Uncategorized

Makalah Penerapan Etika Dalam Pemilihan Umum

Makalah Penerapan Etika Dalam Pemilihan Umum – makalah dibawah ini adalah makalah yang membahas mengenai penerapan etika dalam pemilihan umum atau biasa kita sebut sebagai pemilu, makalah ini bertujuan untuk membantu bagi yang ingin membuat tugas makalah tetapi bingung mencari referensi, makalah ini bisa dijadikan referensi dalam penulisan makalah.
MAKALAH
PENERAPAN
ETIKA DALAM PEMILIHAN UMUM (PEMILU)

Makalah Penerapan Etika Dalam Pemilihan Umum

ABSTRAK
Etika politik merupakan salah satu
sarana yang diharapkan bisa menghasilkan suasana harmonis antar pelaku dan
antar kekuatan sosial politik serta antar kelompok kepentingan lainnya untuk
mencapai sebesar-besar kemajuan bangsa dan negara dengan mendahulukan
kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi dan golongan. Sampel
penelitian diambil kepada 4 orang yang berbeda kalangan (Ketua KPU, Pedagang,
Pegawai, dan Mahasiswa). Pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi dan
wawancara dengan mengajukan 4 Pertanyaan kepada ketua KPU dan masyarakat
(pedagang, pegawai dan mahasiswa). Analisis data dengan analisis kualitatif
deskriptif. 

Hasil Penelitian dan kesimpulan dari penelitian ini adalah : (1)
Pengertian etika dan moral merupakan tingkah laku manusia yang memiliki nilai
di kehidupan sehari-hari. (2) Penerapan etika dan moral dalam politik terdapat
berbeda-beda cara penerapannya, baik itu bagian di KPU nya ataupun masyarakat
dalam menerapkannya di pemilihan umum. (3) Sosialisasi pemilihan umum kepada
masyarakat sudah tersalurkan walaupun belum menyeluruh. (4) Golongan putih
menjadi jawaban bagi masyarakat yang tidak ingin berpartisipasi dalam
menyampaikan suaranya.
Kata Kunci : Etika Politik, KPU, Pemilu.



PENDAHULUAN
Latar Belakang
Etika politik di Indonesia
diharapkan dapat menghasilkan suasana harmonis antar pelaku dan antar kekuatan
sosial politik serta antar kelompok kepentingan lainnya untuk mencapai
sebesar-besar kemajuan bangsa dan negara dengan mendahulukan kepentingan bersama
daripada kepentingan pribadi dan golongan. Berbicara mengenai etika berpolitik
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita harus mengakui bahwa saat ini
banyak kalangan elite politik cenderung berpolitik dengan melalaikan etika
kenegaraan.

Politik bukanlah semata-mata
perkara yang pragmatis sifatnya, yang hanya menyangkut suatu tujuan dan cara
mencapai tujuan tersebut, yang dapat ditangani dengan memakai rasionalitas.
Politik lebih mirip suatu etika yang menuntut agar suatu tujuan yang dipilih
harus dapat dibenarkan oleh akal sehat yang dapat diuji, dan cara yang
ditetapkan untuk mencapainya haruslah dapat dites dengan kriteria moral
(Dwihantoro, 2013:13).

Salah satu contoh penerapan
dari etika politik adalah kegiatan pemilu (pemilihan umum) baik pilkada maupun
pilpres, karena terdapat keterkaitan antara etika dan moral bagi anggota KPU
maupun dari masyarakat dalam menyikapi adanya pemilihan umum tersebut. Sehingga
penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengertian etika dan moral,
pengertian pemilu, sosialisasi pemilu kepada masyarakat dan bagaimana etika
masyarakat yang tidak menyampaikan suaranya (golput) saat pemilu.
TINJAUAN PUSTAKA
Etika Politik
Menurut Dwihantoro (2013:13)
Etika politik adalah salah satu sarana yang diharapkan bisa menghasilkan
suasana harmonis antar pelaku dan antar kekuatan sosial politik serta antar
kelompok kepentingan lainnya untuk mencapai sebesar-besar kemajuan bangsa dan negara
dengan mendahulukan kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi dan
golongan. Pokok-pokok etika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
mengedepankan kejujuran, amanah, keteladanan, sportifitas, disiplin, etos
kerja, kemandirian, sikap toleransi, rasa malu, tanggung jawab, menjaga
kehormatan serta martabat diri sebagai warga bangsa. Berbicara mengenai etika berpolitik
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita harus mengakui bahwa saat ini
banyak kalangan elite politik cenderung berpolitik dengan melalaikan etika
kenegarawanan. Banyak sekali kenyataan bahwa mereka berpolitik dilakukan tanpa
rasionalitas, mengedepankan emosi dan kepentingan kelompok, serta tidak
mengutamakan kepentingan berbangsa.
Tujuan
Etika Politik
Etika politik memang
mempunyai tujuan kepada setiap pejabat dan elite politik untuk bersikap jujur,
amanah, sportif, siap melayani, berjiwa besar, memiliki keteladanan, rendah
hati, dan siap untuk mundur dari jabatan publik apabila terbukti melakukan
kesalahan dan secara moral kebijakannya bertentangan dengan hukum dan rasa keadilan
masyarakat. Etika ini diwujudkan dalam bentuk sikap yang bertata karma dalam
perilaku politik yang toleran, tidak berpura-pura, tidak arogan, jauh dari
sikap munafik serta tidak melakukan kebohongan publik, tidak manipulatif dan
berbagai tindakan yang tidak terpuji lainnya. 

Etika politik harus menjadi
pedoman utama dengan politik santun, cerdas, dan menempatkan bangsa dan negara
di atas kepentingan partai dan golongan. Politik bukanlah semata-mata perkara
yang pragmatis sifatnya, yang hanya menyangkut suatu tujuan dan cara mencapai
tujuan tersebut, yang dapat ditangani dengan memakai rasionalitas. Memang politik
itu lebih cenderung kepada suatu etika yang menuntut agar suatu tujuan yang
dipilih harus dapat dibenarkan oleh akal fikiran yang dapat diuji, dan cara
yang ditetapkan untuk mencapainya haruslah dapat diuji dengan kriteria moral.
(Dwihantoro, 2013:13).
Pemilihan
Umum (Pemilu)
Menurut Gaffar
(2012:5) pemilu adalah sarana utama mewujudkan demokrasi dalam suatu negara.
Substansi pemilu adalah penyampaian suara rakyat untuk membentuk lembaga
perwakilan dan pemerintahan sebagai penyelenggara negara. Suara rakyat
diwujudkan dalam bentuk hak pilih, yaitu hak untuk memilih wakil dari berbagai
calon yang ada. Sedangkan menurut Efriza (2012:355) pemilu merupakan cara yang
terkuat bagi rakyat untuk berpartisipasi didalam sistem demokrasi perwakilan
modern.
Golongan
Putih (Golput)
          Menurut
Soebagio (2008: 2) Golput adalah pilihan tidak memilih sebagai bentuk akumulasi
rasa jenuh (apatis) masyarakat yang nyaris setiap tahun mengalami pemilihan
kepala daerah, golput juga sebagai reaksi atau protes atas pemerintahan dan
partai-partai politik yang tidak menghiraukan suara rakyat, perlawanan terhadap
belum membaiknya taraf kehidupan masyarakat baik secara ekonomi, politik, hokum
dan budaya. Golput merupakan respon atas ketidakmampuan partai atau penguasa
dalam menjalankan fungsinya sebagai wakil rakyat yang telah menerima mandat.

Jika pada awalnya golput
hanya sebagai gerokan moral atas suatu keprihatinan, maka gerakan golput pada
pemilu-pemilu berikutnya lebih dari sikap kekecewaan. Karena segala kekuatan
partai dan lembaga Negara dijadikan tameng kekuasaan semata. Para elit politik
hanya menjadi corong penguasa. Pada era ini golput menjadi bentuk kekecewaan
dan perlawanan, karena rakyat tidak cukup berani melawan dalam bentuk revolusi
pemerintahan

METODE PENELITIAN

Lokasi Dan Waktu Penelitian
          Lokasi
dalam penelitian ini di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Masyarakat
Sekitar. Kegiatan penelitian dilakukan pada bulan maret 2018.
Sampel Penelitian
        Sampel
penelitian diambil dari Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Kantor KPU
Surakarta dan secara acak di masyarakat sekitar.

         Teknik
penarikan sampel menggunakan taknik sampling jenuh. Sehingga sampel yang diambil
acak sudah mewakilkan sebagian besar dari populasi.
Jenis Dan Sumber Data
          Dalam
kegiatan penelitian ini, digunakan dua sumber data yang relevan dan lengkap,
antara lain :
1. Data
Primer, melakukan wawancara terstruktur dengan Ketua KPU Surakarta dan beberapa
masyarakat sekitar yang menjadi sampel. Pertanyaan yang diajukan tentang etika
politik dalam pemilu (pemilihan umum).

2.   Data
Sekunder dengan kajian pustaka antara lain referensi buku-buku yang berkaitan
dengan etika politik, tujuan etika politik, pemilu (pemilihan umum), golput
(golongan putih), dan juga sumber lain berupa artikel jurnal dan sebagainya.
Teknik Pengumpulan Data
         Pengumpulan
data dengan melakukan studi pustaka, observasi, dan wawancara kepada responden
yaitu Ketua KPU Surakarta dan beberapa masyarakat sekitar.
Teknik
Analisis Data
      Analisis
data dalam penelitian ini dengan analisis kualitatif secara deskriptif. Jadi
membuat uraian dari informasi yang diperoleh dengan bahasa kualitatif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Daftar
Pertanyaan Wawancara
1.   Apa yang
anda ketahui tentang etika dan moral ?
2.   Apa
yang anda ketahui tentang pemilu ?
3.   Apakah
sosialisasi mengenais pilkada sudah sampai kepada masyarakat ?
4.   Apa
yang anda ketahui tentang Golput (Golongan Putih) ?
Hasil Wawancara
Tabel
1. Daftar Pertanyaan dan Hasil 
Wawancara.
No
Nama
Responden
Jawaban
No. 1,2,3 dan 4.
1
Agus Sulistyo, S.E, M.M
(Selaku Ketua KPU
Surakarta)
a.   Etika
adalah sebuah sikap cara bertindak yang terkait dengan bagaimana kita
bersikap dan bertindak berbicara berkenaan dengan yang kita lakukan
sehari-hari.


b.   Moral adalah landasan dari etik, jadi ketika berbicara
persoalan etika berarti landasannya moral.


Pemilu
itu tidak hanya sekedar mencoblos lalu selesai, tetapi pemilu itu ada
keterkaitan dengan suara yang diberikan, dan yang akan dirasakan atau
dinikmati masyarakat kedepannya.


Sosialisasi
sudah banyak disampaikan ke masyarakat baik melalui mmt, poster, internet.


Kalau
UU itu mewajibkan pemilu itu wajib, bagi yang tidak melaksanakan kewajiban
itu maka akan dikenai sanksi seperti di Australia. Kalau kita di Indonesia
itu ada hak pilih, jadi apabila tidak memilih ya itu hak masyarakat.


2
Yuni Wulandari (Pedagang)
Etika
& Moral adalah tingkah laku menurut tatanan. Jadi perbuatan baik di
Masyarakat dan di lingkup keluarga.


Kita menentukan pilihan untuk
untuk memilih gubernur dan walikota atau presiden.


Sudah sampai kepada masyrakat
lewat surat kabar, televise, radio, tapi belum menyeluruh


Menurut saya bukan solusi yang
tepat,karena pilkada menetukan pilihan kita untuk menentukan pemimpin yang
bias membawa Negara kita menjadi lebih baik dan membuat masyarakat makmur dan
sejahtera.


3
Sandi H (Pegawai)
a.   Moral
adalah sesuatu yang bisa dinilai.
b.   Etika
adalah nilai yang sudah ditetapkan.


Suatu Pemilihan Jabatan

Sudah sampai ke masyarakat.

Menurut saya tidak tepat,karena
tidak melakukan tugasnya sebagai warga Negara.


4
Daniel A W
(Mahasiswa)
a.   Etika
adalah yang berhubungan dengan perbuatan manusia & yang dikatakan baik
ataupun buruk, pola tingkah laku dan lain-lain.


b.   Moral
adalah menyangkut budi pekerti manusia yang beradap.


Memilih orang untuk jabatan
politisi tertentu.


Sebagian Sudah sampai ke
masyarakat.


Bagi saya, orang  itu tidak mau berpartisipasi untuk kemajuan
Negara ini.


Pembahasan
Pertanyaan
No. 1
1.   Etika
adalah sebuah sikap cara bertindak yang terkait dengan bagaimana kita bersikap
dan bertindak berbicara berkenaan dengan yang kita lakukan sehari-hari,
sedangkan moral
adalah landasan
dari etik, jadi ketika berbicara persoalan etika berarti landasannya adalah moral.

2. Merupakan
tingkah laku menurut tatanan. Jadi perbuatan baik di Masyarakat dan di lingkup
keluarga.

3.  Moral
adalah sesuatu yang bisa dinilai. Etika adalah nilai yang sudah ditetapkan.

4. Etika
adalah yang berhubungan dengan perbuatan manusia & yang dikatakan baik
ataupun buruk, pola tingkah laku dan lain-lain. Sedangkan moral adalah
menyangkut budi pekerti manusia yang beradap.
Pertanyaan
No. 2
1.   Pemilu
itu tidak hanya sekedar mencoblos lalu selesai, tetapi pemilu itu ada keterkaitan
dengan suara yang diberikan dan yang akan dirasakan atau dinikmati masyarakat
kedepannya.

2.  Menentukan pilihan untuk untuk memilih pemimpin daerah
baik itu gubernur atau presiden.

3.   Pemilihan Jabatan pada daerah tertentu.

4.   Menentukan pilihan dan memilih orang untuk jabatan
politisi tertentu.
Pertanyaan
No. 3
1.   Sosialisasi
sudah disampaikan ke masyarakat baik melalui mmt, poster, internet, berita
televise, radio dan lain sebagainya.

2. Sudah sampai kepada masyrakat melalui surat kabar,
televise, radio, walaupun belum menyeluruh ke pelosok masyarakat.

3.  Sudah tersalurkan ke masyarakat walau belum menyeluruh
dikarenakan banyak kendala dalam penyampaian.

4.   Sebagian sampai ke masyarakat walaupun belum
mengetahui secara detail calon pemimpinnya.
Pertanyaan
No. 4
1.   Golput
bukanlah solusi yang tepat saat terlaksananya pemilu, karena satu suara sangat
penting demi terpilihnya pemimpin yang lebih baik demi kemajuan bangsa dan
Negara.

2.   Golput bukan solusi yang tepat, karena pemilu
menetukan pilihan kita untuk menentukan pemimpin yang bisa membawa negara kita
menjadi lebih baik dan membuat masyarakat makmur dan sejahtera.

3. Golput tidak tepat bagi masyarakat, karena tidak
melakukan tugasnya sebagai warga Negara.

4.  Orang  itu tidak
mau berpartisipasi untuk kemajuan negara ini jika tidak menyampaikan suaranya
dalam pemilihan umum.
KESIMPULAN
1.   Etika
adalah sebuah sikap cara bertindak yang terkait dengan bagaimana kita bersikap
dan bertindak berbicara berkenaan dengan yang kita lakukan sehari-hari,
sedangkan moral
adalah landasan
dari etik, jadi ketika berbicara persoalan etika berarti landasannya moral.

2. Penerapan
etika dan moral di bidang politik salah satunya saat pelaksanaan pemilihan umum,
baik itu pemilihan kepala daerah maupun pemilihan presiden.

3.   Sosialisasi
kepada masyarakat sudah tersalurkan walaupun masih belum menyeluruh ke pelosok
daerah tertentu.  

4. Golongan
putih (Golput) merupakan sebuah gerakan moral bentuk partisipasi masyarakat
yang tidak memberikan suaranya dikarenakan atas keprihatinan akan terpilihnya
pemimpin yang baru.  
DAFTAR PUSTAKA
Dwihantoro, Prihatin. 2013. Etika Dan Kejujuran Dalam
Berpolitik. Jurnal Politika, Vol. 4, No. 2, Hal:13.
Efriza, 2012. Political Explore: sebuah kajian ilmu
politik. Bandung: Alfabeta, cv
Gaffar, M. Janedjri. 2012. Politik Hukum Pemilu. Jakarta:
Konstitusi Pers.
Soebagio, 2008. Implikasi Golongan Putih Terhadap
Pembangunan Demokratisasi di Indonesia, dalam Jurnal Makara: Sosial Humaniora,
Vol 12 No 2.

Artikel lain :
Tags

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!