragaku
Agar aku tidak ketagihan dengan
candu-candu suram ini
Pergilah….beranjaklah….hilanglah
Kekuatanku telah pergi jauh terbang ke
jahannam
Mencambuk setiap kepingan hatiku
padamu
Dan engkau hanya diam membeku
dengan mata berkaca
Maafkan aku yang tak berdaya akan
hati ini
Ingin kunyanyikan nada-nada kasih ini
Tapi aku adalah hawa, kamu adalah
adam
Maafkan aku yang linglung karena
perangaimu
Yang bagaikan Rama ketika berucap
cinta dalam bisu
Tapi aku memiliki telinga untuk
mendengar nyaring
Maafkan aku yang tak memahami
dirimu
Pandangan cintamu selalu
melumpuhkan saraf-sarafku
Tapi aku membutuhkan pelukan hangat
yang tersentuh
Maafkan aku yang melepas tali cinta
kita
Karena aku tak memahami akalmu
Karena aku tak memahami batinmu
Aku tersesat menyelinap dalam labirin

rasamu


Puisi Cinta SANG DOSA

Katanya, sesuatu yang dilarang oleh
Tuhan itu dosa
Tetapi kenapa Tuhan membiarkannya
meresapi jiwa ragaku
Kuucapkan seluruh mantera-mantera
Tuhanku untuk menangkal dosa
Namun kenapa Tuhan tidak
mengizinkannya beranjak dari
singgasanaku
Aku mulai ragu dengan apa dosa itu

sebenarnya


Dosa yang melilit diriku tanpa memberi
kesempatan untuk memilih
Kenapa engkau begitu memabukkan
hidupku?
Dosa yang mencengkram diriku
Tanpa memberiku kesempatan untuk
merintih
Kenapa engkau begitu menyesakkan
napasku?
Aku mulai merasa terbuai dengan dosa
itu
Wahai dosa, tebarkanlah kemurahan
hatimu padaku
Atas kepatuhan yang menyelinap dalam
diriku
Setiap menaati gemulai tubuhmu
Wahai dosa, nampakkanlah belas
kasihmu padaku
Atas kebahagiaan yang meresapi diriku
Setiap menelusuri lekuk tubuhmu
Kuharap engkau menelantarkanku di
jalan penuh terjal
Untuk memberiku kesempatan
menemui jalanku
Mungkinkah engkau akan pergi dariku?
Sejujurnya, engkau adalah candu yang
memabukkanku
Mungkinkah engkau akan lepas dariku?
Sejujurnya, engkau adalah sepoi yang
menyejukkanku
Pelanggaran yang tidak membiarkanku
jera untuk mengulanginya
Dosa, Kenapa aku harus mencintaimu?
Engkau menyelinap dalam lubuk asaku
terdalam
Membawaku terbang ke langit ke tujuh
Menari-nari bersama bidadara-bidadara
nirwana
Terkadang aku ragu apakah engkau
benar-benar dosa?
Terkadang, melakonkan dirimu bagai
hati tersayat sembilu
Terkadang, menyatu denganmu bagai
makan buah simalakama
Tetapi, aku tak mampu memaksamu
untuk berhenti
Tetapi, aku tak mampu menolakmu

untuk berhenti


Engkau begitu memujaku dengan
menyuramkan nuraniku
Setiap detak jantungku, kuberdoa
kepada Sang Penciptaku
Agar aku mampu melepaskan jeratan
nikmat dosa itu
Setiap denyut nadiku, keberharap
kepada Sang Pemilikku
Agar aku tidak dirasuki oleh pesona
dosa itu
Tuhan, Engkaulah Sang Pencipta dosa
itu, maka lenyapkanlah dariku
Dosa, sang pemilik pesona yang
memikat dan menghancurkan
Aku mencintai dan membenci mu
dalam satu masa
Engkau sepertinya tidak akan pernah
melepaskanku
Hanya karena satu alasan, aku manusia
yang hidup
Kukira Tuhan pun menyetujui

pendapatku


Puisi Cinta CERITA HATI

Kumenusuri koloni pasir yang hitam
pekat itu tanpa perisai
Kuizinkan tubuhku disengat kaisar hari
dengan penuh gairah
Kubelai kaktus berduri racun yang
melemahkan insanku
Kulepas dahagaku dari fatamorgana
inderaku
Kubiarkan diriku melebur dalam api
harapan sendu
Kusesatkan jiwaku dalam setapak
kabur yang muram
Oh Tuhan, apakah akalku telah terbang
ke firdaus?
Yang membuatku tak mampu
mengecap asa pahit dan manis
Oh Sang pencipta, apakah jiwaku telah
bersemayam di langit?
Yang memberanikanku tak tahu arti
dari sebuah arti

Aku yang merasa bukan bayangku,


Aku yang merasa berada dalam
kebimbangan tak berujung
Kutelah mengaburkan kemurnianku
Kutelah mendustai kenuranianku
Kubiarkan diriku tenggelam
dalam lautan penyayatan
Walau kusadari rohku telah terampas
tak berbelas
Kubiarkan diriku meneguk racun
berbisa pilu
Walau kusadari telah melemahkan
jasadku yang membiru lunglai
Telah kuterima penindasan hati ini
Dari titik kelam terdalam perihku
Telah kupasrahkan diriku kepada
ketentuan cerita hidup yang meletihkan
Akankah semua berakhir?
Iya, semua berakhir dengan serpihan
kalbu
Akankah semua pergi?
Iya, semua telah pergi meninggalkan
jejak luka
Hanya sendiri kubermukim dalam
lingkaran kelam yang tak seharusnya
ada
Lingkaran yang melemaskan hati

Tiada henti untuk mengakhiri


Puisi Cinta SLAMAT JALAN

Sekian lama tiada kabar
Berita tentang dirimu
Sekian tahun kau menghilang
Bagaikan ditelan waktu
Tiada seorangpun tau
Dimanakah engkau kini
Hingga tiba suatu waktu
Duka datang mengusikku
Slamat jalan kawan smoga engkau
tenang
Slamat jalan teman dirimu ‘kan
dikenang
Sekian tahun kita bersama
Penuh canda dan penuh suka
Secapat itu berakhir

Oleh duka yang tak terduga


Hanya doa kupanjatkan
Semoga engkau bahagia
Dalam kasih dan rahmat-Nya
Surga itu ‘kan jadi milikmu
Slamat jalan kawan smoga engkau
tenang
Slamat jalan teman dirimu ‘kan
dikenang
Slalu bersama dalam kenangan

Menitip masa depan


Puisi Cinta BAYANGAN

Cinta itu bayangan
Cinta akan bayangan itu
Bayangan itu cinta
Bayangan itulah yang kucinta
Itulah bayangan cinta
Itulah cinta akan bayangan
Cinta membuat terbayang
Terbayang membuat cinta
Melayang bagaikan layangan
Terjatuh perlahan
Di dataran hati yang rentan
Dan tak terbayangkan
Karena itu hanya bayangan
Yang tak pernah terbayangkan
Biarlah kumaknai bayangan
Membayangi setiap makna
Damai dalam bayangan
Bayangan akan kedamaian
Membayang-bayangi sengatan
Member bayangan kesejukan
Meski semua terbayang
Nyata namun bayangan
Bayangan itu kenyataan
Kenyataan yang terbayangkan
Bayangan cinta terbayang
Karena engkaulah bayangan
Membayangi dosa
Mengakhiri bayangan dosa
Biarlah hidup dalam bayangan
Bermain bersama bayangan
Agar kenyataan tidak membayangi
Trima kasih bayangan
Bayangilah aku dalam bayang-bayang

Bayangan menuntun arah
Arah yang terbayangkan
Bersama bayangmu

Dalam bayangmu


Puisi Cinta BIARLAH REDUP

Redup…semuanya redup
Hati tak lagi berdegup
Tak ada lagi bintang bersinar
Tak ‘kan ada lagi sinar menyilaukan
Kembali gelap seperti semula
Tanpa ada risau membisingi hari
Biarlah kokok ayam menemani
Biarlah kicauan burung menghiasi pagi
Hidup dalam persemedian sementara
Meraih ketenangan pengukir jiwa
Hingga larut dalam kedamaian
Menyatu dalam asanya cita
Redup…cahaya itupun redup
Cinta tak lagi bertepuk
Tak ada lagi rasa untuk merasa
Tak ada lagi harapan tuk berharap
Normal seperti sedia mula
Tanpa ada beban janji menagih
Biarlah kesendirian menemani
Biarlah kesunyian lorong ini memapah
Hingga jenuh datang menghampiri
Berpaling dari asa ke nyata
Redup…harapku harapanmu redup
Rasa hati semakin meredup
Rasa ini tlah bebal merasa
Hati ini tlah keram kesemutan
Biarlah darah ini lancar mengalir
Biarlah keluangan menghilangkan kaku
Hingga sadar hadapai kenyataan
Tiada harapan tertitip padamu
Semua biasa karena terbiasa
Jalani hidup manusia normal
Dalam kesuksesan yang diimpikan
Redup…semuanya redup
Redupkan perasaanmu tuk berdegup
Karena hati tak selamanya dag dig dug
Biarlah redupku meredupkanmu
Karena semua pasti meredup
Letih hati berdegub

Reduplah…reduplah…!!!


Puisi Cinta KONDOMISASI HATI

Hati ini laksana balon
Terisi namun hampa berudara
Ditiup meninggalkan virus
Peniuppun mengidap enceng gondok
Bangga dalam ngos-ngosan menatap
ukuran
Inilah balonku….
Berwarna merah bercorak HBD
Mengembung mudah terbawa angin
Melayang tinggi tinggalkan penguasa
Tersangkut ranting dahanpun jadi
Tak sadar ukuran mulai mengempis
Enggan jatuh menyentuh bumi
Malu dan gengsi turun kembali
Mengendap anjlok kedap suara
Sensitif meledak tertusuk duri
Hebohkan massa karena ulahmu
Ternyata oh ternyata…
Puingmu tak berguna lagi
Selain santapan ayam kelaparan
Dicabik dan tercabik
Tak seorangpun menghiraukan
Hati ini bagaikan kondom
Terlipat rapih tiada yang tau
Terkemas indah wajah Julia peres
Keluguan bocah menyangkanya balon
Besar kecil ukuran bukan masalah
Hitam putih boleh memilih rasa
Tipis kulit arimu meragukan
Namun elastismu kuat menampung
beban
Benci dan dengki tertampung safety
Meski nikmat kurang dinikmati
Karenamu penghalang EDI (ejakulasi
dini)
Cinta dan nafsu bobolkan tembok
Banjir adalah luapan perasaan
Menggebu tatkala lupa posisi
Langit-langitpun bocor tersiram air
Dua minggu kemudian ajal kan tiba
Heboh massa karena ulahmu
Ternyata oh ternyata…
Kondommu tak berguna lagi

Selain santapan anjing kelaparan


Dicabik dan tercabik
Tak seorangpun menghiraukan
Kepingan malu tak dapat disatukan
Meski alteko perekat skandal reputasi
Semua tlah bertebaran bagai kapas
Tertiup angin dan tak kembali

Dalam sesalan tanpa henti


Puisi Cinta AROMA TERAPI

Dunia bagaikan ruang kecil
Berukuran mungil 3×2 cm
Tiada jendela tiada fentilasi
Semua orang pengap di dalamnya
Susah bernafas dan bergerak
Menindis dan menindas
Berlomba mendekati pintu
Kadang menggali pintu rahasia
Sesak…
Penat…
Ruang kecil
Ruang sempit
Kita terkurung di dalamnya
Kita berputar di dalamnya
Dan kita berakting di dalamnya
Semua orang menabur
Mengoles aroma terapi
Memoles aroma ter-api
Hangus terbakar
Demi kemenangan di ruang sempit
Dengan secuil kemenangan
Aroma terapi menjadi api
Senyum penuh alasan tetapi
Karena ruang ingin dikuasai
Mencekik..
Membunuh…
Yang penting ada udara
Menjual air segar
Menggadai udara sehat
Dikikis dari tembok kamar
Hingga ruang semakin beruang
Bicara penuh aroma terapi
Sikap terpoles aroma terapi
Gaya bak penjual aroma terapi
Semua topeng yang ber-api
Semakin memanaskan ruang

Dengan keharuman palsu


Menyengat seluruh tubuh
Berdalih obat penyehat
Menyengat ruang
Bercampur peluh dan minyak
Sesak di dada
Tak lama lagi
Ruang ini kan hangus terbakar
Tak dijamin lagi
Aroma ini kan menjadi lidah api
Lenyapkan ruang
Sisakan puing dan debu
Tiada warisan
Tiada harapan
Semua pasti binasa
Oleh harapan penjajal aroma terapi
Oleh sikap yang berapi

Berpoles keinginan pribadi


Puisi Cinta PEMUJA SETAN

Harta adalah ukuran
Jabatan sebatas kuburan
Kecantikan hanyalah ukiran
Semua lahan pujian
Semua bahan pujaan
Puja pujian laksana mantera
Mendekatkan diri pada setan
Jadikan engkau setan
Yang suka dipuja dan dipuji
Engkaulah wanita pujaan
Karena setan dalam kecantikanmu
Akulah pemuja setan
Engkaulah hartawan tiada tandingan
Karena setan dalam hartamu
Akulah pemuja setan
Engkaulah pejabat teras
Karena setan dalam jabatanmu
Akulah pemuja setan
Engkaulah si penjerumus
Perangkapkan aku dalam lingkaran
setan
Aku hanyalah setan
Yang kesetanan oleh setanmu
Aku bangga dengan hartamu
Engkau yang utama kuundang
Aku bangga dengan jabatanmu

Engkau yang pertama kuundang


Aku bangga dengan cantikmu
Engkau yang awalnya kuundang
Aku lupa diri sendiri
Aku lupa Tuhanku sendiri
Aku lupa undangan Tuhanku
Aku abaikan mengundang Tuhanku
Karena kebanggan aku bangga
Dibalik kebanggaan aku merugi
Tolong tebuskan kerugianku
Ternyata kamu tetap membisu
Ternyata kamu bukan penolong
Melainkan setan
Beranak sejuta pemuja setan
Mengejar segala pujaan
Merebut hati demi pujian

Tak ubah laksana setan


Puisi Cinta  PAIN IS FINE

Musim buah telah tiba
Lagu itu seakan tak bernada
Jelas liriknya menggoda
Iramanya mengundang laga
Sedikit sinis dalam menghina
“Sakitnya tuh di sini”
Sadar diri telah berusia tua
Mudah sakit dan malaria
Tipes langganan setia
Tawakkal sejenak hati berkata
“Nikmatnya tuh di sini”
Sakit menyadarkan alpa
Sakit menegur angkuh yang suka lupa
Bersyukur akan nikmat-Nya
Indah dalam ketentraman
Dapatkan segala kekurangan
Sadar masa yang kan tiba
Bersiap dalam ketidaksiapan
Ragu….
Deg-degan…
Takut…
Semua menghardik kerisauan
Hati mencoba bersabar
Fikiran paksa ketenangan
Terima segalanya dengan pasrah
Siap menghadapi
Siap menyongsong

Itulah pertanggungjawaban


Hingga mulut berani berkata
“Tentramnya tuh di sini”
Sakit itu nikmat
Pain itu terasa Fine-fine saja
Karena semua ‘kan luarbiasa
Jika dihadapi dengan pasrah
Tawakkal menerima
Jalani sakit sebagai nikmat
Semua terasa indah

“Indahnya tuh di sini”

Puisi Cinta KEMATIAN


Dawai maut menggemuruh
Takut menghampiri pembuluh
Cahaya raga terredup peluh
Nanar mata menatap keruh
Bayangan diri kian rapuh
Tak menyangka usia tlah separuh
Sisakan hitungan hari kesepuluh
Tak dapat mengelak hanya mengeluh
Karena panggilan itu menyeluruh
Semua menerima dengan patuh
Ajal itu pun mulai berlabuh
Ketika akal melambai tubuh
Nafas terengah renyuh
Jasmani semakin lumpuh
Tiada lagi congkak dan angkuh
Semua akan ditempuh
Jasad pun berpamitan kepada ruh
Tapi tubuh erat merengkuh
Ada sesuatu yang belum sembuh
Dosa itu tiada lagi bisa terbasuh
Tinggal penyesalan mengaduh
Karena arwah tak mungkin bersimpuh
Dan permohonan tak lagi ampuh
Semua ‘kan ditangguh

Hingga tiba hisab yang teguh


Puisi Cinta HIJRAH

Perjalanan taubatMu penuh duri
Sedangkan aku berharap rahmatMu
Perjalanan hidayahMu penuh berliku
Sedangkan aku menginginkan ridhaMu

Biarlah aku hijrah di atas duri


Biarlah aku mual dalam berliku
Tanpa belas kasih dan ridhaMu
Karena tujuanku semata diriMu
Dan bukan sifat yang melekat padaMu
Meski surga Engkau jadikan rayuan
Dan neraka Engkau jadikan ancaman
Tapi aku tidak tergiur rayuanMu
Dan tidak pula takut ancamanMu
Karena Engkaulah pemikat hati
Cahaya penerang setiap jalan
Yang akan dan terus menuntun
Setiap langkah bergerak menujuMu
Meraih keharibaanMu

Dan selalu dekat denganMu


Puisi Cinta UZLAH

Sendiri menyendirikan diri
Terasingkan oleh diri yang menyindir
Masa lalu yang lekat bersandar di diri
Yang slalu terasa asin di lendir sendiri
Perangkat hias diri harus disingkirkan
Sendiri menyendirikan diri
Mengasingkan label yang terasa asin
Bersandar langsung pada pemilik diri
Pemilik Yasin pada nadi leher sendiri
Penjaga diri meski dipaksa singkirkan
Sendiri menyendirikan diri
Berteman kesendirian mengoreksi diri
Mengingat masalalu coba sadarkan diri
Dari segala hal yang membuat lupa diri
Hingga kesendirian adalah cermin diri
Sendiri menyendirikan diri
Uzlah dari segala hiasan penyindir diri
Uzlah dari sandaran pembentukan diri
Uzlah dari godaan kesombongan diri
Uzlah dari pelunak kesangsian sendiri
Sendiri menyendirikan diri
Menerawang diri dari lingkar kenduri
Bebaskan duri kehidupan diri sendiri
Hingga kemerdekaan diri tiada berduri
Polos diri menjadi poros persendirian
Sendiri menyendirikan diri
Mengasingkan sebelum diri terasingkan
Menjauhkan sebelum diri ini terjauhkan
Menanggalkan seblm diri ditanggalkan

Meninggalkan seblum diri ditinggalkan


Uzlah…Uzlah…Uzlah
Biarlah di kesendirian diri bisa berubah
Cukuplah diri sendiri memperoleh tuah
Hiaslah hasil kesendirian dengan buah
Yang tak akan mendatangkan pula ulah


Uzlah…Uzlah…Uzlah
Jauhkanlah segala perhiasan duniawiah
Tanggalkanlah semua seragam ananiah
Sebelum diri tenggelam di lautan asin
Sebelum diri terperangkap di atas duri
Sendiri menyendirikan diri


Kesendirian ini akan menyadarkan diri
Kesunyian ini smakin meramaikan diri
Keterasingan ini adalah pelajaran diri
Berharga demi segala penghargaan diri


Puisi Cinta THAHARAH

Hati itu laksana pasir
Bersemayam bagaikan kusir
Kecil mungil tak ter taksir
Tak dapat diangkakan dan ditafsir
Ret dan rit hanya hitungan kasir
Jumlah satuan terlalu mubasir
Sebagai peringatan yang terlansir
Bagi orang yang berharap munsir
Ikhtiyar berdzikir hati menyisir
Penjuru kesucian penuh tathhir
Berkecil hati dengan kecilnya hati
Tak dapat ditaksir dalam maunya hati
Berdosa besar ulah kecilnya hati
Tersebar titah fitnah si raja hati
Kotor perbuatan lahirnya di hati
Laba bersih investasi perusahaan hati
Kesalahan kecil produk original hati
Terdistribusi luas dosa sang hati
Salahmu menafsir sempit makna hati
Salahku pendamkan niat di balik hati
Kamu pantas untuk berhati-hati
Mendagu-duga semua keinginan hati
Seribu kejahatan ‘kan merampok hati
Akupun semakin takut berhati-hati
Terjajah oleh segala kegundahan hati
Nampakkan kesembunyian minat hati
Sembunyikan penampakan setan hati

Karna kusadar bahwa di dalam hati


Terdapat sumber kesucian pemilik hati
Bersihkanlah semua junubnya hati
Mandikanlah segala junubnya hati
Sucikanlah junub janabahnya hati
Wangi itu ‘kan beraroma di hati
Sinar rupa ‘kan terpancar dari hati
Perbuatan itu tak perlu lagi berhati-hati
Karena semua tlah terkontrol hati
Pandanglah hati di penjuru pesisir
Memainkan rasa di teriknya pasir
Mudah diduga ketika menaksir
Terarah rupa keahlian sang kusir
Tak ada lagi kesalahtiruan tafsir
Tak ada lagi noda akan terlansir
Segalanya ‘kan benar-benar tathir


Puisi Cinta IKHLAS

Tersungkur takdir itu menukik
Tiada asa termaktub di mahfuz
Bersyukur tawakkal itu mencekik
Biarlah rasa terkatub di awal juz
Terbuka bibir melafal fatehah
Seraya mengetuk pintu pembuka
Alhamdulillah pin itu mudah terbaca
Namun rekening hati tak lagi bersaldo
Impossible mentrasfer al-ikhlas
Meski lisan desak paksa menagih
Namun hati membungkam ngambek
Mengelus dada berdalih ikhlas
Menerima qadar dengan berat hati
Pemrih berbalas budi
Budi yang tak terbalaskan
Rangkaian simbiosis take and give
Inspirasi berbagai stimulus
Punahkan sejatinya keikhlasan
Terjepit budi takdir berbalik
Tiada upaya hindarkan pamrih
Bersyukur tawakkal itu menghardik
Biarlah pahala urusan Sang Pengasih
Berserah diri setalah berikhtiyar
Seraya memohon kunci rahasia
Alhamdulillah jika terkabulkan
Agar hati terdidik tuk menerima
Memaknai dalamnya arti keihlasan

Menerapkannya dalam perbuatan


Ikhlas berkata dan berbuat
Ikhlas memberi dan menerima
Dalam simbiosis mukhlishiin
Yang khaalish tanpa khulaashah
Suci tak berembel-embel
Bersih tanpa bauksit


Puisi Cinta BIMBINGAN

Bimbing aku dari bimbangku
Bimbing aku dalam bimbingmu
Pandu aku ke tepi ketidaktahuanku
Pandu aku raih pengetahuanku
Tunjukan bimbang ketahuanku
Tunjukan minus ketidaktahuanku
Hantarkan aku menyongsong pagi
Hantarkan aku merajut impian
Karna engkaulah wasilah
Petunjuk menuju islah


Puisi Cinta KPK

Rambut Ka’ Peka kok rontok
Apakah Ka’ Peka tlah kapok
Hanya karena ulah si akhlak bobrok
Hingga takut terkena bacok
Padahal Ka’ peka diolok-olok
Masih mending dong si Ahok
Berani mendobrak berbagai blok
Meskipun Ia terus ditotok
Dicaci sebagai orang yang sok
Tetap berjuang demi semua stok
Gigi ka’ Peka kok anjlok
Apakah impian ka’ Peka mentok
Hanya karena ulah si perut montok
Melemahkan Ka’ Peka dalam mendok
Takut terancam hunusan golok
Padahal Ka’ Peka diobok-obok
Terhempas bugil dibalik jok
Bukankah itu sikap goblok
Menyerah duluan sebelum ditonjok
Ka’ Peka mestinya peka
Karena Ka’ Peka tidak menerka
Ka’ Peka orang yang merdeka


Kumpul bukti tentukan tersangka
Ka’ Peka bukan tersangka
Ka’ Peka juga bukan mereka
Karena Ka’ Peka bagi mereka neraka
Wibawa Ka’ Peka tak lagi top
Apakah semua itu karena amplop
Yang disisipkan dibalik leptop
Hingga langkah Ka’ peka terstop
Figur Ka’ Peka juga terkena secop
Perang dingin bombing molotop
Oleh penguasa mengandal brimop
Kisah surrender menjadi sebuah mop
Lezat disantap bersama sop
Semangat Ka’ Peka semakin ngetop
Sabang-merauke tak dapat disetop
Jangan pasrah terkena molotop
Tak pernah sakit meskipun drop
Jangan risau dikepung pasukan brimop
Karena engkau adalah penyetop


Puisi Cinta WINNER

Kabar hari menjelang kabur
Tiada terik memikat pandang
Pesona silam berlalu-lalang
Mengunduh kisah tak berulang
Wajah lugu lembut tak bertulang
Fikiran melambung terkena tilang
Mendung langit kian merinding
Lekat menempel di setiap dinding
Bayangan buram tak lagi kabur
Terpampang jelas di nisan kubur
Tinggal kenangan menjalar subur
Merangkai kejadian yang berhambur
Satu persatu mulai tersembur
Melanglang angan dalam lembur
Ingatan itu kembali mundur
Terakhir bayanganmu melambai
Hati merunduk perasaan lebai
Terlalu cepat semua itu menjamur
Padahal nasi belum menjadi bubur
Terlambat sudah kabar memberita
Terlambat sudah kisah bercerita
Terlambat sudah hati menderita

Terlambat sudah janji terlilit gurita


Meski akhirnya engkaulah the winner
Engkaulah sejuknya winter
Bersemayam tatkala summer
Terbebas derita berkelanjutan
Bersama kasih penuh kejutan
Dalam pelukan pemilik keajaiban
Bersama damaianmu dalam keabadian


Puisi Cinta ISTIQAMAH

Derai kaskade mengalir deras
Kesyahduan berselimutkan pedih
Berkamuflase di ambang ambisi
Bertawaf mengedari dinding hati
Pejalkan aspirasi dalam fabrikasi
Konstan pengawakan beranalekta
Tiada lagi senewen plintat-plintut
Dalam mendiagnosa spekulasi aksi
Karena istiqamah itu pilihan prima
Justifikasi berdasarkan de jure
Yang termaktub pada sunan & rasail
Secuil tindak tandukkan kronis
Selaras asas kompas religy
Superior dibanding tak direkomendasi
Determinasi berlapang dada
Prospek premi berlabel jempolan
Istiqamah dalam beraltruistik
Beramal mengamalkan darma & derma
Doktrin hati berpadu keyakinan
Tiada kemelaratan dan kemudharatan
Mereduksi resiko kemerosotan
Mengakuisisi ketenangan hati
Konstan berriuk dinamika
Dalam semua gerak dan pergaulan


Puisi Cinta INDEPENDENT

Kolonialisasi petirahan hati
Terhambakan ambisi vilirisme
Sungkem di bawah telapak dukana
Jejali pelesir tiada ada terminasi
Gerilya dalam perang berkubang
Mengidap angina sanggupkah berontak
Kapankah gencatan itu mangkat
Hingga pasifisme itu benar pasif

Terbebas dari gari dan kekangan


Menghirup piranti kantong udara
Menatap rimbun sterilnya ionosfir
Mencapai puncak arca liberty
Kemerdekaan hati menjadi iktikad
Curia belenggu rantai pelilit lekum
Tiada lagi giring-giring gemerincing
Membahana dalam koroner aorta
Recok gaduh lucuti artistik nurani
Menjemukkan jemuan bufet aurora
Dalam tambatan aliansi kohabitas
Yang tiada berkulup di milis cula
Saatnya ekspatriat melacak freedom
Obsesi ekspresif itu tlah kadaluarsa
Tervaksinasi semprotan anastesia
Memustahilkan segala kontigensi
Tak mungkin lagi berkoeksistensi
Platonis curai manuver lepas landas
Mengedrop out antipati melankolis
Menggencatkan obsesi kebengalan
Autodidak swatantra beregosentris
Demi asuransi koor grup kebahagiaan
Senandung oktaf not nada kehidupan


Puisi Cinta TAWAKKAL

Tiada lagi seringai kernyih
Pembalut durja penghias rupa
Tiada lagi periang berluap kans
Penopang pancang pilar layar
Pekat gerhana mengapit lentera
Suram, muram nampak kusam
Sendu dalam dekade krisis yais
Biopsi sel bersenyawa satwa
Sinis pesimis meniti prospek
Siklus puritan tidak berselaras
Berdaur dan berbaur pengulangan
Semua terasa konyol dan sia-sia
Mengarispkan karaf piranti sukses
Mengalengkan dokumen kecewa
Beban itu arteleri proyekti jauh
Remukkan tembok cina dan pyramida
Kepingan itu sangat menyayat
Benamkan niat dalam celupan pilu
Bercampur cuka dan jeruk nipis
Lesu masygul cabar hati
Putus asa bagaikan layangan

Tiada wadah mengait dan menadah


Berdiet menurunkan lemak cita
Hanya pasrah dan tawakkal
Berserah diri dan menyerah
Fatalism takdir terus menghardik
Pasrah, pasrah dan pasrah
Tawakkal senandung sendu
Telaah hati ‘tuk berpelipurlara
Mungkin semua tlah terikhtisar
Dalam silaby dan RPP ketuhanan
Tak dapat disangkal dan disanggah
Itulah predestinasi nasib abdi
Patut bertekuk lutut berserah diri
Dalam sayatan penghambaan
Seringai bibir mencoba berbesar diri
Kilapan asa tergantung di atas doa
Bersemayam khusuk bersembahyang
Kepada Dia yang Maha Besar
Dengan segala kebesaran-Nya
Meringankan setiap bahara pikulan
Lembut tangan tengadah meminta
Merengek pilu harapkan simpati
Berserah terima diri dalam tabah
Semoga Engkau menyayangiku


Puisi Cinta JAHANNAM

Bugar jasmani itu dengan senam
Sehat ruhani itu dengan jahanam
Bugar akhlak dengan menanam
Bibit unggul rukun Islam terbenam
Sehat keyakinan dengan enam
Format kegaiban neraka jahanam
Tereduplikasi di surah al-Anam
Bagi pecandu dosa delik jahanam
Pedih panas walau dalam manam
Keringat pasi mengidap demam
Panglong serbuk api jahannam
Pelakon jahanam lupa jahannam
Gaharu tobat harus mulai ditanam
Tak boleh lagi digenggam
Hingga ambisi itu berantam
Agar jahanam benar terbenam
Takutlah hai jahannam
Karena tempat kembalimu naar
jahannam
Kekal di dalmnya terendam dan

terbenam


Puisi Cinta BILA AJAL TIBA

Bila ajal itu tiba..
Iakan ruh ini tersalib di dalam sulbi
Izinkan akal ini mensulih suara hati
Agar kehidupan kudubbing kembali
Biar kematian kusabung dalam nadi
Bila ajal itu tiba..
Anggukkan cross di median dahi
Iyakan ulem-ulem itu secara resmi
Agar kesiapan itu benar terpatri
Biar kesempatan itu bisa kunikmati
Bila ajal itu tiba..
Iakan kesempatan untukku mengaji
Perkenankan lidah ini fasih kembali
Agar pengakhiran ini terkawal nanti
Biar pengakhiran ini seperti terawali
Bila ajal itu tiba..
Iakan nafas terengah itu mengabdi
Perkenankan lidah mengucap lagi
Agar keimanan menunjukkan bukti
Biar kematianku ini selalu diridhai
Bila ajal itu tiba..
Iakan panggilanMu panggilan suci
Izinkan lafalan menyelamatkan diri
Agar husnul khatimah sebagai cirri
Biar khatimahku ini selalu diberkahi
Bila ajal itu tiba..
Kapanpun ia akan tiba tiba-tiba
Merazia implusif segera
Menyergap aksi dengan tiba-tiba
Saatnyapun ‘kan melawat
Firasat tak mampu meramal
Sogokan tak mampu menghelat
Hanya amal sebagai bukti
Hanya derma sebagai bakti
Berbelaslah kasih anugerah
Sayangi aku dalam hidayahMu
Ampunilah aku!
Dengan segala ridha
Dan juga rahmatMu
Dalam ending penuh blasting
Semoga ber-happy ending

Amien!!









Sumber : Saidna Zulfiqar bin Tahir












Kata kunci :
40+ Puisi Cinta Religi Terbaru, Puisi Cinta Religi Terbaru, Puisi Cinta Religi, Puisi Cinta, Puisi Cinta Religi, Puisi, Cinta, Religi, Puisi Cinta Religi Terbaru, Puisi Cinta Religi Terbaru, 
40+ Puisi Cinta Religi Terbaru, Puisi Cinta Religi Terbaru, Puisi Cinta Religi, Puisi Cinta, Puisi Cinta Religi, Puisi, Cinta, Religi, Puisi Cinta Religi Terbaru, Puisi Cinta Religi Terbaru
40+ Puisi Cinta Religi Terbaru, Puisi Cinta Religi Terbaru, Puisi Cinta Religi, Puisi Cinta, Puisi Cinta Religi, Puisi, Cinta, Religi, Puisi Cinta Religi Terbaru, Puisi Cinta Religi Terbaru

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *