Uncategorized

Buku Dasar Etika Profesi Informatikawan

Judul Buku           :
Dasar-Dasar Etika Profesi Informatikawan
Pengarang           :
Rina Arum Prastyanti
Penerbit               :
Duta Publishing Indonesia
Tahun Terbit         :
2012
ISBN                    :
978-602-9348-19-4
Jumlah Halaman  :
136
 
Beli Bukunya di    : https://www.tokopedia.com/buku-setiono/dasar-dasar-etika-profesi-informatikawan-rina-arum-prastyanti-duta


BAB I TEORI DASAR ETIKA
A.  Istilah Etika
Etika berasal dari kata ethos yang berasal dari bahasa
Yunani berarti karakter, watak, kesusilaan, serta adat. Etika sebagai konsep
untuk menilai tindakan salah-benar maupun baik-buruk perbuatan manusia. Dapat
disimpulkan bahwa etika adalah refleksi dari pengendalian diri karena dibuat
dan diterapkan untuk kepentingan kelompok.
Etika merupakan filsafat moral sebagai salah satu cabang
ilmu filsafat yang mempelajari tentang kebaikan (rightness), keburukan
(wrongness), dan keharusan (oughtness). Sedangkan etika sendiri di Indonesia
lebih diartikan sebagai susila atau kesusilaan yang berarti perbuatan baik atau
buruk seseorang. 
Selain itu dalam etika dikenal yang namanya akhlak,
berikut adalah kajian akhlak islami :
1) Ethos     : menyangkut hubungan seseorang dengan Khaliknya.
2) Etis        : Mengatur sikap seseorang dengan diri sendiri dan hubungan dengan orang lain.
3) Moral     : mengatur hubungan dengan orang lain tapi tidak menyangkut kehormatan seseorang.

4) Estetika : menyangkut rasa keindahan


Sedangkan kajian moral dalam etika adlah sebagai berikut
:
    1)   Baik-buruk, benar-salah, tepat-tidak tepat dalam
aktivitas manusia.
    2)   Tindakan benar, adil, dan wajar.
    3)   Kaidah tingkah laku untuk mengarahkan orang lain.
    4)   Sikap seseorang dalam hubungan dengan orang lain.
B.  Objek Kajian Etika
Dalam ruang akal manusia terdapat harmonisasi hubungan
antara nilai (apriori) dan perbuatan (aposteriori). Nilai sebagai dasar dan
bentuk, sedangkan perbuatan sebagai isi. Keduanya merupakan kesatuan yang dalam
pelaksanaannya menghasilkan moral atau kesusilaan.
Perbuatan yang dapat ditinjau dari sudut suasana batin
memiliki dua macam subjek, yaitu :
    1) Perbuatan oleh diri sendiri : tindakan yang dilakukan
oleh diri sendiri, dibagi menjadi 2, antara lain :
a)   Perbuatan sadar : tindakan yang dikehendaki, dipilih, dan
tanpa ancaman dari manapun.
b)   Perbuatan tak sadar : tindakan diluar kontrol sukma,
dapat berupa gerak refleks, dan tanpa paksaan dari manapun.
    2) Perbuatan oleh orang lain : tindakan yang dilakukan
karena pengaruh oleh orang lain berupa saran, nasihat, anjuran, maupun tekanan,
paksaan, ancaman serta peringatan.
C.  Etika Sebagai Bagian Filsafat
Etika adalah cabang filsafat moral. Kata filsafat berasal
dari bahasa Yunani philosophia yaitu philo (cinta) dan sophia (kebijaksanaan),
maka berarti cinta kebijaksanaan. Filsafat bertolak dan berbicara tentang
pengalaman. Sedangkan objek filsafat sendiri adalah dunia nyata.
Cabang
dari ilmu filsafat sendiri ada 8, antara lain :

1) Ontologi : merenungkan tentang yang ada pada umumnya.
2) Kosmologi / filsafat alam : merenungi alam/dunia luar memungkinkan manusia berada dalam ruang dan waktu.
3) Anthropologi : merenungi hakikat manusia.
4) Metafisika : merenungi ada yang melampui fisik dan jangkauan pengalaman manusia.
5) Epistemologi / ilmu pengetahuan : merenungi bagaimana untuk mendapatkan pengetahuan yang benar dan mencapai kebenaran itu.
6) Logika : teknik berpikir dengan menggunakan akal sebagai alat untuk kebenaran.
7) Etika / filsafat moral : merenungi baik-buruk tingkah laku manusia.
Selain itu Muhammad Nuh mendefinisikan
macam-macam etika menjadi tiga macam, antara lain :
     1)   Etika deskriptif : melihat secara kritis dan rasional
sikap dan tujuan hidup.
     2)   Etika normatif : mengajarkan berbagai sikap dan pola
perilaku ideal yang harus dimiliki manusia.
     3)   Metaetika : studi tentang etika normatif bergerak pada
taraf lebih tinggi dari perilaku etis.
Agar norma etika berlaku terhadap
perbuatan manusia, maka perbuatan itu harus memenuhi unsur :
     1)   Pengertian : norma etika dipersyaratkan adanya
pengetahuan, pengertuan, kesadaran baik-buruk suatu perbuatan.
     2)   Kesukarelaan : Kesengajaan atau niat (intention) untuk
berbuat tanpa paksaan dari luar, bukan paksaaan dari dalam. Dalam hal ini
kesukarelaan kurang sempurna apabila perbuatan terdapat :
·       
Ketidaktahuan :
kekurangan informasi atau pengetahuan.
·       
Passion : dorongan
perasaan yang sangat kuat.
·    Ketakutan/paksaan :
karena orang lain yang bertentangan dengan kata hati.
     3)   Kebebasan : terbuka beberapa alternatif untuk dipilih.
Dalam kebebasan terdapat beberapa aliran kehendak bebas manusia, antara lain :
a.   Determinisme : mengingkari adanya kehendak bebas manusia.
·       
Determinisme
Naturalis : berpendirian bahwa manusia merupakan bagian dari alam.
·       
Determinisme Religius
: berpendapat bahwa Tuhan itu Maha Kuasa dan tidak terbatas oleh apapun
kuasanya termasuk kehendak atas manusia.
b.   Ideterminisme
·       
Indeterminisme
Naturalis : berpendapat bahwa alam semesta punya kodrat sendiri,
·       
Indeterminisme
Religius : berpendapat bahwa manusia punya kehendak bebas yang merupakan
karunia-Nya.
     4)   Postulat Etika :etika cabang filsafat yang merumuskan
baik-buruk tingkah laku manusia.

BAB II
TINJAUAN MORAL, NORMA HUKUM, ETIKA DAN AGAMA
A.  MORALITAS DAN AGAMA
Moralitas tidak dapat menggantika agama, tetapi agama
perlu keterampilan etika agar memberikan orientasi bukan sekedar indoktrinasi,
hal ini desebabkan oleh beberapa alasan antara lain :
1)   Orang mengharapkan agama rasional, karena Tuhan
memerintahkan pasti ada alasannya.
2)   Ajaran moral dalam wahyu mengijinkan saling berbeda atau
bertentangan.
3)   Karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ada
masalah muncul yang tidak secara langsung disinggung dalam wahyu.
4)   Adanya perbedaan etika dalam ajaran moral.
B.  HUBUNGAN NORMA HUKUM, ETIKA DAN AGAMA
Berikut
adalah norma hukum menurut Aquino :
1)   Lex Eterna / Hukum Abadi : merupakan rasio Tuhan sendiri
yang mengatur segala yang ada.
2)   Lex Naturalis / Hukum Alam : bagian lex eterna yang dapat
ditangkap dan dipahami manusia sebagai makhluk yang mempunyai akal pikiran.
3)   Lex Divina / Hukum Ketuhanan Positif : bagian dari lex
eterna yang diwahyukan oleh tuhan yang terdapat dalam kitab suci.
4)   Hukum Positif Buatan Manusia : diciptakan oleh manusia
dengan menurunkannya dari hukum alam.
Dalam bidang hukum alam faham
rasionalisme, Grotius (1583-1645) telah menyemaikan benih-benis sekularisme di
bidang hukum. Hukum alam ajaran Grotius sebagai berikut :
1)   Hukum Alam : keseluruhan ketentuan alam yang dapat
ditemukan manusia melalui rasionya.
2)   Hukum alam terlepas daru kehendak Tuhan.
3)   Hukum alam bersifat universal dan mutlak.
4)   Tuhan tidak dapat menyebabkan 2×2 tidak menjadi 4.
5)   Hukum alam merupakan analog yang berlaku dalam ilmu
pasti.
Pemisahan hukum dari etika menyebabkan
erosi terhadap faham hukum alam, erosi faham hukum alam disebabkan beberapa
faktor yaitu :
1)   Kebangkitan Nasionalisme
Hilangnya kepercayaan atas
adanya hukum yang lebih tinggi diatas hukum positif, perkembangan teori
kedaulatan Bodin dan teori praktis Machiavelli menghancurkan faham kekeluargaan
kristen (Christendom) menggantikannya dengan kedaulatan bangsa.
2)   Kebangkitan Kapitalisme
Revolusi industri dalam
mengejar kesejahteraan, pertumbuhan penduduk, pertumbuhan kota, menyebabkan
negara imperialis yang menguasai negara terbelakang menjadi sumber bahan mentah
dan pasar dagang.
3)   Relativisme
Kepercayaan sesuatu yang
mutlak/universal, timbul keyakinan pendapat sesorang sama dengan baiknya dengan
pendapat orang lain.
4)   Faham Anti Intelektualisme dari Rousseau
Tentang kedaulatan rakyat
dengan faham mayoritas selalu benar dan menang.
5)   Kecenderungan Perlawanan Tertentu dari Ilmu Modern
Kekaguman atas hal-hal yang
dicapai melalui kegiatan intelektual, menyebabkan pemujaan metode induksi
berlebihan.
6)   Utilitarianisme
Oleh Hobbes kemudian
dikembangkan Mill dan Bertham, berkesimpulan bahwa memberikan manfaat yang
sebesar-besarnya kepada orang sebanyak-banyaknya.
7)   Teori Hukum Analitik
Oleh Austin memisahkan hukum
dengan moral serta etika dengan agama.
8)   Pengingkaran atas adanya kebebasan kehendak pada manusia,
faham determinisme yaitu manusia tidak punya kehendak bebas tetapi keadaannya
ditentukan dari luar.
9)   Pragmatisme yaitu kelanjutan dari positivisme dan
ultitarianisme bahwa kebenaran itu tidak lain kemanfaatan dan tingkah laku baik
adalah yang efisien.
Penggolongan hukum menurut Austin :
1)   Hukum yang dibuat Tuhan untuk manusia (law of God).
2)   Hukum yang dibuat yang dibuat manusia untuk manusia
(human law).
·       
Moral Positif : hukum
yang tidak dibuat oleh penguasa politik.
·       
Hukum Positif : hukum
yang dibuat secara langsung maupun tak langsung oleh penguasa politik.
C.  UPAYA PENEGAKAN HUKUM MELALUI ETIKA DAN AGAMA
Penegakan norma etika dan agama bukan saja akan
menciptakan pribadi-pribadi yang baik, akan tetapi secara tidak langsung akan
menciptakan ketertiban masyarakat. Disinilah terjadi eksternalisasi norma etika
dan agama. Sedangkan disisi lain, penegakan hukum bukan saja akan menciptakan
ketertiban masyarakat tetapi juga mendidik pribadi mesyarakat lebih susila.
Disinilah terjadi internalisasi hukum.
Tentang pentingnya norma etika menjiwai penguasa dalam
menjalankan pemerintahan dan penegakan huku, para pendiri negara melukiskannya
dalam penjelasan UUD 1945 yang selanjutnya dituangkan dalam batang tubuh
setelah empat tahun mengalami perubahan (amandemen). Baik pemerintah orde baru
maupun reformasi, meyakini bahwa etika seluruh rakyat dan penyelenggara pemerintahan
merupakan kunci keberhasilan ataupun kegagalan dalam pembangunan nasional.



BAB III
PROFESI, KODE ETIK DAN PROFESIONALISME
A.  PROFESI
Kata profesi dan professional dalam perkataan sehari-hari
diartikan sebagai suatu bentuk “Pekerjaan Tetap” yang dilakukan oleh seorang
untuk memperoleh nafkah, baik secara legal maupun tidak. Kata ‘Profesi’
diartikan sebagai suatu pekerjaan untuk memperoleh uang, sedangkan profesi
dalam arti yang teknis merupakan suatu kegiatan tertentu.
Profesi merupakan kelompok kerja yang khusus melaksanakan
kegiatan yang memerlukan ketrampilan dan keahlian tinggi guna memenuhi
kebutuhan yang rumit dari manusia. Dari pekerjaan ini, dapat diartikan okupasi
atau pekerjaan yang dilakukan oleh seorang melalui proses tersebut adalah professional,
sedangkan orang yang melakukan pekerjaan tanpa didasari oleh pengalaman dan
proses pendidikan serta latihan secara intensif hanya dapat dikatakan sebagai
amatir atau suatu pekerjaan yang dilakukan secara sambilan.
Profesi adalah pekerjaan pelayanan yang menerapkan
seperangkat pengetahuan sistematika ilmu, pada masalah yang sangat relevan bagi
nilai utama masyarakat. Nilai-nilai dan norma ini kemudian
diinstitusionalisasikan dalam stuktur dan kultur dari profesi yang bersangkutan
sehingga pengendalian individual diperkuat oleh pengawasan formal dan informal
oleh komunitas sejawat sebagai imbalan masyarakat memberikan keistimewaan.
Profesi dapat dikatakan suatu fungsi kemasyarakatan
tertentu yang perwujudannya memasyarakatkan disiplin ilmu tertentu. Adapula
system okupasi yang dapat dikualifikasi sebagai profesi, yaitu ketuhanan,
ulama; kedokteran; hokum; jurnalistik; dan pendidikan. Terdapat pula tiga ciri
utama dan ciri tambahan profesi serta fungsi kode etik profesi :
1.   Ciri utama profesi
a)   Sebuah profesi mensyaratkan pelatihan ekstensif sebelum
memasuki sebuah profesi.
b)   Pelatihan tersebut meliputi komponen intelektual yang
signifikan.
c)   Tenaga yang dilatih mampu memberikan jasa yang penting
pada masyarakat.
2.   Ciri tambahan profesi
·       
Adanya proses lisensi
atau sertifikat.
·       
Adanya organisasi.
·       
Otonomi dalam
pekerjaan.
3.   Fungsi kode etik profesi
Ø Memberi pedoman bagi setiap anggota profesi tentang
prinsip profesionalitas yang digariskan.
Ø Merupakan sarana control social bagi masyarakat atas
profesi yang bersangkutan.
Ø Mencegah campur tangan pihak diluar organisasi profesi
tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi.
B.  KODE ETIK
Kode merupakan tanda-tanda atau symbol berupa kata-kata,
tulisan, atau benda yang disepakati untuk maksud-maksud tertentu, misal untuk
menjamin suatu benda, keputusan suatu kesepakatan suatu organisasi. Kode dapat
berarti kumpulan peraturan yang sistematis, dalam kode etik berisi norma atau
asas yang diterima oleh suatu kelompok tertentu sebagai landasan tingkah laku
sehari-hari di masyarakat maupun ditempat kerja.
Kode etik terdapat system norma, nilai dan aturan
professional tertulis yang secara tegas menyatakan apa yang benar dan baik, dan
apa yang menyatakan tidak benar dan tidak baik bagi profesional. Tujuan kode
etik agar professional memberikan jasa sebaik-baiknya kepada pemakai atau
nasabahnya.
Sifat dan prinsip kode etik professional, meliputi :
a)   Singkat
b)   Sederhana
c)   Jelas dan konsisten
d)   Masuk akal
e)   Dapat diterima
f)    Praktis dan dapat dilaksanakan
Kode
etik diorientasikan dan ditujukan kepada:
a)   Rekan
b)   Profesi
c)   Badan
d)   Nasabah/pemakai
e)   Negara
f)    Masyarakat
Etika memberikan semacam batasan maupun
standar yang akan mengatur pergaulan manusia dalam kelompok socialnya. Etika
adalah refleksi “self control” karena suatu dibuat dan diterapkan dari
kepentingan kelompok social (profesi) itu sendiri. Kode etik diperlukan untuk
menjaga martabat serta kehormatan profesi, pada sisi lain kode etik melindungi
masyarakat dari segala bentuk penyimpangan maupun penyalahgunaan keahlian.
Tanpa etika profesi, apa yang semula dikenal sebagai
sebuah profesi yang terhormat akan segera jatuh terdegredasi menjadi sebuah
pekerjaan pencarian nafkah biasa (okupasi) yang sedikit tidak diwarnai nilai
idealism dan berujung akhir dengan tidak adanya respect maupun kepercayaan yang
pantas diberikan kepada elite professional ini.
C.  PROFESIONALISME
Kata “profession” yang berasal dari perbendaharaan angglo
saxon tidak hanya mengandung pengertian pekerjaan. Maka arti profession
mengandung dua unsur, pertama adalah unsur keahlian dan kedua merupakan unsur
panggilan. Profesionalisme merupakan tingkah laku, sutau tujuan atau suatu
rangkaian kualitas yang menandai atau melukiskan corak suatu “profesi”. Menurut
Parsons, professional itu harus memenuhi kiteria sebagai berikut :
a)   Profesi mensyaratkan suatu pekerjaan harus didasarkan
pada suatu pendidikan teknis formal yang dilengkapi dengan cara pengujian yang
terinstitusionalisasikan pendidikannya, dan kompetensi orang-orang dari hasil
didikannya.
b)   Adanya suatu penguasaan tradisi kurtural dalam
mengamalkan keahlian tertentu.
c)   Untuk menjamin bahwa kompetensi dari suatu okupasi akan
digunakan cara-cara yang secara social bertanggung jawab, harus ada
institusional.
Ketiga kiteria diatas merupakan factor
inti untuk mengkategorikan suatu pekerjaan sebagai suatu profesi. Adapula
ciri-ciri khusus profesi sebagai suatu system okupasional menurut Parsons
adalah :
a)   Tidak berorientasi pada disinstrestendness (tanpa
pamrih).
b)   Rasionalitas dalam arti melawan tradisionalisme,kebenaran
objektif dijadikan standar normative tertentu, termasuk kedalam ruang lingkup
suatu penelitian ilmiah.
c)   Spesifik fungsional yang bertumpu pada kompetensi
teknikal yang superior, para pengemban profesi memiliki dan menjalankan
kewibawaan (otoritas) dalam masyarakat otoritas professional ditandai oleh
spesifik fungsiyang merupakan unsur ensesial pada pola professional.
d)   Universalisme dalam mengambil suatu putusan pada landasan
pertimbangan professional yang didasarkan pada permasalahannya.
Dibawah ini merupakan ciri profesionalisme :
1.   Profesionalisme menghendaki sifat mengejar kesempurnaan
hasil sehingga selalu mencari peningkatan mutu.
2.   Profesionalisme memerlukan kesungguhan dan ketelitian
kerja yang hanya dapat diperoleh melalui pengalaman dan kebiasaan.
3.   Profesionalisme menuntut ketekunan dan ketabahan.
4.   Profesionalisme memerlukan integritas tinggi yang tidak
tergoyahkan oleh keadaan terpaksa maupun godaan iman.
5.   Profesionalisme memerlukan adanya kebulatan pikiran dan
perbuatan sehingga terjaga efektivitas kerja yang tinggi.
Ciri diatas menunjukan bahwa tidak mudah menjadi seorang
pelaksana profesi yang professional. Ada pula watak kerja professional antara
lain :
a)   Beriktikad untuk realisasikan kebajikan demi tegaknya
kehormatan profesi yang digeluti.
b)   Dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas tinggi
yang dicapai melalui proses pendidikan dan pelatihan yang panjang, ekslusif dan
berat.
c)   Diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral.
Pelanggaran terhadap kode etik profesi bias dalam
berbagai bentuk :
a)   Pelanggaran terhadap perbuatan tidak mencerminkan respek
terhadap nilai-nilai yang seharusnya dijunjung tinggi oleh profesi itu.
b)   Pelanggaran terhadap perbuatan pelayanan jasa profesi
yang kurang mencerminkan kualitas keahlian yang sulit atau kurang dapat
dipertanggungjawabkan menurut standar maupun kiteria professional.

BAB IV
TANGGUNG JAWAB ETIKA PROFESI INFORMATIKAWAN
A.  ETIKA PROFESI INFORMATIKAWAN
Revolusi teknologi informasi dan komunikasi meupakan
sebuah tantangan besar bagi Indonesia. Menurut Prof. Dr. M. Mastuhu,
globalisasi memberi peluang dan fasilitas yang luar biasa bagi siapa saja yang
mau dan mampu memanfaatkan, baik untuk kepentingan sendiri maupun kepentingan
manusia seutuhnya. Sedangkan menurut Bondan S. Prakoso dan Rakhmat Januardy,
salah satu ciri utama abad 21 adalah berkembangnya Teknologi Informasi dan
Komunikasi/TIK, yang sangat mempengaruhi tingkat kemajuan, kemakmuran, dan daya
saing suatu bangsa. Menurut Dr. Nanang Fattah, perkembangan ilmu teknologi
dewasa turut berperan mempercepat laju perkembangan ekonomi dan industry yang
punya implikasi penting terhadap dunia pendidikan.
Dalam pengertian luas, teknologi dapat meliputi system,
organisasi, teknik. Seiring perkembangan dan kemajuan jaman, pengertian
teknologi menjadi semakin luas. Internet pertama kali dikenalkan oleh
departemen pertahanan amerika pada tahun 1960 melalui ARPA. Mereka meriris
sebuah system jaringan ARPANET yang kemudian menjadi cikal bakal internet.
1)   Kegunaan Internet
a)   Sarana untuk pertukaran data
b)   Mengurangi biaya distribusi atau biaya kertas
c)   Sarana research and development yang cepat dan murah
2)   Dampak Positif dan Negatif dari Internet
a.   Dampak Positif
1.   Kemudahan memperoleh informasi
2.   Internet mendukung transaksi operasi bisnis/e-business
3.   Sebagai media promosi
4.   Dapat diakses 24 jam
5.   Konektivitas dan jangkauan global
b.   Dampak Negatif
1.   Jaringan internet sangat tergantung pada jaringan
telepon, satelit, ISP, dan fasilitas jaringan telepon
2.   Jaringan internet sangat rentan dengan ancaman virus
Kode etik profesi informatikawan
merupakan bagian dari etika profesi dan lanjutan dari norma yang lebih umum
yang dibahas dan dirumuskan dalam etika profesi. Ujian TI profesi bidang TI
dibagi jadi tiga kelompok antara lain:
1.   Kelompok Pertama, merupakan mereka yang bergelut didunia
perangkat lunak (Software)
·       
System analisis,
orang yang tugasnya menganalisa system yang akan diimplementasi.
·       
Programmer, orang
yang tugasnya implementasi rancangan system analisis.
·       
Web Designer, orang
yang melakukan kegiatan perencanaan, termasuk studi kelayakan analisis dan
desain suatu proyek pembuatan aplikasi berbasis web.
·       
Web Programer, orang
yang melakukan implementasi rancangan web designer.
2.   Kelompok Kedua, merupakan mereka yang bergelut didunia
perangkat keras (Hardware)
·       
Technical Engineer,
orang yang berkecimpung dalam bidang teknik.
·       
Networking Engineer,
orang yang berkecimpung dalam bidang teknik jaringan computer dari maintenance
sampai pada troubleshooting
3.   Kelompok Ketiga, merupakan mereka yang berkecimpung dalam
operasional system informasi
·       
EDP operator, orang
yang tugasnya mengoperasikan program-program yang berhubungan dengan electronic
data processing dalam sebuah perusahaan.
·       
System administrator,
orang yang tugasnya melakukan administrasi terhadap system
·       
Mis Director, orang
yang memiliki wewewang paling tinggi terhadap system informasi
Sikap menggunakan internet terbagi menjadi lima yaitu :
1)   Netiket pada one to one communication
Kondisi dimana komunikasi terjadi antar individu “face to
face” dalam dialog
2)   Netiket pada one to many communication
Kondisi dimana komunikasi terjadi antar individu dengan
beberapa orang sekaligus
3)   E-Commerce
Otomatis bisnis dengan internet dan layananya.
4)   HAKI
Pengakuan hak atas kekayaan intelektual
5)   Tanggung Jawab Profesi
Bentuk tanggung jawab moral, perlu diciptakan ruang bagi
komunitas yang saling menghormati
Adapun fungsi dari kode etik profesi informatikawan
adalah :
1)   Memberi pedoman bagi setiap anggota profesi tentang
prinsip profesionalitas yang digariskan
2)   Control social bagi masyarakat atas profesi yang
bersangkutan
3)   Mencegah campur tangan pihak luar organisasi tentang
hubungan etika dalam keanggotaan profesi.
Etika profesi sangat dibutuhkan dalam
berbagai bidang khususnya bidang teknologi informasi. Adapun kode etik yang
diharapkan bagi para pengguna internet adalah :
1)   Menghindari dan tidak publikasi informasi secara langsung
yang berkaitan dengan masalah pornografi dan nudism dalam segala bentuk.
2)   Menghindari dan tidak publikasi informasi secara langsung
yang memiliki tendensi menyinggung secara langsung dan negative masalah suku,
agama dan ras.
3)   Menghindari dan tidak publikasi informasi yang
menginstruksikan untuk melakukan perbuatan melawan hokum.
B.  CYBER CRIME DAN KATEGORINYA
Cyber crime merupakan bentuk kejahatan yang timbul karena
pemanfaatan teknologi internet. Cyber crime dalam dunia computer dan internet
memiliki arti yang luas dan kategori atau variasi menurut Eoghan Casey, Cyber
crime dikategorikan menjadi empat kategori yaitu :
1)   A computer can be the object of crime.
2)   A computer can be a subject of crime.
3)   The computer can be used as the fool for conducting or
planning a crime
4)   The symbol of the computer it self can be used to
intimidate or deceive.
Sedangkan menurut dokumen kongres PBB
tentang the prevention of crime and the treatment of offlenderes di Havana,
cuba pada tahun 1999 dan di wina, Austria tahun 2000 menyebutkan dua istilah
cyber crime :
1.   Cybercrime in a narrow sense (dalam arti sempit) : any
illegal behavior directed by means of electronic operation that target the security
of computer system and the data processed by them.
2.   Cybercrime in a broader sense (dalam arti luas) : any
illegal behavior committed by means on relation to, a computer system offering
or system or network including such crime as illegal possession in, offering or
distributing information by means of computer system or network.
Dalam era globalisasi seperti sekarang
berbagai macam tingkat kejahatan yang berhubungan dengan penggunaan teknologi
yang berbasis computer dan jaringan telekomunikasi dapat dikelompokkan dalam
beberapa bentuk antara lain :
a.   Unauthorized access to computer system and service
Suatu kejahatan yang dilakukan dengan cara memasuki
kedalam suatu system jaringan computer secara tidak sah atau sembunyi-sembunyi,
tanpa izin atau tanpa sepengetahuan pemilik system jaringan computer.
b.   Illegal contents
Suatu kejahatan yang memasukan data atau informasi ke
internet tentang suatu hal yang tidak benar, tidak etis dan dapat dianggap
melanggar hokum atau mengganggu ketertiban umum.
c.   Data forgery
Kejahatan yang cara memalsukan data pada dokumen penting
yang tersimpan sebagai scripless dokumen melalui internet.
d.   Typosquatting
Kejahatan dengan membuat domain yang mirip dengan nama
domain orang lain.
e.   Penyebaran virus secara sengaja
Penyebaran virus umumnya dilakukan dengan menggunakan
e-mail
f.     Carding
Merupakan kejahatan yang dilakukan untuk mencuri nomor
kartu kredit milik orang lain dan digunakan dalam transaksi perdagangan di
internet.
C.  CONTOH KASUS PELANGGARAN ETIKA PROFESI INFORMATIKAWAN
Kasus bermula dari rasa tidak puasnya prita terhadap
pelayanan RS Omni Internasional di daerah alam sutera tenggerang. Kecewanya itu
kemudian dituliskan melalui e-mail untuk dikirim ke beberapa teman yang
dikenalnya, namun tanpa sepengetahuan prita, e-mail itu menyebar didunia maya.
Tidak terima atas perlakuan itu, RS Omni mengadukannya ke polisi dengan
tudingan pencemaran nama baik. Bahkan, RS Omni Internasional pun menggugat
prita secara perdata. Polisi menjerat prita dengan pasal 310 KUHP dibawah 5
tahun, prita pun tidak ditahan tetapi ketika berkas dilimpahkan ke kejaksaan
(P21), oleh jaksa penutut umum pasal yang dituduhkan kepada prita ditambah lagi
dengan menggunakan pasal 27 UU ITE yang mengancam hukumnya diatas 5 tahun
penjara  maka prita pun dijebloskan di
penjara oleh jaksa selama prores pemeriksaan berlangsung.
Belajar dari kasus prita ini, tampaknya apparat penegak
hokum telah sengaja memain-mainkan untuk tidak mengatakan sembrono, pasal
pencemaran nama baik dalam undang-undang. Karena pada ghalibnya, ada beberapa
muatan yang semestinya prita tidak perlu dijebloskan ke penjara semasa proses
pemerikasaan berlangsung. Terhadap kasasi kasus perdana prita mulyasari ini,
Mahkamah Agung melamui majelis agung yang memutuskan perkara ini yaitu
zaharuddin utama, salman luthan dan iman harjadi, melalui putusan MA nomor 822
K/PID.SUS/2010 atas kasus tindak perdana informasi elektronik, telah
membatalkan vonis bebas prita mulyasari dalam kasus pencemaran nama baik RS
Omni Internasional.

Prita justru dihukum 6 bulan penjara dengan 1 tahun masa
percobaan, majelis kasasi mengabulkan permohonan kasus gugatan perdata yang
diajukan prita mulyasari melawan rumah sakit Omni Internasional artinya dengan
vonis tersebut keluar maka prita dibebaskan dari seluruh ganti rugi yang nilainya
Rp 204 juta. Dengan adanya putusan kasasi dalam kasus perkara pidana tersebut
prita mulyasari akhirnya mengajukan peninjauan kembali (PK).

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *